TEROPONGBISNIS.ID — Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah yang cenderung tertekan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Dari dalam negeri, pelaku pasar mengamati paparan Calon Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam fit and proper test yang digelar hari ini.
Fokus BI pada Intermediasi Perbankan dan Kredit UMKM
Dalam paparannya, Destry menyoroti siklus ekonomi domestik yang dinilai belum optimal. Ia menekankan perlunya akselerasi di berbagai sektor, salah satunya dengan mendorong optimalisasi fungsi intermediasi perbankan nasional. Hal ini mengingat masih adanya undisbursed loan sebesar Rp2.548 triliun, atau sekitar 21 persen dari total plafon kredit yang disalurkan.
Selain itu, Destry juga melihat ruang untuk mendorong penyaluran kredit UMKM. Segmen ini dinilai krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, stabilitas ekonomi saja tidak cukup, sehingga diperlukan bauran kebijakan BI yang diikuti dengan mandat dan kapasitas kelembagaan yang lebih kuat.
Menanti Data Inflasi dan Perdagangan Pekan Depan
Dari sisi domestik, pasar tengah bersiap menyambut rilis sejumlah data ekonomi penting pada pekan depan. Data tersebut meliputi inflasi Agustus, kinerja neraca perdagangan Juli, PMI Manufaktur Indonesia, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Rangkaian data ini akan menjadi bahan evaluasi bagi pelaku pasar untuk mengukur fundamental ekonomi kuartal ketiga.
Sentimen Eksternal: Gencatan Senjata AS-Iran dan Sinyal The Fed
Dari eksternal, muncul laporan yang beredar di media Rusia bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kantor berita RIA melaporkan, mengutip sumber dari Pakistan dan Iran, bahwa kesepakatan tersebut mencakup kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan berpotensi diumumkan dalam beberapa hari ke depan. Pakistan sendiri telah berperan sebagai mediator utama dalam konflik kedua negara, termasuk memfasilitasi gencatan senjata sementara pada Juni lalu.
Di sisi lain, investor global tengah menanti data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dirilis Rabu waktu setempat. Lebih penting lagi, pidato perdana Ketua The Fed, Warsh, di simposium Jackson Hole pada Jumat akan menjadi sorotan utama. Pasar berharap pidato tersebut memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan, terutama terkait keseimbangan antara inflasi yang persisten dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, Presiden The Fed wilayah Boston, Susan Collins, menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah saat ini. Sikap ini diambil dengan catatan inflasi terus menunjukkan kemajuan menuju target 2 persen yang ditetapkan bank sentral.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Berikutnya
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada sesi perdagangan berikutnya. Potensi pelemahan masih terbuka dengan rentang pergerakan diperkirakan berada di level Rp17.720 hingga Rp17.760 per dolar AS.