Rupiah dan Ekonomi Domestik Jadi Perhatian Investor Asing

Ilustrasi Rupiah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Senin, 14 September 2026 | 22:21:59 WIB

JAKARTA – Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan melonjaknya harga minyak mentah global telah kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang membuat investor cenderung lebih defensif.

“Kondisi tersebut menekan risk appetite (selera risiko) terhadap emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di tengah sentimen global tersebut, Elandry mengatakan investor asing juga mencermati stabilitas kurs Rupiah, pertumbuhan ekonomi domestik, kinerja emiten, serta perkembangan terkait evaluasi indeks global seperti MSCI.

“Jadi foreign sell bukan semata-mata mencerminkan fundamental Indonesia, tetapi juga bagian dari penyesuaian asset allocation global,” ujar Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Net sell yang masih terjadi sampai saat ini, menurut Elandry menunjukkan bahwa investor asing masih cukup selektif terhadap pasar saham Indonesia.

Sepanjang tahun, secara kumulatif investor asing masih mencatatkan net sell cukup besar yaitu sekitar Rp98,2 triliun hingga periode 11 September 2026.

Meskipun investor asing sempat net buy pada Agustus dan awal September 2026, namun kembali mencatatkan net sell sekitar Rp3,36 triliun pada 7 sampai 11 September 2026.

“Jadi sebenarnya minat asing belum sepenuhnya hilang, tetapi capital flow masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global,” ujar Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk sisa tahun 2026, Elandry melihat foreign flow (aliran dana asing) masih berpotensi fluktuatif dan belum tentu langsung berbalik menjadi inflow secara konsisten.

Dalam jangka pendek, Ia menilai volatilitas kemungkinan masih tinggi karena pasar akan terus merespon arah suku bunga global, harga minyak, serta geopolitik dan pergerakan dolar AS.

Namun demikian, menurutnya, apabila tekanan eksternal mereda dan stabilitas domestik tetap terjaga, peluang asing melakukan akumulasi kembali terbuka, terutama pada saham-saham big caps yang likuid dan memiliki fundamental kuat.

“Jadi fase berikutnya kemungkinan lebih berupa selective inflow terlebih dahulu sebelum berkembang menjadi capital inflow yang lebih luas,” ujar Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Elandry menjelaskan, dana investor asing berpeluang kembali lebih konsisten masuk ke pasar saham Indonesia, apabila ketidakpastian global mulai mereda, terutama ketika harga minyak stabil, tekanan inflasi menurun, serta arah kebijakan The Fed menjadi lebih jelas.

Dari dalam negeri, Ia menilai penguatan Rupiah, fundamental ekonomi yang terjaga, pertumbuhan laba emiten serta valuasi saham-saham big caps yang menarik dapat menjadi katalis.

"Kami sebenarnya sudah sempat melihat asing kembali melakukan net buy pada Agustus 2026. Artinya, ketika market sentiment membaik, Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor global,” ujar Elandry sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Data perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia pada hari ini, Senin (14/09) pukul 15.10 WIB, IHSG tercatat melemah 133,11 poin atau 2,03 persen ke posisi 6.408,27.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.750 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,52 miliar lembar saham senilai Rp11,77 triliun.

Reporter: Akbar