Yield SBN Indonesia Menarik, Tapi Berpotensi Naik ke 7,40 persen
JAKARTA - Pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang menarik di Asia Tenggara jika dilihat dari sisi imbal hasil.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencermati, per 15 September 2026, imbal hasil atau yield SBN Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,15%.
Tingkat tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar 4,14%, Thailand 2,27%, dan Singapura 2,40%. Sementara itu, imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun berada di sekitar 4,88%.
Dengan kondisi tersebut, SBN Indonesia masih menawarkan tambahan imbal hasil yang cukup besar dibandingkan obligasi Amerika Serikat maupun sebagian besar negara Asia Tenggara.
"Indonesia menurut saya tetap salah satu pasar obligasi yang paling menarik dari sisi imbal hasil, tetapi daya tarik tersebut adalah kompensasi terhadap risiko yang memang lebih tinggi," ujar Josua kepada Kontan, Sabtu (12/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Josua, investor asing tidak hanya melihat perbedaan tingkat suku bunga atau yield, tetapi juga memperhitungkan potensi keuntungan setelah mempertimbangkan pergerakan nilai tukar.
Dalam hal ini, kondisi Indonesia belakangan dinilai cukup menarik. Pada periode yang sama, rupiah berada di sekitar Rp 17.695 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi akhir Juli yang berada di sekitar Rp 18.000 per dolar AS.
Perpaduan yield SBN yang tinggi dengan penguatan rupiah berpotensi memberikan dua sumber keuntungan bagi investor asing. Sebaliknya, risiko dapat meningkat ketika yield obligasi AS naik bersamaan dengan penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah.
"Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika imbal hasil AS naik bersamaan dengan dolar menguat dan rupiah melemah," jelas Josua, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, Josua mengatakan pasar SBN Indonesia saat ini memiliki fondasi yang lebih kuat dibandingkan satu dekade lalu. Basis investor domestik yang semakin besar, mulai dari perbankan, perusahaan asuransi, dana pensiun, Bank Indonesia, reksadana hingga investor ritel, menjadi penyangga pasar.
Kondisi tersebut membuat ketergantungan pasar SBN terhadap investor asing semakin berkurang. Meski demikian, kepemilikan asing masih mengalami peningkatan.
Per akhir Agustus 2026, porsi kepemilikan asing di SBN mencapai sekitar 12,97%, naik dari 12,91% pada akhir Juli. Sepanjang Agustus, investor asing juga mencatat pembelian bersih sekitar Rp 15 triliun.
Josua menilai arus masuk investor asing tersebut positif karena berpotensi mendorong penurunan yield SBN. Namun, jika terjadi pembalikan arus atau capital outflow, keberadaan investor domestik membuat pasar SBN Indonesia kini lebih tahan dibandingkan masa lalu.
Meski relatif menarik, Josua mengingatkan bahwa SBN Indonesia bukan instrumen yang bebas risiko. Yield yang lebih tinggi mencerminkan adanya tingkat risiko yang juga lebih besar.
Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan mencakup ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak, pelebaran defisit transaksi berjalan yang mencapai sekitar 3,3% terhadap PDB pada kuartal II 2026, kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar, serta rupiah yang masih sensitif terhadap pergerakan dolar AS.
Selain itu, investor perlu mencermati peningkatan probabilitas kenaikan yield obligasi negara maju serta potensi keluarnya dana dari sejumlah negara berkembang.
Bagi investor SBN Indonesia, kondisi saat ini dapat menjadi peluang untuk masuk, terutama pada tenor pendek hingga menengah. Namun, Josua mengatakan kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai titik terendah yield untuk tenor panjang.
Per 10 September, yield SBN 10 tahun berada di sekitar 7,11%. Menariknya, sejak awal kuartal III 2026, yield SBN 10 tahun justru turun sekitar 5 basis poin, sedangkan yield UST 10 tahun meningkat sekitar 41 basis poin.
Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan hubungan antara SBN dan obligasi AS saat ini tidak lagi sepenuhnya bergerak secara mekanis.
Meski demikian, investor tetap perlu berhati-hati karena yield SBN saat ini telah turun dari level puncaknya. Artinya, potensi keuntungan dari kenaikan harga obligasi ke depan tidak serta-merta menjadi semakin besar.
Investor obligasi juga perlu memantau sejumlah indikator secara bersamaan, mulai dari inflasi dan tenaga kerja AS, keputusan suku bunga The Fed, yield obligasi AS dan dolar AS, harga minyak serta perkembangan Selat Hormuz, arah rupiah dan kebijakan BI, arus asing dan hasil lelang SBN, hingga kondisi APBN, neraca perdagangan, transaksi berjalan dan cadangan devisa.
"Untuk akhir 2026, saya masih melihat risiko imbal hasil SBN 10 tahun kembali menuju kisaran 7,20%-7,40%. Karena itu, pelemahan pasar memang dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan masuk, tetapi pendekatan yang lebih masuk akal saat ini adalah bertahap dan lebih mengutamakan tenor pendek-menengah," pungkas Josua, sebagaimana dilansir dari berita sumber.