Korea Exchange Buka Perdagangan Malam demi Tarik Investor Asing

Ilustrasi Bursa saham utama Korea Selatan mulai memperpanjang waktu perdagangan hingga malam hari sebagai upaya meningkatkan daya tarik bagi investor global. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 14 September 2026 | 23:42:49 WIB

JAKARTA - Bursa saham utama Korea Selatan mulai memperpanjang waktu perdagangan hingga malam hari sebagai upaya meningkatkan daya tarik bagi investor global.

Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari ambisi Korea Exchange untuk menuju sistem perdagangan saham selama 24 jam.

Mulai Senin (14/9), Korea Exchange membuka perdagangan hampir seluruh saham domestik hingga pukul 20.00 waktu setempat setelah sesi perdagangan reguler berakhir pada pukul 15.30.

Langkah ini menjadi yang pertama dilakukan oleh bursa saham utama di Asia.

Kebijakan tersebut mengikuti tren global menuju perdagangan saham sepanjang waktu yang sebelumnya telah didorong oleh sejumlah bursa besar seperti Nasdaq dan New York Stock Exchange.

Perpanjangan jam perdagangan dilakukan setelah pasar saham Korea mencatatkan kinerja kuat sepanjang tahun berkat tingginya minat terhadap saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Korea Exchange berharap sesi tambahan tersebut mampu meningkatkan partisipasi investor internasional, terutama ketika pasar Eropa sedang aktif.

Namun, pembukaan sesi baru ini juga menjadi tantangan bagi kemampuan bursa dalam menjaga likuiditas tetap memadai.

Pasar perlu membuktikan apakah investor memang membutuhkan tambahan waktu perdagangan, terutama ketika minat terhadap saham Korea mulai mengalami penurunan.

"Perpanjangan jam perdagangan pada dasarnya memberikan fleksibilitas lebih besar bagi investor dan membuat pasar lebih efisien," kata Young Jae Lee, manajer investasi senior Pictet Asset Management di London sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, investor dengan strategi perdagangan aktif, tingkat perputaran tinggi, serta hedge fund kemungkinan akan lebih banyak memanfaatkan sesi tambahan tersebut.

Perdagangan Malam Bukan Hal Baru

Aktivitas perdagangan di luar jam reguler sebenarnya bukan sesuatu yang baru di Korea Selatan.

Sistem perdagangan alternatif Nextrade telah menyediakan sesi pra-pasar dan malam sejak Maret 2025 dengan cakupan sekitar 600 saham.

Dalam beberapa bulan setelah peluncurannya, platform tersebut berhasil mengambil hampir sepertiga dari aktivitas perdagangan.

Korea Exchange kini memperluas langkah tersebut dengan membuka perdagangan malam untuk sekitar 2.400 saham yang tercatat di KOSPI dan Kosdaq.

Aktivitas short selling juga diperbolehkan dalam sesi perdagangan tersebut.

Namun, produk exchange-traded fund (ETF) untuk sementara belum termasuk dalam perdagangan malam.

Korea Exchange juga memiliki rencana membuka sesi pra-pasar pada akhir 2027.

"Ini merupakan langkah lain dalam evolusi pasar modal Korea dan peningkatan aksesibilitasnya bagi investor global," kata Edward Kim, Kepala Penjualan Ekuitas Korea di Bank of America sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Likuiditas Jadi Tantangan

Meski demikian, pelaku pasar belum memperkirakan aktivitas perdagangan akan langsung meningkat signifikan setelah sesi malam dimulai.

Kemampuan sesi tambahan dalam menarik volume transaksi yang cukup menjadi perhatian utama.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah likuiditas yang relatif rendah terlihat dalam perdagangan valuta asing setelah jam operasional diperpanjang pada Juli.

Indeks KOSPI sempat melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun hingga mencapai titik tertinggi, didorong oleh euforia saham AI.

Namun, perubahan sentimen yang terjadi secara mendadak memicu aksi jual hingga 22% pada Juli dan menyebabkan penurunan tajam nilai transaksi.

Meski demikian, KOSPI masih mencatat kenaikan 64% sepanjang 2026 dan menjadi indeks saham utama dengan kinerja terbaik di dunia.

Dave Mazza, CEO Roundhill Financial, mengatakan investor asing kemungkinan akan menunggu dan melihat apakah terdapat cukup pembeli serta penjual pada saham-saham besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix selama sesi malam sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.

"Memperpanjang jam perdagangan tidak menciptakan likuiditas, tetapi hanya mendistribusikannya," ujar Mazza sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia memperkirakan minat awal terhadap perdagangan malam akan relatif terbatas.

Pengalaman Nextrade juga dapat menjadi gambaran terkait kondisi tersebut.

Data platform itu menunjukkan investor ritel menyumbang lebih dari 80% aktivitas perdagangan di luar sesi reguler.

Pergerakan harga yang tidak stabil serta rendahnya partisipasi investor institusi juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

Risiko Lindung Nilai Mata Uang

Kemampuan investor besar dalam melakukan lindung nilai terhadap risiko mata uang menjadi persoalan lain dalam penerapan perdagangan malam.

Pasar valuta asing Korea secara teknis telah beroperasi selama 24 jam.

Namun, likuiditas di luar jam utama masih relatif rendah sehingga biaya hedging berpotensi menjadi lebih mahal.

Situasi tersebut dapat membuat investor asing enggan menempatkan modal dalam jumlah besar pada perdagangan saham Korea saat malam hari.

Likuiditas yang terbatas juga berpotensi memengaruhi harga saham.

Investor yang ingin membeli atau menjual saham dalam jumlah besar pada malam hari berisiko membayar harga lebih tinggi atau menjual dengan harga lebih rendah dari perkiraan.

"Risiko terbesarnya adalah terjebak dalam kondisi likuiditas yang rendah," kata Sanghyun Park, pendiri Clepsydra Capital sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kurangi Kesenjangan Informasi

Meski menghadapi sejumlah tantangan, pelaku pasar secara umum mendukung perpanjangan jam perdagangan karena memberikan kesempatan bagi investor untuk lebih cepat merespons berita maupun laporan keuangan yang dirilis setelah pasar reguler berakhir.

Upaya Korea dalam membuka pasar lebih luas kepada investor asing juga terlihat melalui pencatatan American depositary receipts (ADR) SK Hynix di Amerika Serikat.

Namun, instrumen tersebut masih menjadi jalur terbatas yang terutama memberikan akses terhadap saham sektor chip.

Tony Cheung, konsultan spesialis eksekusi di Instinet, mengatakan sesi perdagangan tambahan dapat menciptakan kondisi pasar yang lebih setara.

Menurutnya, investor yang lebih luas dapat merespons informasi setelah penutupan pasar secara langsung.

Hal tersebut berpotensi mengurangi kesenjangan informasi sekaligus meningkatkan keadilan dalam pasar.

Reporter: Ibtihal