Harga Minyak Melonjak, Dolar AS Menguat dan Tekan Sterling Hari Ini

Ilustrasi Dolar AS (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Senin, 14 September 2026 | 21:55:30 WIB

JAKARTA – Sterling diperdagangkan lebih rendah pada hari Senin hingga menembus ke bawah 1,35 dolar AS. Sementara itu, euro juga mengalami penurunan nilai tukar terhadap dolar AS.

Pelemahan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang hawkish turut mendorong penguatan mata uang dolar AS secara luas.

GBP/USD terakhir berada di level 1,3482 atau turun sebesar 0,33 persen per pukul 16:25 WIB. Pada saat yang sama, EUR/USD melemah 0,55 persen ke level 1,1535 dan menembus ke bawah batas 1,1600.

Minyak mentah jenis Brent mengalami lonjakan harga lebih dari 3 persen dalam sesi perdagangan kali ini. Kenaikan tersebut terjadi usai Arab Saudi menutup pipa minyak Timur-Barat akibat adanya serangan drone dari Irak.

"Kami terus memperkirakan dolar yang sedikit lebih kuat dari sini," kata Francesco Pesole, Ahli Strategi FX di ING sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Pesan kebijakan moneter yang ketat dari The Fed pada hari Rabu dapat membantu membangun kembali secara perlahan korelasi positif antara dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury, sehingga memungkinkan dolar berfungsi lebih efisien sebagai aset safe haven," ujar Francesco Pesole sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Francesco Pesole menambahkan bahwa kembalinya indeks dolar DXY ke kisaran 99,50 hingga 100 tetap menjadi sebuah kemungkinan yang nyata. Hal tersebut dinilai sangat selaras dengan berbagai faktor pendorong pasar saat ini.

Faktor pendorong tersebut mencakup risiko pasokan energi dari Teluk Persia. Di samping itu, terdapat pula tekanan baru terkait sektor AI terhadap pasar saham.

Pasar memprediksi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 22bp secara hampir bulat pada hari Rabu mendatang. Data CPI AS yang lebih panas dari perkiraan pekan lalu dinilai hampir memastikan langkah tersebut.

The Fed kemungkinan besar akan tetap mempertahankan nada yang hawkish dalam kebijakannya. Langkah ini diambil mengingat adanya tuntutan kredibilitas dari pasar obligasi serta kenaikan harga energi terkini.

Para pelaku pasar juga sedang mencermati potensi kebijakan stimulus fiskal dari Gedung Putih menjelang pemilu paruh waktu. Langkah tersebut diperkirakan dapat memicu kenaikan premi risiko bagi dolar AS.

Pelemahan mata uang sterling pada hari Senin sama sekali tidak disebabkan oleh faktor internal Inggris. Para ahli strategi mengaitkan penurunan ini murni akibat penguatan dolar AS secara menyeluruh.

Pergerakan GBP/USD mencatatkan penurunan sebesar 0,27 persen harian dan 0,38 persen mingguan. Pergerakan tersebut cenderung mengekor kerugian euro ketimbang dipicu oleh katalis domestik Inggris.

Untuk mata uang euro, perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis survei ZEW Jerman. Selain itu, pasar juga menantikan pernyataan dari Presiden ECB Christine Lagarde di Wina.

"Pesan hawkish dari Bank Sentral Eropa pekan lalu mungkin akan memperlambat laju penurunan," kata Francesco Pesole sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia juga menambahkan bahwa target jangka pendek dari ING untuk EUR/USD tetap berada di level 1,1500.

Tim makro bank tersebut mengaku tetap merasa skeptis bahwa ECB akan menghadirkan kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut. Namun, risiko konflik di Teluk dapat membuat pembuat kebijakan tetap bersikap hawkish.

Mata uang dolar AS diproyeksikan masih dapat memperpanjang tren kenaikannya menuju DXY 99,50 hingga 100,0. Kondisi ini berpotensi menekan EUR/USD menuju 1,1500 serta membuat GBP/USD semakin rentan melemah.

Tren tersebut sangat bergantung pada kenaikan suku bunga The Fed pada hari Rabu. Selain itu, gangguan pasokan minyak di Teluk dan jalur pelayaran Selat Hormuz turut menjadi penentu utama.

Reporter: Akbar