Geopolitik Memanas Membuat Harga Minyak Brent Capai 101 Dolar AS

Ilustrasi minyak mentah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 10 September 2026 | 00:28:34 WIB

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia masih berada pada level tinggi meskipun sempat terkoreksi pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Peningkatan harga minyak tersebut masih terus dibayangi oleh eksalasi ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.

Bahkan harga Brent sempat melewati US$ 101 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati angka US$ 97 per barel.

Merujuk pada data Bloomberg pada Kamis (10/9/2026) pukul 13.21 WIB, harga WTI berada pada level US$ 95,52 per barel atau mengalami penurunan sebesar 0,55% secara harian. Di sisi lain, harga Brent tercatat di posisi US$ 100,49 per barel yang berarti turun 0,71%.

Awalnya pada pukul 08.54 WIB, harga WTI sempat menyentuh angka US$ 96,85 per barel, lalu Brent sempat mencatatkan posisi US$ 101,70 per barel.

Pengamat mata uang dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama melonjaknya harga minyak sekaligus memberi tekanan kepada mata uang rupiah.

"Beberapa fundamental yang mempengaruhi gejolak yang membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan, salah satunya adalah masalah geopolitik, baik di Eropa Timur maupun di Timur Tengah," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibrahim juga memberikan sorotan terhadap perselisihan Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum usai. Adanya aksi serangan ke beberapa fasilitas minyak milik Rusia menjadi salah satu penyebab terganggunya kapasitas produksi minyak negara itu.

Di waktu yang sama, tingkat ketegangan pada kawasan Timur Tengah dan Laut Merah juga masih belum surut. Langkah serangan dari kelompok Houthi di Yaman menuju wilayah Arab Saudi ikut memperpanjang eskalasi geopolitik di area tersebut.

Tak hanya itu, perseteruan antara pihak Iran dan Amerika Serikat juga turut menjadi titik perhatian pasar. Munculnya serangan ke arah kapal-kapal perang Amerika di wilayah Selat Hormuz makin memperbesar keraguan atas keamanan jalur distribusi energi global.

"Di Selat Hormuz sendiri, pasukan Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal perang Amerika yang kami tahu bahwa kapal-kapal perang terjadi kerusakan yang cukup signifikan," kata Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penilaian Ibrahim, kondisi rumit ini berpotensi bertahan hingga akhir tahun. Penjelasan dari Iran yang belum memperlihatkan iktikad menghentikan perselisihan serta prediksi bahwa pertempuran baru selesai sekitar November atau Desember menjadikan risiko geopolitik terus membayangi pergerakan pasar minyak.

Apabila pertikaian berlanjut hingga bulan Desember, ketersediaan pasokan minyak secara global berpotensi menerima tekanan dalam rentang waktu lebih lama. Muara dari kondisi tersebut sanggup menjaga harga minyak tetap bertengger di level tinggi sekaligus menaikkan risiko volatilitas pada pasar keuangan.

Lewat anggapan bahwa peperangan bakal berlanjut sampai penutupan tahun, Ibrahim memperkirakan harga WTI dapat beranjak naik hingga US$ 108 per barel. Sementara itu, untuk harga Brent diproyeksikan berpeluang menyentuh angka US$ 115 per barel.

Reporter: Akbar