Yield SBN Berpeluang Melandai usai Buyback Obligasi AS
JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana melakukan buyback obligasi jangka panjang untuk meredam lonjakan imbal hasil (yield) Treasury yang telah mengguncang pasar keuangan global. Rencana tersebut tak serta merta berdampak pada melandainya yield Surat Berharga Negara (SBN).
Prospek SBN dinilai masih positif, tetapi rencana buyback obligasi jangka panjang oleh US Treasury tidak otomatis membuat yield SBN terus melandai. Buyback memperbaiki likuiditas obligasi off-the-run dan dapat mengurangi tekanan teknis pada tenor panjang, sehingga sentimen global terhadap obligasi berpotensi membaik.
Penurunan yield SBN tenor 5 tahun dan tenor 10 tahun saat ini mencerminkan reli yang cukup cepat selama Agustus. Ruang penurunan berikutnya masih terbuka jika yield Treasury turun, rupiah stabil, dan arus asing berlanjut.
“Risiko utamanya muncul bila pasar membaca buyback sebagai respons terhadap tekanan fiskal AS, bukan sekadar pengelolaan likuiditas. Dalam kondisi itu, term premium global dapat tetap tinggi dan membatasi capital gain SBN,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Pemerintah AS dinilai merupakan sentimen positif bagi SBN, tetapi hal itu tidak dilihat sebagai alasan bahwa imbal hasil SBN akan terus turun secara lurus. Pada 19 Agustus, Kementerian Keuangan AS mengejutkan pasar dengan menggandakan ukuran pembelian kembali sejumlah obligasi jangka panjang menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi.
Tujuannya terutama memperbaiki likuiditas pasar dan meredam tekanan pada biaya pinjaman jangka panjang. Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil obligasi AS sempat turun, tetapi efeknya sangat singkat.
Pada 21 Agustus, imbal hasil obligasi AS 10 tahun kembali naik ke sekitar 4,73% karena kekhawatiran mengenai inflasi, besarnya defisit fiskal, tingginya penerbitan utang, dan risiko geopolitik belum berubah.
“Jadi, kebijakan tersebut bukan pelonggaran moneter oleh Bank Sentral AS dan bukan pula pengurangan permanen jumlah utang AS. Dampaknya terutama mengurangi tekanan likuiditas dan premi pada obligasi lama, sementara sumber tekanan mendasar terhadap imbal hasil tetap ada,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bagi Indonesia, pengaruhnya dinilai tetap positif melalui dua jalur. Jika imbal hasil obligasi AS turun, selisih imbal hasil SBN menjadi lebih menarik dan tekanan terhadap dolar dapat mereda, sehingga investor asing mempunyai insentif lebih besar masuk ke SBN.
Namun sebagian dampak positif tersebut sudah tercermin pada pasar. Berikut datanya:
Imbal hasil SBN 10 tahun turun dari sekitar 7,29% akhir Juli menjadi 7,02% pada 20 Agustus
Penurunan tersebut setara 31 basis poin sepanjang Agustus
Meski demikian, masih sekitar 95 basis poin lebih tinggi dibanding awal tahun
Data Kementerian Keuangan pada 18 Agustus menunjukkan imbal hasil tenor 5 tahun di 6,91% dan tenor 10 tahun 7,09%
Artinya, ruang penurunan tambahan dalam jangka sangat pendek sudah lebih terbatas.
“Saya melihat pembelian kembali obligasi AS sebagai penahan kenaikan imbal hasil SBN, bukan katalis yang sendirian mampu membawa SBN 10 tahun turun secara permanen ke bawah 7%,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Terkait strategi investor, mengejar kenaikan harga SBN setelah penurunan imbal hasil yang sangat cepat pada Agustus dinilai bukan langkah yang disarankan. Pada level sekitar 7,0% untuk tenor 10 tahun, sebagian berita baik dari stabilisasi rupiah, bertahannya BI-Rate, arus modal asing dan pembelian kembali obligasi AS sudah masuk ke harga.
