JAKARTA – Harga emas dunia melesat sepanjang perdagangan kemarin. Bagaimana proyeksi harga sang logam mulia untuk September?
Pada Senin (31/8/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.452,1/troy ons. Angka tersebut turun tipis 0,02% dibandingkan hari sebelumnya.
Akan tetapi, harga emas mampu membukukan lonjakan 10,12% sepanjang Agustus. Kenaikan ini menjadi lonjakan bulanan tertinggi sejak Januari.
Lesatan harga emas terjadi pada pertengahan Agustus setelah Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan kebijakan pembelian kembali (buyback) obligasi. Intervensi ini membuat imbal hasil (yield) surat utang Negeri Paman Sam turun, lalu melemahkan kurs dolar AS.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga diuntungkan saat instrumen lain menawarkan cuan yang lebih sedikit. Di samping itu, emas juga dibanderol dalam dolar AS sehingga makin menarik bagi investor pemegang mata uang lain ketika greenback terdepresiasi.
Namun, harga emas mengalami koreksi dalam dua hari terakhir. Penyebab pertama tentu karena aksi ambil untung (profit taking) mengingat harganya sudah naik sangat tinggi.
Faktor kedua adalah pidato Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir pekan lalu. "Menuju inflasi 2% adalah komitmen yang tidak bisa ditawar dan bank sentral Negeri Adikuasa akan mengerahkan berbagai kebijakan untuk menuju ke sana, termasuk suku bunga," kata Kevin Warsh sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pernyataan tersebut menciptakan guncangan di pasar. Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% dalam rapat September kini mencapai 65,4%.
Saat peluang kenaikan suku bunga membesar, tentu hal ini bukan kabar baik bagi emas.
Lantas, bagaimana perkiraan harga emas pada September? Apakah masih bisa naik lagi atau justru terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), emas berada nyaman di zona bullish. Hal tersebut terbukti dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 64, di mana angka di atas 50 menunjukkan aset dalam posisi bullish.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI 14 hari berada di angka 16. Nilai di bawah 20 sudah tergolong jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan September, harga emas kemungkinan bisa mengalami penurunan. Kenaikan harga yang sudah tergolong tinggi tentu memicu risiko koreksi teknikal.
Target koreksi terdekat berada di level US$ 4.332/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Apabila tertembus, harga emas berpotensi menguji level US$ 4.311-4.180/troy ons.
Cermati pivot point di US$ 4.068/troy ons. Sebab dari titik ini, ada risiko harga emas mengetes level US$ 4.020-3.819/troy ons.
Target paling pesimistis berada di US$ 3.678/troy ons.
Namun jika harga emas naik, level US$ 4.502/troy ons dapat menjadi target resisten terdekat. Sementara itu, US$ 5.084/troy ons menjadi target paling optimistis.