Target Holding Maskapai BUMN Garuda Indonesia Rampung Kuartal I/2026
- Jumat, 13 Februari 2026
JAKARTA - Industri penerbangan nasional sedang bersiap menghadapi babak baru dalam penataan struktur bisnisnya. Danantara Indonesia secara resmi menargetkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) untuk bertransformasi menjadi induk holding maskapai BUMN pada kuartal pertama tahun 2026. Langkah strategis ini dirancang untuk menyatukan kekuatan tiga maskapai pelat merah, yakni Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, dan Pelita Air Service, ke dalam satu ekosistem yang lebih solid dan terorganisir.
Transformasi Ekosistem Maskapai Tanpa InJourney
Salah satu poin paling krusial dalam aksi korporasi ini adalah penegasan posisi Garuda Indonesia di luar struktur Holding BUMN Spesialis Aviasi dan Pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney. Dengan menjadi induk holding tersendiri di bawah naungan Danantara, GIAA akan memiliki fokus yang lebih spesifik dalam mengelola bisnis penerbangan nasional dari berbagai segmen pasar.
Baca JugaDanantara Konsolidasikan Galangan Kapal Di Bawah PT PAL Dukung Program Kampung Nelayan
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memberikan sinyal positif terkait progres transisi ini. Menurutnya, proses perpindahan struktur GIAA menuju holding baru berjalan dengan sangat cepat dan progresif. Hal ini menandakan kesiapan operasional dan administratif yang kuat dari pihak-pihak terkait untuk mengejar target yang telah ditetapkan.
“Garuda di kuartal pertama ini sudah pindah, cepat mereka. Iya, Garuda Indonesia induk, [di bawahnya] ada Citilink, ada Pelita,” ungkap Dony saat memberikan keterangan di Jakarta, Selasa malam. Pernyataan ini sekaligus memperjelas hierarki baru yang akan terbentuk, di mana Citilink dan Pelita Air akan beroperasi sebagai anak perusahaan di bawah payung besar Garuda Indonesia.
Strategi Mengakhiri Persaingan Internal dan Kanibalisasi Pasar
Di balik penggabungan ini, terdapat misi besar untuk melakukan transformasi pada ekosistem maskapai nasional. Danantara melihat pentingnya menyatukan berbagai kekuatan maskapai pelat merah agar tidak terjadi tumpang tindih pasar yang merugikan. Managing Director Danantara, Febriany Eddy, sebelumnya telah menekankan bahwa konsolidasi ini bertujuan utama untuk menciptakan pasar yang lebih sehat bagi BUMN.
Febriany menyoroti fenomena kompetisi internal atau aksi saling 'kanibal' pasar yang selama ini terjadi antar maskapai milik negara. Dengan adanya satu induk holding, pembagian segmen konsumen akan dipertegas dan dipertajam. Garuda Indonesia akan tetap diposisikan sebagai maskapai layanan penuh (full service), sementara Citilink dan Pelita Air akan dioptimalkan pada segmen yang berbeda sesuai karakteristiknya.
“Yang jelas bagian dari streamline dan konsolidasi adalah menghapus internal competition dan saling kanibal itu. Jadi segmen mesti jelas,” tegas Febriany. Harapannya, efisiensi ini tidak hanya menguntungkan perusahaan secara finansial, tetapi juga memberikan pilihan layanan yang lebih jelas bagi masyarakat luas.
Pengawasan Ketat Terhadap Penyehatan Keuangan Garuda
Langkah konsolidasi ini bukannya tanpa kekhawatiran dari pelaku pasar. Banyak pihak menyoroti kondisi keuangan Garuda Indonesia yang masih dalam tahap pemulihan, serta potensi beban yang mungkin ditimbulkan terhadap anggota holding lainnya jika integrasi dilakukan terlalu dini. Menanggapi hal tersebut, Danantara memastikan bahwa proses transformasi dan penyehatan finansial GIAA akan diawasi secara ketat.
Dony Oskaria menegaskan bahwa pemisahan antara beban masa lalu dengan strategi bisnis masa depan adalah kunci keberhasilan integrasi ini. Monitoring berkelanjutan dilakukan agar integrasi berjalan optimal tanpa mengorbankan stabilitas perusahaan yang bergabung di dalamnya.
