Harga Minyak Naik 15,57 persen Sebulan akibat China Borong Minyak

Ilustrasi minyak mentah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 10 September 2026 | 00:28:34 WIB

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia memiliki potensi untuk mempertahankan tren penguatannya hingga penutupan tahun. Langkah China yang meningkatkan pembelian minyak pada beberapa pekan terakhir menjadi katalis utama pendorong harga di tengah ancaman gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (10/9/2026) pukul 15.00 WIB, harga West Texas Intermediate (WTI) tercatat di tingkat US$ 96,25 per barel atau menguat 0,26% secara harian. Jika dilihat dalam sepekan, WTI sudah melonjak 5,32%, sedangkan dalam kurun sebulan menguat hingga 15,57%.

Kenaikan serupa dialami oleh harga minyak Brent yang kini bertengger di posisi US$ 101,29 per barel. Minyak Brent tercatat naik 0,08% secara harian, melesat 5,92% dalam sepekan, dan tumbuh 13,79% dalam satu bulan.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan menyampaikan bahwa lonjakan permintaan dari negeri Tirai Bambu merupakan faktor penting yang harus dicermati oleh pelaku pasar saat ini.

“China menjadi salah satu faktor yang semakin penting. Pembelian minyak China meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah sebelumnya lemah,” kata Brahmantya Kamis (10/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Brahmantya menilai bahwa maraknya pembelian minyak oleh China mampu memberikan tekanan dorongan tambahan bagi pergerakan harga minyak dunia. Situasi ini akan menjadi kian solid apabila terjadi bersamaan dengan hambatan pasokan yang muncul di Timur Tengah.

“Jika berlanjut bersamaan dengan gangguan pasokan Timur Tengah, tekanan kenaikan harga bisa semakin besar,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping faktor permintaan dari China, laju harga minyak global juga dipengaruhi oleh kebijakan OPEC+, tingkat cadangan minyak dunia, serta volume produksi minyak Amerika Serikat.

Kondisi ekonomi global turut berdampak langsung karena memiliki keterkaitan erat terhadap konsumsi energi. Laju pertumbuhan ekonomi yang solid akan menopang permintaan minyak, sedangkan kelesuan ekonomi justru bakal menekan tingkat konsumsi.

Namun, penguatan harga minyak yang terlalu drastis berisiko menimbulkan konsekuensi negatif bagi permintaan. Lonjakan harga energi yang terlalu mahal berisiko memicu inflasi sekaligus menahan pertumbuhan ekonomi sehingga tingkat penggunaan minyak dapat ikut merosot.

“Sebaliknya, minyak di atas US$ 100 juga berisiko meningkatkan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi. Jadi semakin tinggi minyak, semakin besar pula risiko demand destruction yang pada akhirnya dapat membatasi rally,” tutur Brahmantya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengenai estimasi hingga penghujung tahun, Brahmantya memperkirakan masih ada celah bagi harga minyak untuk terus menanjak. Ia memproyeksikan pergerakan harga WTI berada pada rentang US$ 97-US$ 115 per barel.

Sementara untuk patokan harga minyak Brent, dirinya memproyeksikan bergerak pada kisaran US$ 110-US$ 125 per barel sampai akhir tahun.

Reporter: Akbar