Emas Melemahi Dua Hari Beruntun Terpangkas 0,39 Persen di Pasar Spot
JAKARTA – Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan kemarin. Langkah sang logam mulia terbeban oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat.
Pada Selasa (15/9/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup pada level US$ 4.282,2/troy ons. Nilai ini terpangkas 0,39% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi titik terendah sejak 6 Agustus atau lebih dari sebulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat harga emas genap merosot selama dua hari berturut-turut. Secara point-to-point, harga emas menyusut 1,43% dalam rentang dua hari tersebut.
Faktor utama yang menekan harga emas yakni ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter, khususnya di Amerika Serikat (AS). Bank sentral AS Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan suku bunga acuan pada besok dini hari waktu Indonesia.
Pasar memperkirakan Gubernur Kevin Warsh dan sejawatnya bakal menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75-4%. Tingkat peluang kenaikan tersebut amat tinggi, yakni menyentuh 92,4%.
Emas tergolong aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset). Menyimpan emas menjadi kurang menguntungkan di saat tingkat suku bunga berada di posisi tinggi.
“Secara teknikal, emas kini sedang bearish. Koreksi dalam waktu dekat bisa dilihat sebagai peluang beli karena dalam jangka panjang ada faktor yang menopang harga emas, seperti aksi borong oleh berbagai bank sentral,” kata Ryan McKay, Senior Commodity Strategist di TD Securities, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
People’s Bank of China (PBoC) menjadi salah satu bank sentral yang aktif memborong emas. Kepemilikan emas PBoC bertambah 650.000 ons pada Agustus, yang menandai peningkatan koleksi selama 22 bulan berturut-turut.
Prospek pergerakan harga emas untuk hari ini, Rabu (16/9/2026), memicu pertanyaan apakah pelemahan akan berlanjut tiga hari beruntun.
Berdasarkan analisis teknikal harian (daily time frame), emas berada di zona bearish. Hal itu tecermin dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di angka 44, di mana nilai RSI di bawah 50 mengindikasikan kondisi bearish.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI 14 hari telah menyentuh angka nol. Posisi ini berada di level terendah yang menunjukkan kondisi sangat jenuh jual (oversold).
Harga emas memiliki peluang menguat pada perdagangan hari ini. Syaratnya, pergerakan harga harus mampu melampaui pivot point US$ 4.296/troy ons.
Jika titik tersebut tertembus, harga emas berpotensi menguji resisten US$ 4.336-4.399/troy ons. Adapun target paling optimistis berada di posisi US$ 4.442/troy ons.
Sebaliknya jika harga emas kembali melemah, US$ 4.279/troy ons diperkirakan menjadi area support terdekat. Penurunan menembus titik ini berisiko menekan harga menuju US$ 4.259-4.235/troy ons.
Target pergerakan paling pesimistis diproyeksikan menyentuh level US$ 4.135/troy ons.