Strategi yang lebih masuk akal dinilai adalah membeli secara bertahap ketika imbal hasil kembali naik. Berikut pertimbangan tenor bagi investor:
Tenor 3–5 tahun relatif menarik bagi investor yang mengutamakan pendapatan kupon dan kestabilan harga, karena sensitivitas harganya terhadap perubahan suku bunga lebih kecil
Tenor 7–10 tahun masih menarik bagi investor yang bersedia menghadapi pergerakan harga lebih besar dan mengincar keuntungan ketika imbal hasil turun
Pembelian agresif pada tenor 10 tahun akan lebih nyaman apabila tenor tersebut kembali mendekati 7,20%–7,40%
Ada alasan lain untuk tidak terlalu agresif pada level sekarang. Kurva SBN pada Agustus mulai kembali normal setelah sebelumnya sangat datar akibat tekanan risiko jangka pendek.
Pada saat yang sama, permintaan lelang SBN pada triwulan III mulai membaik setelah melemah pada semester pertama. Bagi investor jangka panjang, strategi terbaik dinilai bukan menebak titik terendah imbal hasil, melainkan mengunci imbal hasil secara bertahap ketika terjadi koreksi pasar.
“Apabila tujuan utamanya menahan sampai jatuh tempo, tenor 5 tahun memberikan keseimbangan yang lebih baik antara imbal hasil dan risiko harga. Sebaliknya, apabila tujuan utamanya memperoleh keuntungan dari kenaikan harga obligasi, tenor 10 tahun memberikan potensi lebih besar, tetapi risikonya juga lebih besar jika obligasi AS kembali mengalami tekanan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kinerja SBN berikutnya akan ditentukan oleh interaksi faktor global, domestik, fiskal, dan nilai tukar. Dari sisi global, arah Federal Reserve, US Treasury 10 tahun, harga minyak mentah global, indeks dolar (DXY), serta risiko geopolitik menjadi penentu utama premi risiko emerging markets.
Bank Indonesia memperkirakan yield Treasury tetap tinggi karena ekspektasi kenaikan Federal Funds Rate pada kuartal IV dan defisit fiskal AS yang lebar. Dari sisi domestik, faktor-faktor berikut akan memengaruhi permintaan SBN:
BI-Rate 5,75%
Inflasi Juli 2,88%
Stabilitas rupiah
Arus portofolio
Foreign portfolio investment pada kuartal III hingga 14 Agustus masih mencatat net inflow US$1,8 miliar, sehingga dukungan eksternal belum hilang. Risiko terbesar datang dari defisit transaksi berjalan yang melebar menjadi 3,3% PDB, kebutuhan pembiayaan APBN yang besar, serta kenaikan harga minyak.
“Jika ketiganya terjadi bersamaan dengan UST10Y mendekati 5%, investor akan meminta premi lebih tinggi dan penurunan yield SBN dapat terhenti,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Proyeksi hingga akhir 2026 menunjukkan yield SBN tenor 5 tahun berada pada kisaran 6,55%–6,85% dan yield SBN tenor 10 tahun pada kisaran 6,70%–7,00%. Berikut skenario alternatif menurut proyeksi lain:
Skenario sangat positif (imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun konsisten di bawah 4,5%, Bank Sentral AS tidak menaikkan suku bunga, harga minyak turun, rupiah menguat, arus asing ke SBN membesar): yield SBN tenor 5 tahun ke sekitar 6,80%–7,00% dan tenor 10 tahun ke 6,95%–7,15% pada akhir 2026
Skenario sebaliknya (imbal hasil obligasi AS kembali mendekati 5%, harga minyak tetap tinggi, rupiah kembali melemah di atas Rp18.000, pasar mengkhawatirkan defisit fiskal serta pasokan SBN 2027): yield SBN tenor 5 tahun kembali ke 7,35%–7,55% dan tenor 10 tahun ke 7,55%–7,80%
Departemen Keuangan AS akan meningkatkan nilai buyback surat utang Treasury tenor 10 tahun hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Sebelumnya, nilai buyback yang direncanakan hanya US$2 miliar.
Kebijakan tersebut akan berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026, mencakup sektor Treasury tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun. Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN tenor 5 tahun berada di level 6,80% per 24 Agustus 2026, sementara yield SBN tenor 10 tahun di level 6,97%.