Harga Minyak Dunia Tembus US$91,05 Per Barel usai Konflik AS-Iran

Ilustrasi minyak dunia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 02 September 2026 | 22:35:31 WIB

JAKARTA – Harga minyak dunia kembali melonjak hingga mencapai US$91,05 per barel pada perdagangan Selasa (1/9) setelah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali pecah. Esoknya, aksi saling serang yang memanas ini memicu kecemasan akan tersendatnya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent terangkat 56 sen atau 0,6 persen menjadi US$91,05 per barel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkerek 83 sen atau 1 persen menuju US$86,59 per barel.

Di sesi perdagangan sebelumnya, Brent ditutup melonjak 2,7 persen dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus. Sementara itu, WTI AS ditutup menguat 2,8 persen serta sempat berada di posisi tertinggi sejak 21 Agustus.

Penguatan harga minyak terjadi usai Presiden AS Donald Trump mengancam bakal meluncurkan serangan lanjutan ke Iran. Gertakan tersebut muncul lantaran Iran membalas gempuran AS pada Minggu (30/8), yang menjadi bentrokan perdana mereka dalam kurun sebulan.

"Ini membawa potensi pembalasan Iran kembali ke dalam perhitungan. Hal itu kemudian meningkatkan prospek kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak mentah," kata Chief Market Analyst KCM Tim Waterer sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ancaman terhadap kelancaran distribusi minyak semakin nyata setelah jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz menyusut menjadi hanya sekitar lima kapal per hari saat akhir pekan, seturut data Kpler.

Upaya penengahan yang digagas sejumlah negara seperti Qatar dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz juga belum membuahkan hasil.

Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia yang amat strategis. Sebelum bentrokan meletus pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global lalu lalang di jalur perairan tersebut.

Iran memutuskan menutup jalur perairan itu usai AS dan Israel menggempur wilayahnya pada 28 Februari. Ancaman terhadap lalu lintas pelayaran pun kembali terlihat.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengabarkan sebuah kapal tanker diserang tiga proyektil ketika sedang berlayar keluar dari Selat Hormuz. Kendati demikian, tidak ada korban jiwa maupun dampak kerusakan lingkungan yang dilaporkan.

Pada sisi lain, dinamika pasokan minyak asal Venezuela turut menjadi sorotan para pelaku pasar. Trump sebelumnya mengumumkan adanya kesepakatan dengan Venezuela untuk mengelola cadangan minyak negara tersebut.

Ia lantas menyampaikan bahwa minyak Venezuela akan dimanfaatkan guna mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang saat ini berada di kisaran level terendah dalam 44 tahun.

Beberapa korporasi energi seperti Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia dilaporkan tengah bersiap meneken kesepakatan akhir terkait proyek energi di Venezuela.

Reporter: Akbar