Kamis, 05 Februari 2026

Kapitalisasi Aset Kripto Susut Triliunan Bitcoin Cs Ditekan Keraguan Emas Digital

Kapitalisasi Aset Kripto Susut Triliunan Bitcoin Cs Ditekan Keraguan Emas Digital
Kapitalisasi Aset Kripto Susut Triliunan Bitcoin Cs Ditekan Keraguan Emas Digital

JAKARTA - Tekanan jual kembali mendominasi pasar aset kripto dalam sepekan terakhir dan berdampak signifikan terhadap nilai kapitalisasi pasar global. 

Penurunan ini terjadi seiring melemahnya harga Bitcoin yang memicu aksi jual lanjutan pada aset kripto lainnya. Kondisi tersebut menandai fase koreksi yang cukup dalam dan menimbulkan kembali keraguan terhadap peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak ekonomi global.

Berdasarkan data CoinGecko, total kapitalisasi pasar kripto tercatat menyusut tajam sejak 29 Januari 2026. Dalam periode kurang dari sepekan, nilai pasar aset digital global menguap sebesar US$467,6 miliar atau setara Rp2.857 triliun. Penurunan ini mencerminkan derasnya arus keluar dana investor yang memilih bersikap defensif di tengah ketidakpastian pasar.

Baca Juga

FEB Unisma Gandeng TIU Jepang Adopsi Kurikulum Bisnis Standar Global

Tekanan Jual Dipimpin Bitcoin

Bitcoin menjadi pemicu utama koreksi pasar kripto kali ini. Aset kripto dengan kapitalisasi terbesar tersebut tertekan hingga menyentuh level terendah dalam 15 bulan terakhir. Pada perdagangan di Amerika Serikat, Bitcoin sempat turun ke kisaran US$72.877, level terendah sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump memenangkan pemilihan kembali pada awal November 2024. Padahal, momen tersebut sebelumnya sempat memicu ekspektasi kebijakan pemerintah AS yang lebih ramah terhadap aset kripto.

Sempat terjadi pemulihan terbatas ketika Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$74.800 pada Rabu malam waktu Indonesia atau pukul 10.13 pagi waktu New York. Namun, tekanan kembali meningkat pada Kamis, 5 Februari 2026. Pada perdagangan hari ini, Bitcoin anjlok lebih dalam ke level US$72.323,04 per keping atau melemah 0,43% dibandingkan penutupan sebelumnya, setara penurunan US$304,09 per keping.

Penurunan Tajam Sejak Rekor Tertinggi

Koreksi yang terjadi saat ini memperpanjang tren penurunan Bitcoin sejak mencapai rekor tertinggi pada awal Oktober. Secara keseluruhan, harga Bitcoin tercatat telah merosot sekitar 40% dari puncaknya. Penurunan tajam tersebut dipicu oleh rangkaian likuidasi besar yang terjadi pada 10 Oktober lalu, yang menghapus posisi token senilai sekitar US$19 miliar dalam waktu singkat.

Kepala analis pasar FxPro Alex Kuptsikevich menilai struktur pergerakan harga masih mencerminkan dominasi tekanan jual. “Meskipun terjadi sedikit pemulihan sejak awal hari Rabu, rangkaian titik tertinggi dan terendah lokal yang lebih rendah menunjukkan bahwa aksi jual saat harga naik masih dominan di pasar,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya pulih.

Likuidasi Dan Arus Dana Institusional

Tekanan di pasar kripto semakin diperparah oleh tingginya likuidasi di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, likuidasi posisi bullish dan bearish di pasar perpetual futures kripto tercatat melampaui US$700 juta. Secara kumulatif, nilai likuidasi sejak 29 Januari telah mencapai lebih dari US$6,67 miliar, berdasarkan data CoinGlass.

Selain itu, arus dana pada ETF Bitcoin yang terdaftar di Amerika Serikat juga menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah mencatat arus masuk bersih sekitar US$562 juta pada Senin, investor justru menarik dana sekitar US$272 juta pada Selasa. Pergerakan dana yang fluktuatif ini mencerminkan perubahan sikap investor institusional yang semakin berhati-hati terhadap prospek jangka pendek pasar kripto.

Narasi Emas Digital Kembali Dipertanyakan

Di tengah tekanan pasar global, narasi Bitcoin sebagai ‘emas digital’ kembali diragukan. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor global beralih ke aset aman seperti emas dan perak. Logam mulia tersebut kembali menemukan pembeli setelah sempat melemah, sementara aset kripto justru gagal menarik minat sebagai instrumen lindung nilai.

Investor Michael Burry menilai Bitcoin belum menunjukkan karakter sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurutnya, pergerakan harga Bitcoin justru memperlihatkan sifat spekulatif yang tinggi, sejalan dengan pergerakan saham berisiko. Pandangan ini memperkuat keraguan pasar terhadap fungsi kripto sebagai pelindung nilai saat gejolak meningkat.

Pandangan Analis Dan Prospek Pasar

Analis Deutsche Bank dalam laporannya menyebut bahwa pergerakan harga terbaru menandai berakhirnya fase spekulatif ekstrem di pasar kripto. Bank tersebut menilai aksi jual besar-besaran yang terjadi mencerminkan kombinasi berbagai faktor, mulai dari sikap hawkish bank sentral AS, arus keluar dana institusional, menipisnya likuiditas, hingga melambatnya momentum regulasi.

Sementara itu, CEO Galaxy Digital LP Michael Novogratz menilai perubahan sentimen investor turut berperan besar dalam tekanan pasar. Ia menyebut keyakinan untuk terus memegang Bitcoin dalam segala kondisi mulai melemah. Kondisi tersebut kemudian memicu aksi jual lanjutan, terutama dari investor yang sebelumnya mengandalkan narasi jangka panjang Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

Dengan tekanan yang masih mendominasi dan sentimen global yang belum kondusif, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat. Investor pun dihadapkan pada tantangan untuk menilai kembali peran aset digital dalam portofolio, seiring meningkatnya keraguan terhadap status Bitcoin sebagai emas digital di tengah ketidakpastian global.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Dinamika Logam Mulia: Harga Emas Antam Melandai Pasca-Lonjakan Ekstrem

Dinamika Logam Mulia: Harga Emas Antam Melandai Pasca-Lonjakan Ekstrem

Emas Kembali Berkilau: Menembus Level Psikologis US$5.000 di Tengah Gejolak Global

Emas Kembali Berkilau: Menembus Level Psikologis US$5.000 di Tengah Gejolak Global

Benteng Perlindungan Sawah Sulteng: Menangkal Risiko Gagal Panen di Tengah Anomali Cuaca

Benteng Perlindungan Sawah Sulteng: Menangkal Risiko Gagal Panen di Tengah Anomali Cuaca

Strategi Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Perumahan Demi Target KPR 2026

Strategi Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Perumahan Demi Target KPR 2026

Komitmen Kuat BRI Targetkan Penyaluran 60.000 Unit KPR Subsidi Tahun 2026

Komitmen Kuat BRI Targetkan Penyaluran 60.000 Unit KPR Subsidi Tahun 2026