Rudal Houthi Hantam Riyadh, Penerbangan Bandara King Khalid Terganggu
TEROPONGBISNIS.ID — Kelompok Houthi Yaman menembakkan rudal balistik ke arah Riyadh, menandai serangan pertama yang mencapai ibu kota Arab Saudi. Koalisi pimpinan Saudi mengklaim rudal berhasil dicegat, namun ledakan terdengar warga dan sejumlah penerbangan di Bandara Internasional King Khalid mengalami keterlambatan serta pembatalan.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi mengonfirmasi serangan tersebut pada Sabtu, tak lama setelah rudal ditembakkan saat fajar. Menurut koalisi, sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat rudal yang diarahkan ke Riyadh.
Houthi mengklaim menargetkan sejumlah situs sensitif di Riyadh dan fasilitas perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Aramco, di Yanbu. Klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Ledakan Terdengar, Bandara King Khalid Lumpuh Sementara
Sejumlah warga Riyadh melaporkan mendengar suara ledakan keras pada Sabtu pagi. Tak lama kemudian, kepulan asap terlihat di dekat Bandara Internasional King Khalid.
Situs pelacak penerbangan FlightRadar24 mencatat sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan dan pembatalan. Hingga laporan ini diturunkan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan fisik akibat serangan tersebut.
"Saya mendengar alarm, kemudian jendela rumah saya bergetar," kata seorang warga berusia 27 tahun di Riyadh bagian utara, yang dikutip BBC tanpa disebutkan identitasnya.
"Itu benar-benar menakutkan. Saya tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi," ujarnya menambahkan.
Peringatan Darurat dan Respons Otoritas Saudi
Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengirimkan peringatan melalui telepon pada malam hari, memperingatkan potensi bahaya di Riyadh dan sejumlah wilayah lain. Peringatan tersebut dinyatakan berakhir pada Sabtu pagi.
Serangan ini menjadi yang pertama kali mencapai ibu kota kerajaan, memperluas cakupan pertempuran yang secara tidak langsung merupakan imbas dari perang Iran. Eskalasi ini menandai babak baru konfrontasi antara koalisi Saudi dan Houthi yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Houthi sebelumnya berulang kali meluncurkan rudal dan drone ke arah wilayah Saudi, namun sebagian besar berhasil dicegat sebelum mencapai target strategis. Kali ini, meski koalisi mengklaim intersepsi berhasil, dampak psikologis dan gangguan operasional bandara menunjukkan jangkauan serangan semakin dalam.
Dampak ke Penerbangan dan Keamanan Regional
Gangguan di Bandara Internasional King Khalid berpotensi memengaruhi jadwal penerbangan internasional, termasuk rute dari dan ke Asia Tenggara. Bandara tersebut merupakan salah satu hub utama di Timur Tengah yang melayani puluhan juta penumpang setiap tahun.
Sejumlah maskapai belum memberikan pernyataan resmi mengenai penyesuaian jadwal. Otoritas penerbangan sipil Saudi diharapkan merilis pembaruan terkait status operasional bandara dalam waktu dekat.
Serangan ini juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur penerbangan di kawasan Teluk. Beberapa negara telah memperketat pemantauan terhadap ruang udara di sekitar Semenanjung Arab menyusul eskalasi tersebut.
Posisi Houthi dan Konteks Perang yang Meluas
Houthi dalam pernyataan resminya mengklaim serangan sebagai respons terhadap operasi militer koalisi di Yaman. Kelompok tersebut menyebut target yang dipilih memiliki nilai strategis bagi Arab Saudi.
Koalisi pimpinan Saudi belum memberikan rincian mengenai jenis rudal yang digunakan atau berapa banyak yang ditembakkan. Pihak koalisi juga tidak menyebut apakah ada serangan lanjutan yang dicegah.
Perang di Yaman telah berlangsung sejak 2015, menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. PBB mencatat ratusan ribu orang tewas akibat konflik langsung maupun kelaparan dan penyakit yang menyertainya.
Meluasnya serangan ke Riyadh menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas strategi pertahanan udara Saudi dan kemampuan koalisi menahan eskalasi. Pengamat menilai perkembangan ini dapat mendorong perundingan baru atau justru memperdalam konfrontasi.
Sejumlah pihak internasional mendesak kedua belah pihak menahan diri. Namun hingga kini belum ada sinyal gencatan senjata atau pembukaan jalur diplomasi yang konkret.