Harga Bitcoin Diproyeksikan Sentuh Rp 2,66 Miliar pada Pertengahan 2027

Ilustrasi Bitcoin (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:52:46 WIB

JAKARTA – Harga Bitcoin diproyeksikan mencapai rekor tertinggi baru sebesar 150.000 dollar AS pada pertengahan 2027.

Proyeksi ini disampaikan oleh analis Bernstein yang melihat peluang kenaikan Bitcoin di tengah perubahan kondisi ekonomi global dan kekhawatiran pelemahan nilai mata uang.

Dengan asumsi kurs Rp 17.700 per dollar AS, harga Bitcoin 150.000 dollar AS tersebut setara sekitar Rp 2,66 miliar.

Analis Bernstein yang dipimpin Gautam Chhugani memperkirakan Bitcoin dapat menyentuh level 300.000 dollar AS pada puncak siklus berikutnya di tahun 2029.

Mereka menilai tren makro berupa debasement trade dapat menjadi pendorong tambahan bagi pergerakan Bitcoin.

“Kenaikan imbal hasil menciptakan siklus yang saling memperkuat berupa peningkatan beban bunga, defisit fiskal yang lebih besar, dan kebutuhan pinjaman yang meningkat, sehingga keberlanjutan utang menjadi tantangan kebijakan yang semakin besar,” kata para analis Bernstein dalam catatan kepada klien pada Rabu (26/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Bernstein, era 40 tahun penurunan suku bunga kini telah berakhir. Pada saat yang sama, pemerintah menghadapi peningkatan biaya pembayaran utang ketika tingkat utang berdaulat membengkak, di mana utang pemerintah Amerika Serikat telah menyentuh 40 triliun dollar AS.

Bernstein memperkirakan pembuat kebijakan pada akhirnya akan lebih memilih pelemahan nilai mata uang (currency debasement) dibandingkan menghadapi tekanan fiskal.

Kondisi tersebut berpotensi menggenjot permintaan terhadap aset langka yang tidak mudah diciptakan atau nilainya terdilusi, termasuk Bitcoin.

Tren ini mulai terlihat dalam aktivitas perdagangan exchange-traded fund (ETF). Analis Senior ETF Bloomberg Eric Balchunas mengatakan “debasement trade is starting to replace AI mania,” yang berarti perdagangan berbasis kekhawatiran pelemahan nilai mata uang mulai menggantikan demam AI sebagaimana dilansir dari berita sumber.

ETF Bitcoin spot BlackRock, IBIT, serta ETF emas SPDR, GLD, kembali masuk ke dalam daftar 10 ETF yang paling aktif diperdagangkan. Keduanya menggeser posisi sejumlah ETF semikonduktor yang sebelumnya mendominasi daftar tersebut.

Bernstein menggunakan skenario dasar yang mengasumsikan Bitcoin masih mengikuti pola siklus historis empat tahunan.

Melalui skenario tersebut, Bitcoin diperkirakan kembali ke level sekitar 125.000 dollar AS pada akhir 2026, naik menjadi 150.000 dollar AS pada pertengahan 2027, dan mencapai sekitar 300.000 dollar AS pada 2029.

Namun, Bernstein juga memiliki skenario bullish apabila perubahan kondisi makro mendorong investor institusional meningkatkan pembelian Bitcoin secara agresif.

Dalam skenario tersebut, Bitcoin diperkirakan dapat mencapai 200.000 dollar AS pada pertengahan 2027 dan berpotensi menyentuh 500.000 dollar AS pada 2029. Dengan kurs Rp 17.700 per dollar AS, harga Bitcoin 500.000 dollar AS setara sekitar Rp 8,85 miliar.

Bernstein turut mempertahankan proyeksi jangka panjang Bitcoin di sekitar 1 juta dollar AS pada akhir 2033, atau sekitar Rp 17,7 miliar dengan kurs yang sama.

Bernstein menilai karakter Bitcoin sebagai hard asset semakin kuat didukung oleh basis pemegang yang lebih luas, meningkatnya akses investor institusional dan ritel, serta lingkungan regulasi yang lebih kondusif.

Sekitar 59 persen pasokan Bitcoin tidak berpindah selama 12 bulan terakhir. Sementara itu, harga Bitcoin telah melonjak 28 persen dalam 10 hari terakhir setelah sebelumnya sempat merosot sekitar 50 persen dari level puncaknya pada Oktober 2025.

Peningkatan partisipasi melalui ETF Bitcoin spot dan pembelian Bitcoin oleh perusahaan untuk kebutuhan treasury dinilai membantu membatasi penurunan dibandingkan siklus sebelumnya yang sempat mencatat koreksi 75 persen hingga 90 persen.

Selain proyeksi harga Bitcoin, Bernstein tetap memberikan peringkat Outperform untuk Strategy, yaitu perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai aset treasury.

Namun, Bernstein memangkas target harga saham Strategy menjadi 350 dollar AS dari sebelumnya 450 dollar AS. Pemangkasan tersebut mencerminkan perubahan prospek siklus Bitcoin dan percepatan dilusi saham.

Target baru tersebut mencerminkan potensi kenaikan 176 persen dari harga penutupan saham Strategy pada Selasa sebesar 126,83 dollar AS.

Strategy saat ini memegang 840.447 BTC, atau sekitar 4 persen dari total pasokan Bitcoin.

Bernstein menyebut neraca perusahaan yang semakin kuat memberikan cakupan kas sekitar 3,9 tahun untuk memenuhi kewajiban bunga tahunan dan pembayaran dividen saham preferen.

Namun, para analis menilai penguatan harga Bitcoin yang berkelanjutan dan pemulihan saham preferen Strategy STRC menuju 100 dollar AS dapat membuat perusahaan tersebut kembali agresif membeli Bitcoin.

Reporter: Akbar