Bukan Cuma Komoditas, Ini Pemicu Pergerakan AUD, CAD, dan NZD

Ilustrasi nilai tukar mata uang (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:44:23 WIB

JAKARTA – Pergerakan nilai tukar mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia (AUD), dolar Kanada (CAD), dan dolar Selandia Baru (NZD) tidak selalu sejalan dengan fluktuasi harga komoditas global.

Sensitivitas ketiga mata uang tersebut terhadap komoditas berbeda-beda tergantung pada struktur ekonomi serta karakteristik ekspor tiap negara. Di samping harga komoditas, performa ekonomi China, harga minyak mentah, kebijakan perdagangan, hingga arah suku bunga Amerika Serikat turut memegang peranan penting.

Berdasarkan data Trading Economics pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), nilai tukar AUD/USD ditutup pada level 0,71611 atau melemah 0,45 persen secara harian. Pasangan NZD/USD turut mengalami penurunan sebesar 0,61 persen ke tingkat 0,5914.

Di sisi lain, pergerakan pasangan USD/CAD justru tercatat menguat 0,33 persen menuju posisi 1,3900.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan bahwa perbedaan struktur ekspor menyebabkan pengaruh komoditas terhadap AUD, CAD, dan NZD menjadi tidak seragam.

"Pengaruh terbesar terhadap AUD datang dari komoditas ekspor Australia seperti batu bara, LNG, bijih besi, dan emas. Kenaikan harga komoditas meningkatkan pendapatan ekspor dan terms of trade sehingga cenderung mendukung AUD," ujar Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Australia mempunyai paparan yang amat besar terhadap beragam komoditas, terutama emas serta batubara. Oleh sebab itu, dinamika harga komoditas menjadi salah satu elemen kunci yang patut diperhatikan lantaran sanggup memengaruhi pendapatan ekspor dan kondisi perdagangan negara tersebut.

Merujuk pada data Trading Economics saat penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), harga emas terkoreksi 3,18 persen secara harian ke level US$ 4.454 per ons troi. Sementara itu, komoditas batubara berada pada tingkat US$ 139,7 per ton dengan penguatan 0,18 persen dalam sehari.

Kendati demikian, prospek mata uang AUD tidak semata-mata ditentukan oleh pergerakan harga komoditas. Dinamika perekonomian China turut menyita perhatian mengingat negara tersebut merupakan pasar tujuan ekspor utama bagi Australia.

Perubahan tingkat permintaan dari China sanggup memengaruhi kinerja perdagangan Australia secara langsung. Apabila aktivitas ekonomi China membaik, permintaan akan komoditas serta produk ekspor Australia berpotensi meningkat sehingga memberikan topangan bagi AUD, sedangkan perlambatan ekonomi China bisa menjadi beban.

Berbeda dari AUD, dolar Kanada (CAD) mempunyai tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap fluktuasi harga minyak mentah. Kondisi ini dipicu oleh status Kanada sebagai salah satu produsen sekaligus eksportir energi terbesar di dunia.

"CAD paling sensitif terhadap harga minyak karena Kanada merupakan eksportir energi besar, sehingga minyak di sekitar US$ 83 per barel akan mendukung CAD," kata Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun demikian, penguatan CAD tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah semata. Hubungan serta kebijakan perdagangan antara Kanada dengan Amerika Serikat juga memegang peranan dalam membentuk sentimen pasar.

Lukman menyampaikan bahwa dinamika hubungan perdagangan Kanada dengan AS sempat memberikan tekanan pada CAD meskipun harga minyak sedang berada di posisi yang cukup tinggi.

Dengan demikian, lonjakan harga minyak tidak serta-merta menjamin apresiasi CAD jika terdapat ancaman hambatan perdagangan maupun faktor eksternal lain yang memberatkan ekonomi Kanada.

Sementara itu, pergerakan dolar Selandia Baru (NZD) menampilkan karakteristik yang berbeda dibanding AUD maupun CAD. Efek komoditas terhadap NZD cenderung lebih tidak langsung akibat struktur ekspor Selandia Baru yang didominasi oleh produk pertanian.

"Untuk NZD, pengaruh komoditas lebih tidak langsung karena ekspor Selandia Baru lebih banyak berasal dari sektor pertanian, sehingga faktor suku bunga dan kondisi ekonomi China/global lebih dominan," ujar Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi perekonomian global dan China sangat krusial bagi NZD karena perubahan permintaan internasional bakal memengaruhi kinerja ekspor Selandia Baru. Di saat yang sama, ekspektasi arah suku bunga menjadi pertimbangan utama investor dalam mengukur daya tarik NZD.

Walau masing-masing memiliki struktur ekonomi dan komoditas unggulan yang tak sama, AUD, CAD, serta NZD tetap terpengaruh oleh pergerakan dolar AS dan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Perbedaan tingkat suku bunga antara Amerika Serikat dengan Australia, Kanada, maupun Selandia Baru berpotensi memicu pergeseran aliran modal global. Saat ekspektasi suku bunga AS naik, dolar AS cenderung mendapat dorongan yang pada akhirnya menekan mata uang negara lain.

Sebaliknya, prospek pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed dapat meringankan tekanan terhadap mata uang komoditas, terlebih bila fondasi ekonomi negara-negara tersebut tetap kuat.

Lukman mengungkapkan bahwa risiko terbesar bagi mata uang berbasis komoditas adalah lonjakan USD yang berkelanjutan apabila The Fed kembali mengambil sikap hawkish, terutama jika tingkat inflasi AS tetap tinggi.

Di luar kebijakan moneter Amerika Serikat, potensi ancaman perlambatan ekonomi global serta China juga wajib diantisipasi. Penurunan aktivitas ekonomi dapat menekan tingkat permintaan komoditas yang pada akhirnya berisiko memperlemah mata uang negara-negara produsen komoditas.

Reporter: Akbar