Dudung Pastikan Jargas Gresik-Sidoarjo Siap Alir, Pemerintah Kejar 1 Juta Sambungan 2028

Dudung Pastikan Jargas Gresik-Sidoarjo Siap Alir, Pemerintah Kejar 1 Juta Sambungan 2028
Penulis: Kirana Nurjanah
Minggu, 20 September 2026 | 12:06:00 WIB

TEROPONGBISNIS.ID — Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman memastikan pembangunan jaringan gas bumi rumah tangga di Gresik dan Sidoarjo memasuki tahap persiapan pengoperasian. Pemerintah menargetkan 1 juta sambungan jargas hingga 2028 sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor LPG.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman meninjau langsung pembangunan jaringan gas bumi (jargas) rumah tangga di Gresik dan Sidoarjo, Jawa Timur, akhir pekan lalu. Peninjauan dilakukan bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memastikan kesiapan fasilitas yang dibangun menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Dudung menyebut jargas sebagai program prioritas nasional di bidang ketahanan energi. Proyek ini menjadi bagian dari upaya menuju swasembada energi yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto.

"Hari ini kami hadir untuk memastikan kesiapan pengoperasian jargas yang dibangun melalui APBN, sebagaimana arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan swasembada energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG," ungkap Dudung melalui keterangan resmi.

Perizinan Lokasi Berikutnya Diproses Paralel

Pengembangan jargas membutuhkan dukungan lintas kementerian dan lembaga. Dudung menekankan pentingnya penyiapan perizinan untuk lokasi pembangunan berikutnya agar tidak tersendat di tahap awal.

"Dukungan setiap kementerian dan lembaga terkait tetap dibutuhkan agar perizinan pada lokasi berikutnya disiapkan sejak perencanaan dan diproses secara paralel, sehingga impor LPG berkurang dan akses masyarakat terhadap energi semakin mudah," katanya.

Target 1 juta sambungan jargas hingga 2028 menjadi salah satu indikator utama keberhasilan program ini. Pemerintah ingin memperluas akses masyarakat terhadap energi sekaligus menekan volume impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan.

BPH Migas Siapkan Penetapan Harga Jargas

BPH Migas telah menjalankan sejumlah langkah untuk mendukung pemanfaatan jargas di dua wilayah tersebut. Salah satunya melalui forum diskusi terbuka (public hearing) bersama pemangku kepentingan sebagai bagian dari proses penetapan harga.

Anggota Komite BPH Migas Arief Wardon menjelaskan, proses penetapan harga dilanjutkan dengan kunjungan lapangan untuk melihat kesiapan pengaliran serta pemanfaatan jargas oleh masyarakat.

"Kunjungan ke jargas Sidoarjo dan Jargas Gresik dalam rangka persiapan pengaliran. BPH Migas telah melakukan public hearing untuk penetapan harga kedua jargas tersebut. Mudah-mudahan harga jargas tersebut dapat segera ditetapkan dan juga nanti akan dinikmati oleh masyarakat," ujarnya.

Arief menambahkan, BPH Migas memiliki tugas menetapkan harga jargas untuk rumah tangga (RT) dan pelanggan kecil (PK). Penetapan mempertimbangkan nilai keekonomian badan usaha serta daya beli masyarakat.

"Selama ini masyarakat Sidoarjo dan masyarakat Gresik telah mendapat manfaat dari jargas dan juga menikmati dengan harga yang cukup baik dibandingkan penggunaan LPG tiga kilogram," imbuhnya.

33.961 Sambungan di Jawa Timur Sudah Dimanfaatkan

Secara nasional, pembangunan jargas melalui APBN 2025-2026 ditargetkan mencapai 119.379 sambungan rumah (SR) di 15 kabupaten/kota. Di Jawa Timur, sebanyak 33.961 SR telah dimanfaatkan masyarakat.

Rinciannya, 4.000 SR berada di Gresik dan 29.961 SR di Sidoarjo. Kedua wilayah ini menjadi contoh paling matang pemanfaatan jargas rumah tangga di luar jaringan pipa utama.

Bagi masyarakat, jargas menawarkan biaya energi yang lebih murah dibandingkan LPG tiga kilogram. Dari sisi pemerintah, perluasan jaringan ini mengurangi beban subsidi energi dan memperbaiki posisi impor LPG nasional.

Keberhasilan target 1 juta sambungan pada 2028 akan bergantung pada kecepatan perizinan, kesiapan infrastruktur pipa, serta penetapan harga yang disepakati BPH Migas. Pemerintah menempatkan program ini sebagai salah satu pilar utama ketahanan energi dalam beberapa tahun ke depan.

Reporter: Kirana Nurjanah