TEROPONGBISNIS.ID — Pengguna Home Assistant bisa memangkas jumlah perangkat pintar di meja kerja dengan menggabungkan sensor kehadiran, tombol fisik, dan lampu status ke dalam satu unit berbasis ESP32. Pendekatan ini menjawab masalah umum rumah pintar: terlalu banyak gadget dengan fungsi terpisah. Salah satu proyek bahkan mengubah Bluetooth proxy pasif menjadi panel informasi bermanfaat.
Komunitas Home Assistant kembali menghadirkan sejumlah proyek akhir pekan yang bisa dirakit sendiri. Tiga panduan terbaru menyasar persoalan berbeda, mulai dari meja kerja yang penuh perangkat hingga keinginan memantau durasi duduk terlalu lama. Semuanya memanfaatkan ESP32 sebagai otak kendali.
Menggabungkan Sensor, Tombol, dan Lampu Jadi Satu Unit
Seorang kreator menyadari meja kantornya dipenuhi tiga perangkat terpisah untuk fungsi yang sebenarnya bisa disatukan. Ia pun merancang sebuah unit bernama Scoopy yang menggabungkan sensor kehadiran, dua tombol fisik, dan tiga LED.
Perangkat ini dibangun di atas ESP32 dan berjalan dengan firmware ESPHome. Ukurannya mungil sehingga bisa diletakkan di atas meja atau disembunyikan di bawah meja. Selain memantau kehadiran dan mengendalikan perangkat, Scoopy juga berfungsi sebagai Bluetooth proxy.
Setiap tombol mendukung aksi tekan sekali, tekan dua kali, dan tahan. Kombinasi ini memberi cukup banyak opsi meski perangkatnya kecil. Tingkat kecerahan tiap LED bisa diatur terpisah, lengkap dengan efek untuk menampilkan status berbeda.
Berkas perangkat keras, firmware, dan cetak 3D sudah tersedia di GitHub. Bagi yang tidak ingin merakit sendiri, unit jadi dan papan PCBA bisa dibeli langsung dari situs kreatornya.
Bluetooth Proxy yang Sekaligus Menampilkan Informasi
Mengubah ESP32 menjadi Bluetooth proxy adalah salah satu proyek paling sederhana di ekosistem Home Assistant. Firmware ESPHome siap pakai tinggal di-flash, lalu proxy membantu Home Assistant menjangkau perangkat Bluetooth yang di luar jangkauan.
Pelacakan kehadiran berbasis ruangan lewat aplikasi seperti Bermuda justru bekerja lebih baik dengan banyak proxy yang tersebar di rumah. Masalahnya, menempatkan banyak ESP32 yang hanya bertugas sebagai proxy terasa mubazir.
Seorang pengguna pun menambahkan layar ke ESP32 agar perangkat punya fungsi ganda. Ia memakai panel OLED CH1115 berukuran 1,29 inci dengan resolusi 128×64 yang dipasang di rumah cetak 3D.
Layar itu menampilkan suhu dan kelembapan dari entitas Home Assistant, kekuatan sinyal Wi-Fi, serta status koneksi proxy. Petunjuk lengkap soal komponen, pengkabelan, konfigurasi ESPHome, dan pemasangan tersedia di GitHub pengguna tersebut.
Firmware bawaan tidak wajib dipakai. Pengguna bisa merakit firmware sendiri agar layar menampilkan apa pun sesuai kebutuhan, atau memilih perangkat dan desain rumah yang berbeda.
Meja Berdiri yang Menghitung Sendiri Durasi Duduk
Proyek ketiga menyasar kebiasaan duduk terlalu lama yang berdampak buruk bagi kesehatan. Seorang pengguna Home Assistant menggabungkan meja berdiri yang bisa dikendalikan jarak jauh dengan sensor kehadiran LD2410.
Jika meja berdiri yang dipakai punya port RJ45, ESP32 bisa mengirim sinyal yang relevan ke pengendali meja. Sensor kehadiran kemudian mendeteksi apakah seseorang sedang duduk di kursi atau tidak.
Dari situ Home Assistant bisa melacak berapa lama pengguna berdiri, berapa lama duduk, dan berapa lama meninggalkan meja. Penulis artikel ini mengaku meja berdiri miliknya tidak punya port RJ45 sehingga harus memakai solusi kurang elegan.
Ia menempelkan separuh sensor kontak pintu di belakang meja dan separuh lainnya di dinding pada ketinggian yang pas. Saat meja turun, sensor membaca pintu tertutup; saat meja naik, kedua bagian terpisah dan sensor membaca pintu terbuka.
Dengan cara itu, durasi duduk dan berdiri tetap bisa dilacak meski meja harus dikendalikan secara manual. Prinsipnya sederhana: manfaatkan perangkat yang sudah ada untuk fungsi yang lebih banyak.