Harga Emas Pekan Ini Diramal Bakal Mengerikan Tertekan Keputusan The Fed

Ilustrasi emas (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Senin, 14 September 2026 | 22:21:59 WIB

JAKARTA – Harga emas dan perak diperkirakan menghadapi banyak guncangan pekan ini. Investor menunggu keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 06.59 WIB melemah 0,35 persen.

Harga emas ditutup menguat 0,73 persen ke US$ 4347, 32 per troy ons pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Kendati demikian, secara keseluruhan, harga emas jatuh 1,83 persen pada pekan lalu.

Pelemahan emas pekan lalu, salah satunya dipicu kenaikan inflasi AS.

Inflasi konsumen pada Agustus naik 0,4 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,1 persen pada Juli. Secara tahunan, inflasi AS berada di level 3,4 persen, sesuai dengan perkiraan pasar.

Kondisi tersebut membuat pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Jika The Fed tetap fokus memerangi inflasi, suku bunga tinggi berpotensi mengerek imbal hasil US Treasury dan memperkuat dolar AS. Kondisi tersebut biasanya membuat emas menjadi kurang menarik karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Di tengah tekanan dari The Fed dan dolar AS, permintaan dari China menjadi salah satu penopang utama emas.

China dilaporkan membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni. Angka tersebut menjadi pembelian bulanan terbesar kedua China sejak awal 2025.

Pembelian emas oleh China membantu meredam tekanan jual dari investor yang khawatir terhadap kenaikan suku bunga dan penguatan dolar.

Permintaan fisik yang kuat akan semakin penting jika investor di pasar keuangan mulai mengurangi eksposur mereka terhadap emas.

Namun, pembelian besar-besaran dari China belum tentu cukup untuk menopang reli emas apabila kebijakan moneter global berubah semakin ketat.

Untuk saat ini, baik kondisi makroekonomi maupun teknikal masih memberikan sinyal bearish bagi emas.

Harga emas turun 1,8 persen sepanjang pekan lalu dan kini mencatat penurunan dalam tiga pekan beruntun. Kondisi ini menunjukkan momentum emas mulai kehilangan tenaga setelah sempat melonjak tajam pada Agustus.

Perhatian investor pekan ini akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pada Selasa dan Rabu pekan ini, yang berpotensi menentukan arah emas selanjutnya.

Keputusan The Fed dapat menentukan apakah emas mampu bangkit atau justru kembali menguji US$4.000.

Saat ini emas berada di tengah tarik-menarik dua kekuatan.

Di satu sisi terdapat permintaan China dan arus safe haven. Di sisi lain, ada harga minyak tinggi, dolar AS yang menguat, serta risiko pengetatan kebijakan The Fed.

Selama tekanan dari kebijakan moneter belum mereda, emas diperkirakan akan kesulitan untuk kembali menguji US$4.700.

Memasuki pekan ini, indikator teknikal masih menunjukkan kemungkinan emas mengalami penurunan moderat sebelum rapat The Fed pada Rabu.

Keputusan tersebut menjadi sangat penting, terutama setelah data inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang lebih tinggi.

Pertanyaan terbesar investor kini bukan hanya apakah The Fed akan menaikkan suku bunga.

Pasar juga akan mencermati apakah kenaikan tersebut hanya sekali dan selesai, atau justru menjadi awal dari kenaikan bunga berikutnya pada akhir tahun.

Jika The Fed memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut, emas berpotensi kembali tertekan.

Harga minyak juga melonjak dalam beberapa hari terakhir meski sedikit terkoreksi pada Jumat.

Namun, tren besarnya masih menunjukkan kenaikan. Kondisi ini menambah tekanan inflasi terhadap perekonomian global.

Jika inflasi kembali meningkat, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat akan semakin besar.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury 10 tahun mendekati level 5 persen pada pekan lalu. Level ini menjadi ambang psikologis penting dan berpotensi memicu aksi ambil untung.

Namun, secara keseluruhan pasar obligasi masih berada dalam tekanan dan yield terus bergerak naik.

Situasi tersebut bukan kabar baik bagi emas.

Ketika real yield dan ekspektasi suku bunga meningkat, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik bagi investor. Tekanan akan semakin besar jika dolar AS juga terus menguat.

Area US$4.400 kini menjadi level penting untuk diperhatikan. Jika emas mampu bertahan di atas level tersebut, peluang harga kembali menuju rekor sebelumnya semakin terbuka.

Jika tekanan jual berlanjut, emas berpotensi kembali menuju US$4.100 dalam waktu dekat, bahkan bisa bertepatan dengan keputusan The Fed pada Rabu.

Jika US$4.100 ditembus, perhatian pasar akan beralih ke US$4.000.

Jika level tersebut juga jebol, emas berpotensi menguji US$3.942, yang merupakan level terendah pada Juni.

Sementara itu, harga perak pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 07.00 WIB jatuh 0,87.

Harga perak ditutup melonjak 1,4 persen pada perdagangan Jumat ke US$ 64,57 per troy ons (11/9/2026). Secara keseluruhan, harga perak jatuh 2,6 persen pada pekan lalu.

Reporter: Akbar