Harga Batu Bara Capai US$ 144 Melonjak Tertinggi dalam Sejarah China

Ilustrasi Batu Bara (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 01 September 2026 | 22:51:41 WIB

JAKARTA – Harga batu bara melonjak pesat dengan dorongan dari kenaikan harga minyak serta kendala pada pasokan.

Pada perdagangan Senin (31/8/2026), harga batu bara ditutup pada level US$ 144 per ton setelah melonjak 3,04 persen.

Penguatan ini membuat harga batu bara menembus level US$ 140 untuk pertama kalinya sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 12 Juni 2026.

Tren positif ini terus berlanjut dengan penguatan sebesar 4,04 persen sepanjang empat hari terakhir.

Selama bulan Agustus 2026, akumulasi lonjakan harga batu bara sudah mencapai 7,5 persen.

Peningkatan harga batu bara ini dipicu oleh kembali memanasnya harga minyak dunia.

Pada Selasa (1/9/2026), harga minyak jenis brent tercatat kembali menyentuh level US$ 91 per barel.

Kendala pada ranah pasokan turut membuat harga batu bara makin membara.

China masih mengalami masalah pasokan batu bara kokas (coking coal) selama kurun waktu berbulan-bulan.

Kondisi tersebut memicu harga bahan baku utama industri baja melonjak 46 persen sepanjang Agustus 2026 dan menjadi kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.

Pada Senin (31/8/2026), kontrak berjangka coking coal di bursa Dalian China terangkat sekitar 6 persen di tengah gangguan pasokan usai insiden kecelakaan tambang pada Mei lalu serta meningkatnya pemeriksaan keselamatan.

Apabila bertahan, lonjakan 46 persen dalam sebulan akan memecahkan rekor sejak kontrak berjangka coking coal Dalian diperdagangkan pada 2013.

Sebelumnya, rekor tertinggi tercatat pada Juli 2025 saat harganya meroket hingga 38 persen.

Dampak dari lonjakan harga tersebut tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri di China.

Produsen baja di India sebagai negara penghasil baja terbesar kedua di dunia mulai tertekan marginnya akibat membengkaknya biaya bahan baku.

India mengandalkan pasokan impor hingga 95 persen untuk memenuhi kebutuhan coking coal domestik.

Batu bara jenis ini mengandungkan kadar karbon lebih tinggi serta kadar abu dan kelembapan yang lebih rendah dibandingkan batu bara termal pembangkit listrik.

Di Australia, harga premium coking coal FOB melonjak 25 persen pada tujuh bulan pertama 2026 dibandingkan periode sama tahun lalu akibat gangguan pasokan.

Lonjakan harga ini dipicu oleh lambatnya peningkatan produksi tambang baru, pembengkakan biaya akibat perang Iran, gangguan pasokan Australia, serta ledakan tambang di Provinsi Shanxi, China, yang menewaskan lebih dari 80 orang.

Raksasa tambang BHP menilai harga batu bara industri baja menguat dibanding 2025 karena tingginya permintaan impor India dan gangguan pasokan global.

Kenaikan harga dari mulut tambang membuat biaya pengadaan pedagang pelabuhan membengkak sehingga pasokan spot makin ketat dan sulit didapatkan.

Kondisi tersebut pada akhirnya memicu harga jual di area pelabuhan terdorong semakin tinggi.

Harga batu bara termal di pelabuhan utara China turut melaju kencang akibat ketatnya pasokan serta tingginya biaya pengadaan dari mulut tambang.

Kenaikan harga domestik ini makin mempersempit keunggulan harga batu bara impor yang sebelumnya jauh lebih murah bagi pembangkit listrik China.

Di sisi lain, pasokan coking coal dari Mongolia ke China terus menyusut usai Pelabuhan Ganqimaodu memperketat pemeriksaan lingkungan dan melarang penyimpanan di area terbuka.

Lalu lintas truk melintas merosot menjadi 505 unit pada 27 Agustus dan menjadi yang terendah sejak Oktober 2025.

Dampaknya, pasokan batu bara pada tiga pelabuhan perbatasan utama China anjlok 73,7 persen menjadi 68.175 ton.

Stok batu bara Mongolia di Ganqimaodu juga menyusut 32 persen dalam dua pekan menjadi 2,31 juta ton pada 28 Agustus.

Sebagai pemasok coking coal terbesar yang menyumbang separuh impor bahan baku baja China, gangguan dari Mongolia ini ikut mengerek harga.

Sementara itu, Coal India menetapkan target produksi batu bara sebesar 815 juta ton pada tahun fiskal 2026/2027 (FY27) dan 1 miliar ton per tahun pada FY30.

Perusahaan tambang milik negara India tersebut mempercepat rencana penawaran umum perdana (IPO) dua anak usahanya, yakni Mahanadi Coalfields dan Southeastern Coalfields.

Langkah strategis ini diambil Coal India untuk mengoptimalkan produksi sekaligus membuka nilai perusahaan di pasar modal.

Namun, sekitar 84 tambang Coal India saat ini dilaporkan masih beroperasi dalam kondisi merugi.

Reporter: Akbar