JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan fenomena El Nino memberikan dampak terhadap laju inflasi Indonesia sepanjang tahun 2026. Kondisi cuaca tersebut utamanya memicu gejolak harga pada sektor bahan pangan.
"Kami BPS mencatat adanya transmisi dinamika cuaca iklim Seperti El Nino melalui pergerakan harga pada komponen pangan yang bergejolak," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis resmi BPS, dikutip, Rabu (2/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut penjelasan pihak BPS, dampak perubahan iklim ini sangat terasa pada tanaman pangan serta hortikultura yang membutuhkan pasokan air dan pola tanam stabil.
Pergerakan harga komoditas hortikultura sepanjang Agustus 2026 menunjukkan tren yang cukup beragam. Sebagian komoditas mengalami lonjakan harga hingga memicu inflasi, sedangkan sebagian lainnya justru mengalami penurunan harga sehingga mendorong terjadinya deflasi.
"Komoditas yang penyumbang inflasi kalau kami lihat secara bulanan ini ada cabai rawit ya ini andil terhadap inflasinya 0,2%. Ada kacang panjang, ada buncis, ada jagung manis, ada ketimun, ada semangka masing-masing komoditi yang saya sebutkan ini memberikan andil 0,01%," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, beberapa komoditas hortikultura lain turut memberikan andil terhadap deflasi pada Agustus 2026. Bahan pangan seperti bawang merah memberi andil deflasi sebesar 0,06%, tomat 0,05%, bawang putih 0,02%, serta bayam 0,01%.
Ateng menekankan bahwa naik turunnya harga bahan pangan tidak dapat sepenuhnya dihubungkan dengan fenomena El Nino semata. Berbagai elemen penentu lain di pasar juga ikut memengaruhi stabilitas harga komoditas pangan.
"Karena itu dampak fenomena iklim seperti El Nino ini tidak berdiri sendiri. Tentunya ini perlu dilihat secara komprehensif," jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan mencakup tingkat produksi, keseimbangan antara pasokan dan permintaan, kelancaran proses distribusi, ketersediaan barang di pasar, hingga pola konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, BPS mencatat fasilitas irigasi di beberapa wilayah masih berfungsi baik sehingga potensi panen pangan seperti padi tetap terjaga. Meski demikian, ada pula kawasan yang jaringan pengairannya mulai terkendala akibat iklim.
"Saya dari beberapa daerah Alhamdulillah ya, ada beberapa daerah yang ternyata pengairannya masih jalan. Artinya beberapa daerah itu masih ada potensi di padinya." sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Walaupun demikian, ada beberapa daerah yang mungkin ketika saat pengairannya itu masih terpengaruh oleh iklim. Nah ini yang perlu untuk diperhatikan," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain faktor produksi dan pengairan, Ateng menggarisbawahi pentingnya menjaga kelancaran jalur distribusi pangan agar gangguan produksi di daerah tertentu tidak langsung menaikkan harga pasar.
Guna melakukan langkah mitigasi, BPS bersama Kementerian Dalam Negeri dan kementerian terkait terus menggelar rapat koordinasi inflasi mingguan yang melibatkan seluruh pemerintah daerah di Indonesia.