“Masalah ketakutan masyarakat bahwa ini nanti jadi problem kalau bergabung, kan itu kami akan perbaiki kan? Pasti kita harus monitor juga proses transformasi daripada Garuda Indonesia, ini nantinya lebih bagus,” ucap Dony meyakinkan. Hal ini menunjukkan komitmen Badan Pengaturan BUMN untuk tidak sekadar menggabungkan aset, tetapi juga memperbaiki kualitas fundamental perusahaan induknya.
Kajian Mendalam Bersama Pemegang Saham Terkait
Dari sisi manajemen Garuda Indonesia, langkah ini sedang disikapi dengan persiapan teknis yang sangat hati-hati. Mengingat Pelita Air Service saat ini berada di bawah kendali PT Pertamina (Persero), proses integrasi membutuhkan koordinasi lintas sektor yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.
Vice President Director Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyatakan bahwa perusahaan masih melakukan kajian komprehensif terkait berbagai skema merger dan integrasi yang paling menguntungkan bagi semua pihak. Pembicaraan intensif terus dilakukan baik dengan Danantara maupun Pertamina untuk merumuskan detail teknis yang paling tepat.
“Ya, itu adalah satu yang kita masih dalam tahap pembicaraan dengan pemegang sahamnya, yaitu Danantara, dan juga dengan Pertamina,” jelas Thomas Sugiarto Oentoro. Hingga saat ini, manajemen masih belum memberikan detail spesifik mengenai skema finalnya, namun memastikan bahwa komunikasi terus berjalan untuk mendapatkan hasil terbaik sebelum dipublikasikan kepada khalayak.
Harapan Baru Industri Penerbangan Nasional
Jika target kuartal I/2026 ini tercapai, Indonesia akan memiliki kekuatan maskapai nasional yang jauh lebih efisien dan kompetitif secara global. Penyatuan manajemen di bawah holding Garuda Indonesia diharapkan mampu menciptakan skala ekonomi yang lebih besar, mulai dari pengadaan suku cadang, perawatan pesawat (maintenance), hingga efisiensi rute penerbangan.
Optimalisasi armada dari ketiga maskapai ini (Garuda, Citilink, dan Pelita) akan memberikan fleksibilitas tinggi dalam melayani konektivitas domestik dan internasional. Langkah strategis Danantara ini dipandang sebagai upaya besar pemerintah untuk mengembalikan kejayaan industri kedirgantaraan nasional di bawah struktur manajemen yang lebih modern dan ramping.
Pembentukan holding ini juga menjadi ujian bagi Garuda Indonesia untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjadi nahkoda bagi maskapai pelat merah lainnya, sambil terus memperbaiki kinerja keuangannya sendiri. Dengan pengawasan dari badan sebesar Danantara, publik menaruh harapan besar agar sinergi ini menjadi solusi jangka panjang bagi tantangan transportasi udara di tanah air.
David
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Polres Rohil Cek Harga Sembako di Pasar Jelang Ramadan 2026: Stok Aman, Harga Terkendali
- Jumat, 13 Februari 2026
Diskopindag Kota Malang: Harga Sembako Menjelang Ramadan 2026 Terus Dipantau Intensif
- Jumat, 13 Februari 2026
UMKM Indonesia Tembus Pasar Eropa Melalui Strategi Marketing Handholding
- Jumat, 13 Februari 2026
Panduan Lengkap: Cara Cek Desil Bansos Online Terbaru dan Mudah 2026
- Jumat, 13 Februari 2026
Harga Emas Antam Anjlok Rp43.000 Menjadi Rp2,904 Juta Per Gram pada Jumat Pagi
- Jumat, 13 Februari 2026
Berita Lainnya
Pelni Batam Tambahkan KM Nggapulu Perkuat Armada Angkutan Lebaran Tahun 2026
- Jumat, 13 Februari 2026
Pelni Siap Sukseskan Program Stimulus Ekonomi Diskon Tiket Hingga 30 Persen
- Jumat, 13 Februari 2026
PLN Perkuat Infrastruktur Listrik Dukung Pertumbuhan Investasi KEK Bitung
- Jumat, 13 Februari 2026
GDPS Targetkan Pendapatan Rp500 Miliar Lewat Penempatan Tenaga Kerja Global
- Jumat, 13 Februari 2026












