Rekomendasi Saham Tembaga Saat Harga Melonjak Ke Rekor Tertinggi

Ilustrasi tembaga (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 10 September 2026 | 22:42:00 WIB

JAKARTA – Harga tembaga yang terus melonjak menjadi angin segar bagi emiten pertambangan yang memiliki portofolio pada komoditas tersebut, di antaranya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Berdasarkan data Bloomberg, harga tembaga di LME ditutup menguat 1,14 persen ke level US$ 14.708,5 per ton pada Selasa (8/9/2026). Angka ini menjadi pencapaian rekor tertinggi untuk harga tembaga.

Atas raihan tersebut, harga tembaga tercatat melesat 2,51 persen dalam kurun sepekan dan telah melonjak hingga 48,36 persen dalam periode satu tahun terakhir.

Lonjakan harga komoditas ini salah satunya terdorong oleh perkiraan melesatnya kebutuhan tembaga untuk sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data, serta kendaraan listrik.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebutkan bahwa melesatnya harga tembaga memberikan efek yang berarti bagi prospek kinerja AMMN dan MDKA.

Kendati demikian, AMMN dinilai berpotensi mengaut keuntungan yang lebih besar lantaran baru saja memasuki siklus pertumbuhan laba yang baru.

"Signifikan, terutama bagi AMMN yang sedang memasuki earnings cycle baru," kata Abida sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan, keberadaan Fase 8 Batu Hijau menjadi pendorong utama bagi laju pertumbuhan AMMN. Bijih segar yang ditambang pada kuartal I-2026 melesat menjadi 38 juta ton dari yang sebelumnya hanya 1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu, sementara produksi konsentrat melompat 110 persen secara tahunan.

Perpaduan antara lonjakan volume produksi dan kenaikan harga pasar tembaga tersebut menghasilkan pengungkit operasional yang besar untuk AMMN.

Abida memproyeksikan perolehan pendapatan AMMN pada 2026 mampu menyentuh US$ 4,7 miliar, atau tumbuh 153 persen secara tahunan. Di sisi lain, EBITDA perseroan diproyeksikan melonjak 150 persen menjadi US$ 2,56 miliar pada akhir 2026.

Untuk MDKA, kenaikan harga tembaga turut memberikan gairah positif seiring dengan langkah diversifikasi ke komoditas tembaga lewat berbagai proyek strategisnya.

Walau begitu, besaran dampaknya diperkirakan lebih kecil jika dibandingkan dengan AMMN yang makin berfokus pada lini bisnis tembaga dan emas secara terintegrasi.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengungkapkan bahwa prospek permintaan tembaga untuk jangka menengah hingga panjang masih sangat solid.

Menurutnya, tren elektrifikasi serta perluasan infrastruktur digital menjadi tumpuan utama bagi pertumbuhan permintaan tembaga. Komoditas ini dimanfaatkan secara luas pada baterai, jaringan pengisian daya kendaraan listrik, pendingin pusat data, hingga sistem kelistrikan.

"Tren elektrifikasi dan ekspansi infrastruktur digital atau AI merupakan fondasi yang sangat kuat bagi permintaan tembaga jangka menengah hingga panjang," ujar David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menilai, kebutuhan dari industri AI, pusat data, dan kendaraan listrik berpeluang menopang harga dasar tembaga agar tetap kokoh di pasar internasional.

Meski begitu, dinamika permintaan tetap harus dipantau bersamaan dengan kondisi ekonomi global, seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) hingga pemulihan ekonomi China selaku konsumen tembaga terbesar.

Di luar faktor harga tembaga, Abida menyampaikan bahwa pergerakan harga emas juga menjadi penopang penting untuk AMMN. Langkah aksi beli emas yang masif oleh bank sentral, khususnya Bank Sentral China (PBoC), dinilai menjaga tren positif harga emas.

Faktor pendorong lainnya datang dari pengoperasian fasilitas pengolahan baru AMMN. Kapasitas pengolahan perusahaan bakal meningkat dari 40 juta ton per tahun (MTPA) menjadi 85 juta ton per tahun.

Fasilitas pengolahan tersebut ditargetkan mulai menerima pasokan bijih pada kuartal III-2026 dan menjadi penopang utama peningkatan volume dalam jangka menengah.

"Timeline ramp-up processing plant baru yang menaikkan kapasitas dari 40 MTPA ke 85 MTPA dan pertama kali menerima ore di Q3-2026F menjadi katalis volume jangka menengah yang krusial," jelas Abida sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, para investor diimbau memperhatikan potensi kenaikan tarif royalti serta proses penurunan risiko pada proyek Elang yang berpotensi memengaruhi nilai valuasi AMMN.

David menambahkan, kelancaran operasional fasilitas smelter dan efisiensi biaya operasional juga menjadi poin krusial yang patut dicermati investor. Selain itu, konsistensi volume produksi dari tambang utama serta pengembangan kapasitas akan menentukan sejauh mana emiten mengoptimalkan momentum kenaikan harga tembaga.

Berdasarkan sudut pandang investasi, David menerangkan bahwa sektor tembaga sangat menarik untuk pemodal yang berniat memanfaatkan momentum transisi energi dan isu potensi defisit pasokan tembaga dunia.

Namun demikian, sektor ini tetap menyimpan sejumlah risiko operasional. Beberapa di antaranya meliputi kenaikan biaya operasional (cash cost), penurunan kadar bijih, dinamika regulasi dan kebijakan ekspor, serta potensi koreksi harga komoditas jika laju pertumbuhan ekonomi global tertahan.

"Risiko utamanya meliputi lonjakan biaya operasional, penurunan kualitas bijih, dinamika regulasi atau ekspor, serta potensi koreksi harga komoditas akibat penurunan pertumbuhan ekonomi global," kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah turut perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kinerja operasional emiten.

Melihat prospek harga tembaga serta ekspansi volume produksi, Abida memberikan rekomendasi beli untuk saham AMMN dengan target harga di level Rp 6.000 per saham.

"AMMN adalah pilihan utama sektor tembaga saat ini dengan earnings cycle yang baru dimulai dan multi-year volume growth yang terjamin dari ekspansi kapasitas terkonfirmasi," ujar Abida sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rekomendasi tersebut berlandaskan keberadaan Batu Hijau sebagai aset penghasil arus kas utama, smelter dan kilang pemurnian logam mulia sebagai pendorong nilai hilirisasi, serta proyek Elang sebagai peluang pertumbuhan jangka panjang.

Di samping itu, Abida turut menyarankan opsi beli untuk saham MDKA sebagai pilihan sekunder. Langkah diversifikasi MDKA pada komoditas tembaga, nikel, dan emas dianggap menyajikan profil risiko yang lebih seimbang bagi investor yang mengincar portofolio mineral lebih luas.

David pun menyadur rekomendasi beli pada saham AMMN karena dinilai lebih memikat bagi pemodal yang mencari eksposur langsung pada komoditas tembaga skala besar.

Sementara itu, saham MDKA dinilai lebih cocok bagi pemodal yang mengedepankan strategi diversifikasi melalui kombinasi komoditas tembaga, emas, dan nikel.

Reporter: Akbar