KLBF Tumbuh 10 Persen, Indo Premier Naikkan Target Harga Rp1.300
JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) masih membukukan tren penjualan yang kuat hingga Juli-Agustus 2026. Namun, pertumbuhan top line tersebut masih menghadapi tekanan margin akibat pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan baku, serta perubahan bauran produk.
Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra mengatakan, berdasarkan diskusi dengan manajemen, laju penjualan (sales run-rate) KLBF pada Juli-Agustus 2026 masih sejalan dengan tren kuartal II-2026. Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan penjualan sekitar 10% secara tahunan.
"Pertumbuhan penjualan Juli-Agustus 2026 didorong oleh segmen consumer health dan distribusi," tulis dia dalam riset 9 September 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Andrianto mengatakan segmen consumer health mulai memperlihatkan pemulihan seiring program rejuvenasi merek yang telah dijalankan sejak kuartal III-2024.
Sementara itu, pertumbuhan bisnis distribusi yang kuat salah satunya didukung penambahan principal baru, yakni Bayer Consumer, sejak Januari 2026. Kehadiran principal tersebut turut menopang pertumbuhan penjualan distribusi dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan penjualan KLBF pada semester I-2026 yang mencapai 26,6% yoy.
Meski penjualan tetap tumbuh solid, Andrianto memperkirakan tekanan terhadap gross profit margin (GPM) KLBF akan semakin terasa pada paruh kedua 2026.
Manajemen KLBF memperkirakan tekanan margin akan terealisasi secara penuh pada semester II-2026 akibat depresiasi rupiah, kenaikan harga bahan baku, serta bauran produk yang kurang menguntungkan.
"Sebanyak 50% cost of goods manufactured (COGM) KLBF terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan dolar AS. Angka ini setara dengan sekitar 23% dari cost of goods sold (COGS) KLBF pada semester I-2026," jelas Andrianto, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dengan kondisi tersebut, Indo Premier memproyeksikan GPM KLBF pada semester II-2026 turun menjadi 37%, dibandingkan 37,6% pada semester I-2026.
Di tengah tekanan terhadap margin, manajemen KLBF memutuskan untuk tetap mengutamakan pertumbuhan penjualan atau top line.
Andrianto menjelaskan, industri saat ini menghadapi pilihan antara mempertahankan margin dan menjaga pertumbuhan penjualan. Hal tersebut terjadi karena semakin banyak kompetitor yang menawarkan produk dengan harga lebih murah, tetapi memberikan margin yang lebih rendah.
Untuk saat ini, KLBF memilih mengejar pertumbuhan top line sembari memperbaiki margin secara bertahap.
Strategi tersebut menyebabkan ruang untuk ekspansi margin dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas. Namun, pertumbuhan penjualan yang lebih kuat berpotensi meningkatkan efisiensi biaya operasional terhadap penjualan melalui operating leverage.
"Pertumbuhan top line yang lebih kuat akan memberikan perbaikan opex-to-sales melalui operating leverage," kata Andrianto, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mengacu pada perkembangan tersebut, Indo Premier merevisi naik proyeksi penjualan KLBF untuk tahun buku 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 2,6% dan 2,5% dari proyeksi sebelumnya.
Revisi kenaikan proyeksi penjualan tersebut turut membuat estimasi rasio biaya operasional terhadap penjualan (opex-to-sales) menjadi lebih rendah, masing-masing 25,5% dan 25,8%, dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 25,8% dan 26,1%.
Alhasil, Indo Premier menaikkan proyeksi laba KLBF untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 7% dan 11%.
Sejalan dengan perubahan proyeksi tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham KLBF sekaligus menaikkan target harga menjadi Rp 1.300 per saham.
Target harga tersebut menggunakan asumsi price to earnings (PE) 16 kali, atau sekitar 1 standar deviasi di bawah rata-rata PE KLBF selama lima tahun.
Andrianto menilai valuasi saham KLBF saat ini masih relatif menarik. Saham KLBF diperdagangkan pada sekitar 9,1 kali PE berdasarkan estimasi laba tahun buku 2026.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, terutama pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, kenaikan biaya bahan baku, serta potensi perlambatan pertumbuhan penjualan.
Dengan demikian, kekuatan penjualan consumer health dan distribusi menjadi penopang utama prospek KLBF hingga akhir tahun. Namun, kemampuan perseroan mempertahankan margin di tengah tekanan biaya dan kurs akan menjadi faktor penting terhadap kinerja laba ke depan.
Pada tahun ini, pendapatan dan laba bersih masing-masing akan membukukan Rp 38,99 triliun dan Rp 3,69 triliun. Sementara di tahun 2027 pendapatan dan laba KLBF akan mencapai Rp 42,18 triliun dan Rp 4,11 triliun.
Harga saham KLBF turun 0,66% dari level Rp 760 hingga pukul 14.39 WIB pada Kamis (10/9/2026).