Kamis, 02 April 2026

Badai di Bursa: Komitmen Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Pasar Modal Pasca-Guncangan Sektor Keuangan

Badai di Bursa: Komitmen Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Pasar Modal Pasca-Guncangan Sektor Keuangan
Badai di Bursa: Komitmen Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Pasar Modal Pasca-Guncangan Sektor Keuangan

JAKARTA - Pasar modal Indonesia tengah berada dalam masa ujian yang cukup berat di awal Februari 2026. Situasi "lebam" yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu memicu efek domino yang tidak terduga, mulai dari anjloknya nilai saham hingga mundurnya sejumlah petinggi otoritas keuangan negara.

Kini, publik menanti sejauh mana efektivitas strategi pemerintah dalam menenangkan kegelisahan investor dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kronologi Guncangan di Jantung Keuangan RI

Baca Juga

Cara Bayar PDAM Lewat BRImo dengan Praktis, Anti Ribet!

Pekan terakhir Januari menjadi periode yang sangat fluktuatif bagi Bursa Efek Indonesia (BEI). Rentetan peristiwa ini dimulai dari anjloknya IHSG pada Rabu (28/1), yang kemudian diikuti oleh gelombang pengunduran diri para pejabat teras:

Iman Rachman: Mundur dari jabatan Direktur Utama BEI pada Jumat (30/1).

Petinggi OJK: Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar bersama jajaran Wakil Ketua dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal turut meletakkan jabatan.

Fenomena mundurnya para nakhoda di tengah badai pasar ini sempat memicu kekhawatiran terkait fundamental kepercayaan investor di tanah air.

Langkah Taktis Pemerintah: Jangan Panik!

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan, meminta para pelaku pasar untuk tetap tenang. Ia menegaskan bahwa volatilitas yang terjadi merupakan mekanisme pasar jangka pendek yang wajar dan tidak mengubah fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid.

Guna memberikan perlindungan lebih kuat bagi investor, Luhut memaparkan tiga strategi utama yang tengah disiapkan pemerintah:

Transparansi Pemilik Manfaat (UBO): Memperkuat kewajiban pengungkapan Ultimate Beneficial Owner bagi emiten utama.

Likuiditas Saham: Mendorong peningkatan free float (saham beredar di publik) pada emiten agar pasar lebih dinamis.

Reformasi Tata Kelola: Mempercepat proses demutualisasi BEI untuk meminimalkan benturan kepentingan serta memperkuat sistem tata kelola bursa.

Stimulus Investasi dan Dukungan Istana

Pemerintah juga berencana memberikan "napas" baru bagi pasar dengan mengizinkan dana pensiun (dapen) dan perusahaan asuransi untuk meningkatkan batas atas investasi saham mereka hingga 20%. Langkah ini diharapkan dapat menyuntikkan likuiditas besar ke dalam bursa.

Dari sisi kepemimpinan nasional, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mendukung perbaikan iklim investasi. Melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, disampaikan bahwa pemerintah akan berdiri teguh dalam mendorong pengelolaan pasar keuangan yang transparan dan berdaya saing global.

Regan

Regan

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Global

Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Global

Bursa Asia Bangkit Dipicu Harapan Damai Iran Amerika Serikat dan Israel

Bursa Asia Bangkit Dipicu Harapan Damai Iran Amerika Serikat dan Israel

Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global

Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global

Saldo Minimum Bank Mandiri BRI BNI Terbaru April 2026 Lengkap Terbaru

Saldo Minimum Bank Mandiri BRI BNI Terbaru April 2026 Lengkap Terbaru

BRImo Kian Ramah Pengguna Permudah Transaksi Digital Masyarakat Indonesia Masa Kini

BRImo Kian Ramah Pengguna Permudah Transaksi Digital Masyarakat Indonesia Masa Kini