Investor Korea Selatan Rugi 250 US Dolar Juta akibat Penipuan Saham
JAKARTA - Penipuan yang menggunakan rekomendasi saham merugikan investor ritel Korea Selatan sekitar US$250 juta pada semester I-2026. Nilai kerugian tersebut meningkat hampir 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meskipun jumlah kasus hanya bertambah 4,1%.
Berdasarkan data kepolisian, aparat menyelidiki 3.506 kasus yang berkaitan dengan ruang obrolan rekomendasi saham sepanjang Januari-Juni 2026. Total dana yang terlibat mencapai 336 miliar won atau sekitar US$246,57 juta.
Peningkatan nilai kerugian tersebut terjadi ketika pasar saham Korea Selatan mengalami volatilitas tinggi. KOSPI sempat mencatat kinerja kuat pada paruh pertama tahun ini sebelum mengalami koreksi tajam dan kehilangan 44% dari level puncaknya pada 19 Juni.
Sejumlah pengacara yang menangani perkara penipuan keuangan mengatakan pelaku memanfaatkan ketertarikan investor terhadap reli saham sekaligus kekhawatiran kehilangan kesempatan meraih keuntungan. Investor ritel yang masih minim pengalaman menjadi sasaran utama.
“Volatilitas menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi organisasi kriminal,” kata Kim In-ho, penyelidik di Firma Hukum Jeongbyeok yang membantu korban penipuan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pelaku biasanya mengarahkan calon korban masuk ke grup percakapan privat melalui komentar pada video analis perusahaan sekuritas maupun influencer keuangan.
Setelah bergabung dalam grup tersebut, korban ditawari rekomendasi saham dengan biaya berlangganan yang dapat mencapai ratusan ribu dolar atau diminta mentransfer dana untuk diinvestasikan.
Modus tersebut berkembang dari pola penipuan yang sebelumnya banyak menyasar aset kripto dan properti. Pada tahun ini, pelaku mengalihkan perhatian kepada investor saham seiring dengan meningkatnya minat investor ritel terhadap pasar ekuitas Korea Selatan.
“Saat volatilitas pasar meningkat, ketidakpastian pun turut meningkat, dan pada saat itulah psikologi investor ritel menjadi lebih goyah,” ujar Lee Tae-kyung, pengacara di Wanbong Law Firm, sebagaimana dilansir dari berita sumber. “Kelompok-kelompok ini memanfaatkan situasi tersebut dengan meminta orang-orang untuk memercayai mereka,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kepolisian Seoul pada Juni menangkap 10 orang dalam kasus penipuan yang dijalankan dari Kamboja. Sindikat tersebut diduga menipu 59 warga Korea Selatan dengan total kerugian sekitar 9,9 miliar won selama dua tahun hingga Februari.
Para pelaku menyamar sebagai pegawai perusahaan sekuritas dan mengarahkan korban membeli saham berdasarkan rekomendasi AI melalui aplikasi perdagangan palsu. Polisi menyebut pemimpin sindikat tersebut merupakan warga negara asing, sedangkan operator pusat panggilan adalah warga Korea Selatan.
Kasus tersebut telah dilimpahkan kepada jaksa dan kini menunggu persidangan.
Salah satu korban, Jay, pekerja logistik berusia 47 tahun, mengaku kehilangan 60 juta won setelah bergabung dengan grup chat pada Februari. Ia menemukan grup tersebut melalui video TikTok yang diyakininya dibuat oleh direktur perusahaan sekuritas ternama.
“Saat itu, banyak pembicaraan mengenai anjuran untuk tidak menanamkan uang di sektor properti, melainkan di saham,” ujar Jay, sebagaimana dilansir dari berita sumber. “Sentimen itu begitu dominan, dan saya pun ikut terbawa arus tanpa menyadarinya,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada awalnya, grup tersebut hanya membahas pasar saham. Namun, pembicaraan kemudian berubah menjadi klaim mengenai keuntungan besar dari investasi melalui staf perusahaan sekuritas.
Jay kemudian meminjam uang dan mentransfer 20 juta won untuk investasi. Ia kembali mengirimkan 40 juta won setelah ditawari kesempatan investasi pada perusahaan konstruksi yang disebut akan memperoleh manfaat dari potensi rekonstruksi Iran pascaperang.
Jay meyakini dana tersebut dikelola oleh pegawai perusahaan sekuritas dan dapat menghasilkan keuntungan hingga 600%. Namun, grup tersebut kemudian berhenti beroperasi dan ditutup pada April.
Jay telah melaporkan kasus tersebut kepada polisi dan mengajukan gugatan perdata terhadap pemilik rekening yang menerima dana.
Jeonbuk Bank mengatakan telah mengetahui kasus penipuan tersebut dan akan terus memperkuat sistem pendeteksian transaksi mencurigakan. Naver juga menyatakan akan menindak grup chat yang dilaporkan sekaligus meningkatkan pemantauan.
Sementara itu, Jay kini menjalani dua pekerjaan sampingan untuk membayar utang yang muncul akibat kerugian tersebut.
“Saran saya bagi siapa pun yang baru terjun ke pasar saham adalah meragukan setiap tips yang diberikan kepada Anda,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.