Harga CPO Naik 0,7 Persen, Capai Rekor Tertinggi dalam 20 Bulan

Ilustrasi minyak sawit (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:07:42 WIB

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan. Harga CPO berjangka Malaysia untuk kontrak November 2026 menguat sekitar 0,7 persen ke level 4.927 ringgit Malaysia per ton pada Kamis (20/8/2026), sekaligus mencatatkan rekor tertinggi dalam 20 bulan terakhir.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa kenaikan harga CPO didorong oleh tingginya kecemasan pasar atas ketersediaan pasokan dan potensi lonjakan permintaan minyak nabati di tingkat global.

“Men mencapai level tertinggi dalam 20 bulan,” tulis Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas dalam riset tertulisnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengenai pasokan, perhatian para pelaku pasar tertuju pada dampak fenomena El Nino yang berisiko memicu cuaca ekstrem serta mengganggu hasil produksi perkebunan kelapa sawit. Keadaan tersebut berpotensi membuat ketersediaan CPO secara global semakin terbatas.

Pada saat bersamaan, kewajiban penerapan biodiesel B50 di dalam negeri diprediksi bakal menekan ketersediaan CPO untuk komoditas ekspor. Makin tinggi penyerapan CPO bagi kebutuhan biodiesel domestik, makin berkurang volume yang dapat diperdagangkan di pasar internasional.

Ketatnya pasokan juga dipengaruhi oleh kondisi pasar minyak nabati jenis lainnya. Terhambatnya ekspor minyak bunga matahari akibat konflik Rusia-Ukraina berpotensi mengalihkan sebagian permintaan ke minyak sawit, yang menjadi sentimen tambahan pendorong harga CPO.

Pihak BRI Danareksa Sekuritas memandang angka 4.927 ringgit Malaysia per ton sebagai titik breakout yang krusial. Namun, penguatan mata uang ringgit Malaysia serta harga kedelai yang cukup kompetitif diperkirakan masih bisa menahan ruang kenaikan harga CPO lebih lanjut.

Peningkatan harga CPO ini berpeluang menjadi sentimen positif bagi emiten perkebunan sawit, khususnya perseroan yang berfokus pada penjualan CPO. Meski begitu, besarnya keuntungan tetap tergantung pada jumlah produksi, volume penjualan, serta struktur biaya operasional tiap perusahaan.

El Nino Godzilla Berpotensi Memicu Kenaikan Berikutnya

Tren peningkatan harga CPO diperkirakan masih belum akan berhenti. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahnaf Yassar menilai bahwa ancaman El Nino “Godzilla” dapat menjadi pendorong utama lonjakan harga CPO secara signifikan ke depannya.

“Menjelang El Niño Godzilla yang akan datang, kami memperkirakan kenaikan harga CPO yang signifikan akan terjadi ke depan,” kata Ahnaf dalam risetnya, Rabu (19/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia berpendapat bahwa kenaikan harga CPO sebesar 10 persen berpeluang memberikan dampak besar terhadap tingkat profitabilitas emiten perkebunan. Rata-rata laba bersih emiten perkebunan pada 2027 diproyeksikan sanggup melonjak hingga 37 persen.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) disebut menjadi salah satu perseroan yang berpotensi mendapatkan keuntungan terbesar apabila skenario kenaikan harga CPO tersebut dapat terealisasi.

Produksi 2026 Berisiko Tertekan

Di tengah prospek harga yang kian positif, industri kelapa sawit justru dibayangi ancaman dari sisi volume produksi. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengingatkan risiko kombinasi musim kemarau ekstrem dan kenaikan harga pupuk sebesar 30 hingga 50 persen akibat konflik Iran.

Tekanan ini berpotensi menurunkan volume produksi CPO Indonesia pada 2026 sekitar 1 hingga 2 juta ton apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang menembus 51,7 juta ton.

Apabila tingkat produksi menurun di tengah permintaan yang tetap tinggi, pasar CPO berisiko mengalami kondisi pasokan yang kian terbatas. Keadaan ini dapat menjadi pemicu tambahan bagi kenaikan harga CPO selanjutnya.

Selain persoalan cuaca dan biaya operasional produksi, GAPKI turut menyoroti penerapan kebijakan biodiesel B50 serta rencana alur ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang dapat memengaruhi dinamika produksi, penyerapan, dan ekspor CPO nasional.

Melalui kombinasi ancaman ketersediaan pasokan, potensi El Nino ekstrem, hambatan minyak nabati dunia, serta tingginya konsumsi domestik lewat B50, pasar sawit saat ini berada dalam kondisi menarik: harga CPO melonjak ketika pasokan justru berisiko makin terbatas.

Jika gangguan pada produksi benar-benar terjadi, peluang kenaikan harga CPO pada paruh kedua 2026 hingga 2027 diperkirakan bakal semakin terbuka lebar.

Reporter: Akbar