TEROPONGBISNIS.ID — Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan (CAD) kuartal II 2026 menembus 12,5 miliar dolar AS, setara 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketahanan eksternal ekonomi nasional.

Menyusutnya surplus perdagangan barang serta melonjaknya tagihan impor energi menjadi faktor fundamental yang memperlebar celah defisit tersebut. Kondisi ini membuat investor cenderung merealisasikan keuntungan dan mengurangi eksposur risiko di pasar saham domestik.

Sentimen Global: Sanksi AS-Iran dan Data Ekonomi China

Dari eksternal, bursa saham Asia kompak bergerak di zona merah. Investor memilih bersikap hati-hati menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait rencana sanksi tambahan terhadap Iran. Eskalasi geopolitik Washington-Teheran ini membuat arus modal asing tertahan pada awal pekan.

Selain itu, pasar juga menantikan agenda Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25–28 Agustus 2026. Pelaku pasar berburu sinyal stimulus baru setelah serangkaian data ekonomi Beijing tampil mengecewakan.

Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang paling terpukul dengan anjlok 3,12 persen. Disusul Hang Seng Hong Kong yang merosot 1,89 persen, Nikkei Jepang terkikis 0,69 persen, Shanghai China turun 0,59 persen, dan Straits Times Singapura melemah tipis 0,15 persen.

Sektor Kesehatan Paling Tertekan, Barang Baku Jadi Penopang

Dari 11 sektor di bursa efek, sembilan di antaranya ditutup terkoreksi. Sektor kesehatan menjadi penekan utama dengan jatuh paling dalam sebesar 2,3 persen, diikuti properti yang melemah 1,27 persen, dan keuangan yang turun 0,86 persen.

Hanya dua sektor yang berhasil bertahan di zona hijau: sektor barang baku yang menguat 1,21 persen dan sektor industri yang naik tipis 0,15 persen. Indeks LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham unggulan juga ikut terkikis 0,41 persen ke posisi 641,95.

Di antara saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar hari ini adalah PICO, ELIT, dan SAFE. Sementara itu, saham MEJA, ICON, dan MPRO masuk dalam jajaran top losers dengan pelemahan paling dalam.

Koreksi ini menjadi pengingat bahwa tekanan eksternal dan fundamental domestik berjalan beriringan. Investor perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter global dan data makro ekonomi nasional dalam menentukan langkah selanjutnya.

Reporter: Redaksi