TEROPONGBISNIS.ID — Kenaikan tarif ini bukan keputusan mendadak. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin menyebut penetapan tarif Rp15.000 merupakan hasil kajian mendalam yang mempertimbangkan keberlanjutan operasional dan Standar Pelayanan Minimum (SPM). “Penetapan tarif Rp15 ribu merupakan hasil kajian mendalam demi keberlanjutan layanan dan tetap disubsidi Pemprov DKI Jakarta, sehingga masyarakat tetap mendapatkan moda transportasi menuju bandara yang sangat terjangkau,” tulis Budi dalam keterangan resmi pertengahan Juli lalu.

Biaya Produksi Rp70.000, Penumpang Cukup Bayar Rp15.000

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) Welfizon Yuza mengungkapkan biaya produksi layanan rute Blok M–Soekarno-Hatta mencapai Rp70.000 per penumpang. Artinya, setiap penumpang yang membayar Rp15.000 masih mendapat subsidi Rp55.000 dari APBD DKI Jakarta.

Beban subsidi ini memang disengaja. Pemprov DKI ingin memastikan akses ke bandara tidak menjadi beban ekonomi bagi warga. Sebagai perbandingan, tarif taksi atau ride-hailing dari Blok M ke Soekarno-Hatta bisa mencapai Rp200.000–Rp300.000 pada kondisi normal, sementara bus Damri rute serupa mematok tarif di kisaran Rp60.000–Rp100.000.

Mengapa Tarif Naik Hampir 4 Kali Lipat?

Selama masa pengenalan sejak 12 Maret 2026, tarif Rp3.500 jelas jauh di bawah biaya produksi. Namun subsidi penuh sebesar Rp66.500 per penumpang dalam jangka panjang akan membebani anggaran daerah. Kenaikan ke Rp15.000 adalah langkah kompromi: tetap di bawah tarif pesaing, tetapi mengurangi tekanan fiskal.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pemberlakuan tarif baru tidak mundur. “Mengenai tarif Rp15.000 karena ini sudah diumumkan dan diputuskan, besok akan diberlakukan untuk tarif dari Blok M ke Soekarno-Hatta yaitu Rp15.000 berlaku,” ujar Pramono di Jakarta Selatan, Senin (31/8).

SPM dan Keberlanjutan Jadi Alasan Utama

Keputusan Gubernur Nomor 685 Tahun 2026 menjadi dasar hukum tarif baru tersebut. Dalam regulasi itu, tarif ditetapkan tidak hanya untuk menutup biaya operasional, tetapi juga untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum—termasuk frekuensi keberangkatan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang.

Dengan tarif Rp15.000, Transjakarta diharapkan dapat menjaga kualitas layanan tanpa harus menambah porsi subsidi yang terlalu besar. Apalagi rute ini melayani koneksi langsung ke bandara tersibuk di Indonesia, yang volumenya terus tumbuh seiring pemulihan perjalanan udara.

Bagi pengguna, kenaikan ini tetap masuk akal dibandingkan opsi transportasi lain yang jauh lebih mahal. Namun yang perlu diperhatikan adalah konsistensi jadwal dan kapasitas armada, karena tarif murah tanpa ketepatan waktu hanya akan membuat penumpang beralih ke moda lain.

Perubahan tarif ini menjadi ujian pertama bagi Transjakarta dalam mengelola rute bandara. Ke depan, evaluasi berkala perlu dilakukan agar subsidi yang digelontorkan benar-benar tepat sasaran dan layanan tetap berkelanjutan secara finansial.

Reporter: Redaksi