Panduan Mengonsumsi Obat dan Suplemen Bersama Susu Agar Tetap Aman
- Selasa, 13 Januari 2026
JAKARTA - Susu adalah minuman sehat yang kaya kalsium dan protein.
Meski bermanfaat, susu tidak selalu aman dikonsumsi bersamaan dengan beberapa obat dan suplemen. Interaksi ini dapat mengurangi efektivitas obat atau penyerapan nutrisi penting dalam tubuh.
Penting bagi masyarakat untuk memahami kombinasi yang tepat. Kesalahan konsumsi dapat menyebabkan tubuh tidak menerima manfaat penuh dari suplemen maupun obat. Oleh karena itu, pengaturan waktu konsumsi menjadi kunci agar kesehatan tetap optimal.
Baca JugaAlpukat Jadi Pilihan Buah Untuk Menjaga Kesehatan Jantung Anda
Mekanisme interaksi biasanya terkait kandungan kalsium, protein, dan lemak dalam susu. Nutrisi tersebut dapat mengikat beberapa obat atau suplemen tertentu di lambung. Akibatnya, tubuh hanya menyerap sebagian kecil dari zat yang dikonsumsi.
Zat Besi: Jangan Bersama Susu
Suplemen zat besi sebaiknya dikonsumsi terpisah dari susu. Kalsium dalam susu mengikat zat besi di lambung dan protein kasein dapat menghambat penyerapan. Hal ini berpotensi mengurangi efektivitas zat besi terutama bagi orang dengan anemia.
Untuk penyerapan optimal, zat besi sebaiknya diminum saat perut kosong atau dengan sedikit makanan. Pilihan lain adalah mengonsumsinya bersama vitamin C, misalnya jus jeruk, agar penyerapan meningkat. Penting juga memberi jarak minimal dua jam antara konsumsi zat besi dan susu.
Perhatian khusus perlu bagi mereka yang rutin mengonsumsi suplemen zat besi. Mengatur waktu konsumsi secara tepat akan membantu tubuh menerima manfaat penuh dari suplemen. Hal ini mendukung perbaikan kadar hemoglobin dan kesehatan darah.
Suplemen Seng dan Penyerapan Maksimal
Kalsium juga dapat mengurangi penyerapan seng tertentu. Suplemen seng seperti seng sulfat atau seng glukonat paling terpengaruh. Jika dikonsumsi bersamaan dengan susu, jumlah seng yang terserap tubuh dapat berkurang.
Seng penting untuk fungsi kekebalan tubuh dan penyembuhan luka. Sebaiknya konsumsi seng bersama makanan yang kaya protein atau vitamin C. Hindari mengonsumsinya bersamaan dengan produk susu atau makanan tinggi serat.
Konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan tetap dianjurkan. Terutama jika sedang mengonsumsi obat lain atau memiliki kondisi medis tertentu. Dengan pengaturan waktu yang tepat, suplemen seng dapat memberikan manfaat maksimal.
Magnesium dan Kalsium dalam Susu
Suplemen magnesium biasanya aman dikonsumsi dengan susu, namun perlu diperhatikan. Kalsium dan magnesium bersaing dalam penyerapan di usus. Mengonsumsi magnesium terpisah dari susu dapat meningkatkan efektivitas penyerapan.
Disarankan memberi jarak satu hingga dua jam antara konsumsi magnesium dan produk tinggi kalsium. Hal ini mendukung pemanfaatan nutrisi secara optimal. Magnesium penting untuk fungsi otot, saraf, dan kesehatan tulang.
Meski efek klinis pada orang dewasa sehat belum signifikan, pengaturan konsumsi tetap dianjurkan. Langkah ini mencegah potensi penurunan ketersediaan magnesium. Dengan demikian, manfaat suplemen tetap maksimal.
Obat Tiroid dan Susu
Susu dapat mengurangi penyerapan obat tiroid seperti levotiroksin. Kalsium dan protein dalam susu mengikat obat sehingga lebih sedikit yang terserap tubuh. Efek ini dapat menurunkan kadar hormon tiroid yang tersedia untuk metabolisme.
Cara paling efektif adalah mengonsumsi levotiroksin saat perut kosong. Minumlah dengan air minimal 30 hingga 60 menit sebelum sarapan. Tunggu setidaknya empat jam sebelum mengonsumsi susu atau produk susu lain.
Kepatuhan terhadap jadwal ini sangat penting bagi penderita gangguan tiroid. Mengabaikan waktu konsumsi dapat memengaruhi hasil terapi. Dengan pengaturan tepat, efektivitas obat tiroid tetap optimal.
Antibiotik dan Obat Lain yang Perlu Perhatian
Beberapa antibiotik, terutama tetrasiklin dan fluoroquinolon, sebaiknya tidak dikonsumsi dengan susu. Obat lain yang terpengaruh antara lain propranolol, mercaptopurine, NSAID, digoxin, amiloride, omeprazole, spironolactone, dan ranitidine. Kalsium dalam susu dapat membentuk senyawa yang tidak terserap tubuh.
Penyerapan obat-obatan ini menurun jika dikonsumsi bersamaan dengan susu. Hal ini berpotensi mengurangi efektivitas pengobatan. Sebaiknya minum antibiotik atau obat lain dengan air dan beri jarak tiga jam sebelum atau sesudah susu.
Kepatuhan terhadap panduan ini penting untuk menjaga efektivitas terapi. Perencanaan waktu konsumsi dapat memaksimalkan manfaat obat. Dengan cara ini, tubuh tetap menerima dosis yang diperlukan untuk pengobatan optimal.
Enday Prasetyo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prediksi IHSG Menguat Hari Ini, Simak Rekomendasi Saham Pilihan 13 Januari 2026
- Selasa, 13 Januari 2026
Berita Lainnya
Hangat dan Menggoda, 3 Resep Iga Sapi Lezat dari Sop hingga Asem-asem Wajib di Coba
- Senin, 12 Januari 2026
Asam Lambung Sering Kambuh? Ini 10 Buah Alami yang Ampuh Meredakannya
- Senin, 12 Januari 2026












