JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Agustus 2026 pada hari ini, Selasa (1/9/2026).
Inflasi Indonesia diproyeksikan kembali meningkat pada Agustus 2026 setelah mengalami deflasi pada bulan sebelumnya.
Konsensus 12 ekonom memperkirakan inflasi tahunan mencapai 3,14%, dengan kenaikan harga pangan, faktor musim dan cuaca, serta perkembangan harga energi menjadi penekan utama.
Berdasarkan BIG Consensus Insights yang dihimpun DataIndonesia, bagian dari riset Bisnis Indonesia Group (BIG), median proyeksi inflasi Agustus 2026 mencapai 3,14% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Rentang proyeksi para ekonom dan analis berada pada 2,8% hingga 3,31%.
Secara bulanan, median proyeksi inflasi mencapai 0,14% month-to-month (MoM).
Angka tersebut berbalik dari realisasi Juli 2026 yang mencatatkan deflasi 0,14% MoM.
Sementara itu, inflasi sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YtD) hingga Agustus diproyeksikan mencapai 1,8%, meningkat dari 1,65% pada Juli.
Proyeksi inflasi tahunan Agustus juga lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 2,31%.
Dari seluruh ekonom yang berpartisipasi, Chief Economist BCA David E. Sumual memberikan proyeksi tertinggi untuk inflasi bulanan, yakni 0,33% MoM.
Dengan proyeksi tersebut, inflasi tahunan diperkirakan mencapai 3,31% YoY.
Sebaliknya, Ekonom Senior Prasasti Piter Abdullah memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) pada Agustus masih mengalami deflasi 0,05% MoM.
Namun, secara tahunan inflasi tetap diproyeksikan mencapai 2,8% YoY.
BIG Consensus Insights juga menunjukkan adanya peningkatan tekanan inflasi inti.
Median proyeksi inflasi inti Agustus mencapai 0,21% MoM atau 2,87% YoY, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Juli sebesar 0,14% MoM dan 2,76% YoY.
Gejolak harga pangan atau volatile food menjadi faktor yang paling banyak disebut ekonom sebagai pendorong inflasi Agustus.
Selain itu, faktor musim dan cuaca, pergerakan harga energi dan komoditas global, serta harga yang diatur pemerintah atau administered prices turut menjadi perhatian.
Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) Irman Faiz memperkirakan inflasi Agustus mencapai 3% YoY, dengan inflasi bulanan sebesar 0,03% MtM.
Inflasi inti diproyeksikan meningkat ke kisaran 2,87%.
"Secara bulanan, tekanan harga sebenarnya masih relatif rendah. Kenaikan inflasi headline [umum] dari 2,88% menjadi sekitar 3% YoY lebih banyak disebabkan oleh base effect [basis yang rendah], bukan karena terjadi lonjakan tekanan harga secara bulanan," urai Irman sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Irman, perkembangan harga pada Agustus diwarnai oleh tarik-menarik antar-komponen.
Sejumlah komoditas pangan seperti bawang masih mengalami koreksi sepanjang Agustus, sedangkan ketersediaan stok beras pemerintah dinilai masih relatif kuat.
Penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Agustus juga turut menahan tekanan pada komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices.
Namun, tekanan deflasi pangan diperkirakan tidak sedalam capaian Juli.
Harga daging ayam dan cabai mulai meningkat menjelang akhir Agustus sehingga memberikan dorongan terhadap inflasi.
Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan tetap positif akibat kenaikan biaya pendidikan pada momentum tahun ajaran baru serta kontribusi sejumlah komponen jasa.
Selain memperkirakan inflasi Agustus mencapai 3,31% YoY dan 0,33% MtM, David Sumual memproyeksikan inflasi inti berada pada level 2,98% YoY dan 0,27% MtM.
"Inflasi didorong oleh kenaikan harga bahan pokok, terutama daging ayam dan cabai. Selain itu, inflasi inti juga terdorong di semua produk, terutama dengan harga emas yang kembali naik," papar David sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain tekanan pangan dan harga emas, risiko inflasi juga berpotensi meningkat hingga akhir tahun.
David menyoroti kenaikan kembali harga minyak dunia serta risiko kekeringan akibat fenomena El Nino.
Risiko tersebut juga menjadi perhatian Irman.
Irman memperingatkan potensi tekanan lanjutan dari harga pangan akibat kondisi cuaca yang lebih kering, di tengah harga minyak global yang kembali meningkat sejak akhir Juli.
Team Leader Macroeconomic Research, Econometric Modelling & Analytics at OCE BRI Ramadani Partama juga memperkirakan tekanan inflasi ke depan cenderung meningkat.
Inflasi akhir 2026 diproyeksikan berada dalam kisaran 3,29% hingga 3,43%.
Menurut Ramadani Partama, tekanan harga dapat berasal dari transmisi inflasi harga perdagangan besar atau inflasi di tingkat produsen ke konsumen.
Inflasi barang impor akibat nilai tukar rupiah yang masih tertekan juga menjadi risiko.
Selain itu, dampak El Nino terhadap masa panen komoditas pangan perlu diwaspadai.
Gangguan pasokan pangan berpotensi mendorong kenaikan harga dan memperbesar tekanan inflasi.
Proyeksi tersebut sejalan dengan hasil BIG Consensus Insights.
Sebanyak 57,33% ekonom memperkirakan inflasi akhir 2026 akan melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 2,5%.
Sementara itu, 41,67% responden memperkirakan inflasi masih berada sesuai target pemerintah.
Konsensus ekonom menempatkan gejolak harga pangan, faktor musim dan cuaca, serta perkembangan harga energi dan komoditas global sebagai risiko utama inflasi hingga penghujung tahun.
Dengan median proyeksi 3,14%, perkembangan inflasi Agustus menjadi indikator penting untuk melihat keberlanjutan tekanan harga setelah deflasi pada Juli 2026.