TEROPONGBISNIS.ID —
Posisi Beijing: Menolak Intervensi Eksternal
Xi menegaskan bahwa rakyat Timur Tengah harus menjadi tuan bagi urusan mereka sendiri. Pernyataan ini mengemuka dalam pertemuan bilateral dengan el-Sisi di Istana Kepresidenan Ittihadiya, yang ditandai dengan penghormatan 21 tembakan meriam untuk menyambut kedatangan pemimpin China tersebut."Kita harus menjunjung prinsip bahwa rakyat Timur Tengah adalah tuan bagi urusan mereka sendiri, menentang intervensi eksternal [dan] mendukung negara-negara kawasan dalam memperkuat dialog tentang perdamaian dan keamanan," ujar Xi, dikutip dari kantor berita negara China, Xinhua.
Baik Xi maupun el-Sisi mendesak solusi diplomatik untuk mencapai kesepakatan komprehensif yang mengakhiri perang, menurut pernyataan resmi juru bicara el-Sisi. Posisi ini menjadi penegasan China atas perannya sebagai aktor alternatif di kawasan yang selama ini didominasi pengaruh Amerika Serikat.
Perluasan Investasi di Zona Terusan Suez
Selain membahas isu keamanan, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan kesepakatan peluncuran fase ketiga kawasan industri Mesir-China di Terusan Suez. Pemerintah Mesir menyatakan kawasan tersebut telah menampung sekitar 200 perusahaan dengan total investasi mencapai USD 4 miliar atau setara Rp 65,7 triliun (kurs Rp 16.400).Nilai investasi baru untuk fase ketiga belum diumumkan secara resmi oleh otoritas Mesir. Langkah ini memberi Beijing pengaruh lebih besar di jalur pelayaran yang menjadi arteri penting perdagangan global, terutama saat konflik regional mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb.
Xi menyatakan kesiapan China untuk bekerja sama dengan negara-negara kawasan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan memajukan kerja sama pembangunan. Sejumlah perjanjian tambahan turut ditandatangani, meski pejabat Mesir belum membeberkan detailnya.
Negara Kawasan Mulai Menimbang Ulang Aliansi Keamanan
Kunjungan Xi terjadi di saat kepercayaan negara-negara Teluk terhadap jaminan keamanan tradisional AS mulai goyah. Mirette Mabrouk, peneliti senior di Middle East Institute yang berbasis di Washington, menilai Beijing melihat momen ini ketika "Amerika Serikat tampak tidak bisa memutuskan apakah ingin menarik diri dari kawasan atau lebih terlibat".Mesir sendiri selama ini menerima bantuan militer AS sebesar USD 1,3 miliar per tahun dan berperan sebagai mediator kunci di Timur Tengah. Namun demikian, kedekatan baru dengan China merupakan bagian dari strategi Kairo untuk diversifikasi kemitraan, bukan sekadar berpindah haluan dari satu kekuatan ke kekuatan lain.
Dinamika serupa juga terlihat dari langkah Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan yang pada bulan lalu menandatangani Aliansi Pertahanan Makkah. Pakta yang memuat klausul ala Pasal 5 NATO tersebut menegaskan bahwa serangan terhadap salah satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Para pejabat ketiga negara menekankan aliansi ini tidak dimaksudkan menggantikan perjanjian keamanan yang telah ada.
Beijing diprediksi akan semakin memperkuat posisinya menjelang pertemuan yang dijadwalkan antara Xi dan Presiden AS Donald Trump dalam waktu dekat. Sementara itu, Xi dijadwalkan mengunjungi Grand Egyptian Museum yang menghadap Piramida Giza pada Rabu (yang sama) setelah rangkaian pertemuan resmi berakhir.