Belajar dari Sejarah saat Arsenal Berpeluang Juara Liga Inggris: Hati-hati Terpeleset Lagi
- Kamis, 29 Januari 2026
JAKARTA - Musim masih panjang, tetapi kegelisahan sudah lebih dulu menyelimuti sebagian pendukung Arsenal.
Kekalahan dari Manchester United di Emirates Stadium, Minggu (25 Januari 2026), bukan sekadar hasil buruk biasa. Itu adalah kekalahan ketiga beruntun tanpa kemenangan di Premier League, sinyal peringatan yang tak bisa diabaikan dalam persaingan gelar Liga Inggris.
Keunggulan tujuh poin yang sebelumnya terasa nyaman kini terpangkas menjadi empat poin. Di era sepak bola modern, selisih seperti itu bisa lenyap hanya dalam hitungan pekan. Situasi ini memunculkan kembali trauma lama di benak para Gooners: apakah Arsenal akan kembali terpeleset saat peluang juara terbuka lebar?
Baca JugaDinamika Internal Real Madrid: Isu Konflik Mencuat Akibat Eksperimen Taktik Arbeloa
Posisi Masih Ideal, Tapi Tekanan Meningkat
Secara matematis, Arsenal masih berada di posisi yang sangat menguntungkan. Mereka tetap memimpin klasemen dan nasib gelar ada di tangan sendiri. Namun, momentum adalah mata uang paling berharga dalam perburuan gelar, dan Arsenal sedang kehilangannya.
Kekalahan dari MU terasa menyakitkan karena terjadi di kandang sendiri, di hadapan publik Emirates yang berharap respons positif setelah performa kurang meyakinkan dalam beberapa pekan terakhir. Alih-alih bangkit, Arsenal justru kembali menunjukkan tanda-tanda rapuh, terutama saat berada di bawah tekanan.
Sejarah yang Tak Selalu Bersahabat
Jika menengok ke belakang, sejarah Premier League tidak sepenuhnya ramah kepada Arsenal ketika mereka berada di posisi seperti sekarang.
Arsenal tiga kali memimpin klasemen setelah 23 pertandingan. Hanya satu yang berakhir manis: musim legendaris 2003/2004, ketika skuad Arsène Wenger menorehkan sejarah sebagai The Invincibles, juara tanpa satu pun kekalahan.
Namun dua musim lainnya justru menjadi kisah peringatan.
Trauma Musim 2022/2023: Keunggulan Sirna di Garis Akhir
Musim 2022/2023 menjadi contoh paling segar. Saat itu, Arsenal unggul dua poin setelah 23 pertandingan dan bahkan sempat menjauh hingga delapan poin dari Manchester City setelah 29 laga, meski memainkan satu pertandingan lebih banyak.
Segalanya terlihat berada di jalur yang tepat. Namun, tekanan meningkat, performa menurun, dan Arsenal kehilangan ketenangan di momen krusial. Man City, dengan pengalaman dan mental juara mereka, perlahan menyalip dan akhirnya mengamankan gelar.
Bagi banyak penggemar, musim itu masih menyisakan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Squeaky Bum Time dan Luka Lama 2002/2003
Lebih jauh ke belakang, musim 2002/2003 menjadi contoh klasik bagaimana Arsenal gagal menjaga keunggulan. Saat itu, The Gunners memiliki keunggulan lima poin setelah 23 pertandingan, yang merupakan margin terbesar mereka pada tahap musim tersebut.
Namun istilah legendaris “squeaky bum time”, yang dipopulerkan Sir Alex Ferguson, benar-benar menjadi kenyataan. Tekanan psikologis meningkat, Arsenal mulai tergelincir, dan Manchester United menyalip untuk merebut gelar. Arsenal finis lima poin di belakang, sebuah pembalikan yang menyakitkan.
Perbedaan Musim Ini: Lebih Matang atau Sekadar Ilusi?
Pertanyaan besarnya kini adalah: apakah Arsenal musim 2025/2026 sudah belajar dari masa lalu?
Skuad Mikel Arteta saat ini memang terlihat lebih dalam dan berpengalaman. Kehadiran pemain-pemain matang di ruang ganti, ditambah pengalaman pahit dalam beberapa musim terakhir, seharusnya menjadi modal berharga.
Namun, tanda-tanda bahaya tetap terlihat. Ketika tekanan meningkat, Arsenal kembali menunjukkan inkonsistensi. Kesulitan mencetak gol, kesalahan individu, dan ketidakmampuan mengontrol tempo laga menjadi masalah yang mulai berulang.
Liga Inggris Tak Pernah Menunggu
Premier League adalah liga yang kejam. Tidak ada waktu untuk meratapi hasil buruk. Setiap pekan menghadirkan tantangan baru, dan setiap kesalahan kecil bisa berujung kehilangan poin yang sangat mahal.
Para pesaing Arsenal, terutama tim-tim yang terbiasa berada dalam perburuan gelar, tahu betul cara memanfaatkan keraguan sekecil apa pun. Empat poin bukanlah jarak aman, apalagi ketika tekanan mental mulai menumpuk.
Peringatan Dini untuk The Gunners
Musim ini belum ditentukan pada akhir Januari. Namun sejarah sudah cukup lantang berbicara: memimpin klasemen bukan jaminan juara bagi Arsenal.
Jika ingin benar-benar mengakhiri penantian panjang dan keluar dari bayang-bayang masa lalu, Arsenal harus:
Menjaga konsistensi hasil
Menunjukkan mental juara di laga-laga sulit
Belajar mengelola tekanan, bukan menghindarinya
Karena jika tidak, sejarah bisa saja terulang. Dan bagi Arsenal, terpeleset sekali lagi di momen krusial akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
Regan
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Dinamika Sembako Kehidupan: Ramalan Zodiak Hari Ini Fokus Evaluasi Rencana
- Kamis, 05 Februari 2026
Dinamika Internal Real Madrid: Isu Konflik Mencuat Akibat Eksperimen Taktik Arbeloa
- Kamis, 05 Februari 2026
IFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
Mencari Pelabuhan Baru: 8 Destinasi Potensial Cristiano Ronaldo Jika Tinggalkan Al Nassr
- Kamis, 05 Februari 2026
Gejolak di Riyadh: Cristiano Ronaldo Pertimbangkan Hijrah ke Amerika Serikat Menyusul Messi
- Kamis, 05 Februari 2026
Peluang Bisnis Ramadhan: 7 Inspirasi Jualan Takjil Sehat yang Disukai Anak-Anak
- Kamis, 05 Februari 2026
Menjelajahi Kuliner Gudeg Autentik di Malang yang Dijamin Bikin Ketagihan
- Kamis, 05 Februari 2026
Menjelajahi Wisata Rasa Kuliner Malam Jogja 2026 yang Viral dan Legendaris
- Kamis, 05 Februari 2026
Terpopuler
1.
Pembukaan Tol Fungsional di Solo-Yogya dan Yogya-Bawen Lebaran 2026
- 05 Februari 2026
2.
3.
Buku Manasik Haji 2026 Kemenhaj Fokuskan Kemudahan untuk Lansia
- 05 Februari 2026
4.
Daftar 20 Kampus Paling Unggul di Asia Edisi TIME-Statista 2026
- 05 Februari 2026
5.
Xiaomi SU7 Geser Dominasi Tesla di Pasar Sedan Listrik China
- 05 Februari 2026












