TEROPONGBISNIS.ID — BRI menyelesaikan semester pertama 2026 dengan kinerja yang solid. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp31,2 triliun, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini diumumkan dalam paparan kinerja triwulan II 2026 pada Senin (31/8).
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengaitkan pencapaian ini dengan agenda transformasi berkelanjutan yang diberi nama Repollution Reignite. Fokusnya pada perbaikan fundamental, disiplin efisiensi, dan manajemen risiko yang prudent.
Efisiensi Biaya Dana dan Perbaikan Kualitas Aset
Penurunan cost of fund menjadi faktor kunci. Secara bank only, biaya dana turun dari 3% pada triwulan II-2025 menjadi 2,4% pada triwulan II-2026, atau menyusut 0,7%.
Rasio efisiensi lain juga membaik. Cost of Income Ratio (CIR) turun dari 41,9% menjadi 39,2% dalam periode yang sama. Kualitas aset terlihat dari rasio Non-Performing Loan (NPL) yang mengecil dari 3% menjadi 2,9%, dan Cost of Credit (CoC) yang ditekan dari 3,4% menjadi 3,1%.
Return on Equity Tembus 18,8%
Perbaikan fundamental tersebut mendongkrak rasio profitabilitas. Return on Equity (ROE) melonjak dari 16,6% menjadi 18,8%, sementara Return on Assets (ROA) bertahan di level 2,7%.
"Kombinasi antara funding yang lebih efisien, margin yang tetap kuat dan kualitas aset yang membaik pada akhirnya mulai meningkatkan kualitas return BRI," ujar Hery dalam konferensi pers, Senin (31/8).
Disiplin Pertumbuhan Tetap Dijaga
Hery menegaskan BRI tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian di tengah pertumbuhan laba yang tinggi. "Bisa dilihat pertumbuhan profit kita cukup bagus, kualitas pertumbuhan kita juga dari sisi disiplin pertumbuhan kita tetap jaga," kata dia.
Manajemen optimistis dapat mempertahankan momentum ini ke depan. Namun, prudential banking dan prinsip kehati-hatian tetap menjadi pegangan utama dalam menjalankan bisnis ke depan.