Saham Chip Asia Tertekan Jelang Keputusan The Fed dan BOJ

Ilustrasi Saham teknologi Asia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, dengan KOSPI Korea Selatan menjadi indeks yang memimpin pelemahan. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 14 September 2026 | 23:09:51 WIB

JAKARTA - Saham teknologi Asia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, dengan KOSPI Korea Selatan menjadi indeks yang memimpin pelemahan. Investor mengurangi eksposur terhadap produsen chip yang berkaitan dengan AI di tengah kenaikan imbal hasil obligasi serta munculnya kekhawatiran baru mengenai keberlanjutan reli AI menjelang pertemuan sejumlah bank sentral utama pekan ini.

KOSPI yang didominasi saham teknologi turun 3,1%, sedangkan Nikkei 225 Jepang melemah 1,1%.

Sentimen terhadap sektor teknologi Amerika Serikat juga masih tertekan, dengan futures Nasdaq 100 turun 1,2%, lebih besar dibandingkan penurunan 0,4% pada futures S&P 500. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan yang masih berlanjut terhadap saham-saham pertumbuhan sebelum perdagangan Wall Street dimulai.

Tekanan jual tersebut terjadi setelah imbal hasil obligasi Treasury AS mendekati 5% dan pasar memperkirakan peluang sebesar 86% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan ini setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan hasil lebih tinggi dari perkiraan.

Kenaikan imbal hasil biasanya memberikan tekanan lebih besar kepada perusahaan teknologi dengan valuasi tinggi, terutama perusahaan yang pendapatannya diproyeksikan berasal dari pertumbuhan jangka panjang.

Saham semikonduktor menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pelemahan, karena investor mulai lebih berhati-hati terhadap perdagangan AI setelah mencatatkan keuntungan yang sangat besar dalam periode sebelumnya.

Sektor tersebut juga menghadapi perdebatan baru mengenai besarnya pengeluaran untuk pengembangan AI setelah CEO Anthropic, Dario Amodei, meminta perlambatan pengembangan model AI yang semakin canggih dengan alasan keamanan. Pernyataan itu menambah kekhawatiran terkait valuasi tinggi saham-saham yang mendukung infrastruktur AI.

Investor kini mengevaluasi kembali apakah lonjakan belanja AI masih mampu mempertahankan valuasi serta ekspektasi pendapatan yang tinggi. Indeks MSCI Asia Pacific turun sekitar 0,5%.

CEO OpenAI, Sam Altman, mendukung usulan tersebut, sementara kepala xAI, Elon Musk, menyatakan "Dario benar." Namun, Presiden AS Donald Trump mengecilkan kekhawatiran yang berkembang tersebut karena perusahaan-perusahaan tetap berlomba secara agresif, terutama dalam menghadapi pesaing dari China sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Peringatan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai apakah perlambatan pengembangan AI dapat mengurangi belanja perusahaan dan menekan ekspektasi pendapatan di seluruh rantai pasokan.

Sektor teknologi Korea Selatan masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen terkait AI karena Samsung Electronics dan SK Hynix merupakan pemasok utama high-bandwidth memory yang digunakan dalam prosesor AI.

Saham chip memimpin penurunan, dengan SK Hynix turun 4,3% dan Samsung Electronics melemah 2,5%, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap KOSPI yang turun 3,1%. LG Innotek juga turun 3,1% dan memperbesar tekanan pada saham perangkat keras teknologi.

Saham terkait chip di Jepang turut mengalami tekanan, dengan sektor semikonduktor secara luas melemah karena investor melakukan rotasi keluar dari saham teknologi dengan pertumbuhan tinggi akibat kenaikan biaya pinjaman dan ketidakpastian geopolitik.

Saham teknologi Jepang juga bergerak melemah, dipimpin oleh Kioxia yang anjlok 7,1%. Murata Manufacturing turun 3,6% dan TDK melemah 0,1%. Sementara itu, Sony bergerak berlawanan arah dengan kenaikan 3,1% sehingga membatasi kerugian pada sejumlah saham elektronik berkapitalisasi besar.

Aksi jual saham teknologi terjadi bersamaan dengan sentimen risk-off yang lebih luas setelah harga minyak melonjak di atas $100 per barel akibat serangan baru yang melibatkan infrastruktur energi Arab Saudi dan pengiriman di Teluk. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi tetap tinggi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pasar saat ini menunggu keputusan kebijakan dari Federal Reserve pada Rabu dan Bank of Japan pada Jumat. Para trader juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ yang tinggi, sehingga mendukung penguatan yen dan memberikan tekanan tambahan terhadap saham Jepang.

Reporter: Ibtihal