Treasury Buyback Obligasi, The Fed Waspadai Pelonggaran Kondisi Keuangan

Ilustrasi The Fed menegaskan kebijakan suku bunga tetap berfokus pada inflasi dan pasar tenaga kerja. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 01:55:57 WIB

JAKARTA - Dua pejabat Federal Reserve atau The Fed menyampaikan sikap hati-hati pada Kamis (20/8) saat menanggapi dampak perubahan strategi pengelolaan utang oleh Departemen Keuangan AS terhadap arah kebijakan moneter bank sentral.

Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem mengatakan The Fed akan tetap menjadikan pasar tenaga kerja dan inflasi sebagai dasar penentuan kebijakan moneter. Kebijakan pengelolaan utang maupun kebijakan fiskal pemerintah tidak akan memengaruhi pertimbangan tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8) mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS, terutama surat utang berjangka panjang.

Imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang belakangan melonjak karena kekhawatiran atas meningkatnya utang pemerintah AS. Inflasi yang masih berada di atas target The Fed sebesar 2% juga turut memengaruhi arus investasi.

Dampak intervensi Treasury tampak berlangsung singkat. Imbal hasil Treasury memang turun tajam pada Rabu, tetapi kembali meningkat pada Kamis.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan salah satu tujuan peningkatan pembelian kembali obligasi adalah memberi sinyal kepada pasar bahwa tingkat imbal hasil saat ini belum sepenuhnya merefleksikan fundamental ekonomi.

Langkah Treasury berpotensi menimbulkan tantangan bagi The Fed karena dapat membingungkan pasar mengenai lembaga yang menjadi penggerak utama kondisi keuangan. Jika buyback mampu menurunkan imbal hasil Treasury secara berkelanjutan, kondisi keuangan berpotensi menjadi lebih longgar.

Kondisi tersebut dapat berseberangan dengan kebijakan The Fed apabila bank sentral masih membutuhkan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Pelonggaran kondisi keuangan ketika tekanan harga belum mereda dapat membuat situasi pasar semakin berbeda dari yang diinginkan The Fed.

Situasi itu pada akhirnya dapat memperkuat alasan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan. Namun, Bessent pada Kamis membantah adanya potensi konflik antara Treasury dan The Fed.

Ia mengatakan keputusan suku bunga The Fed sepenuhnya terpisah dari kebijakan yang dijalankan Departemen Keuangan. Terkait kemungkinan perubahan neraca The Fed, Bessent menyebut kedua lembaga akan bekerja sama jika diperlukan.

Kerja sama tersebut termasuk untuk menyesuaikan diri dengan pengurangan kepemilikan obligasi yang dilakukan The Fed. Musalem sebelumnya berpendapat The Fed seharusnya menaikkan suku bunga ketimbang mempertahankannya pada kisaran 3,50%–3,75% dalam rapat 28–29 Juli.

Musalem memberi sinyal bahwa dirinya cenderung mendukung kenaikan suku bunga dalam rapat 15–16 September. Ia menilai kondisi keuangan saat ini cukup longgar dan dapat menopang aktivitas ekonomi.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly mengambil sikap lebih hati-hati. Dalam wawancara dengan Bloomberg Television, Daly menilai imbal hasil obligasi jangka panjang belum memberikan cukup petunjuk mengenai langkah penyesuaian kebijakan moneter yang seharusnya dilakukan The Fed.

Daly mengatakan kebijakan The Fed saat ini berada pada posisi yang tepat. Meski demikian, ia tetap memantau pergerakan obligasi jangka panjang untuk melihat sinyal pasar mengenai prospek ekonomi.

Daly juga menyatakan sangat mendukung keputusan The Fed mempertahankan suku bunga pada rapat Juli. Ketika ditanya mengenai perubahan strategi penerbitan utang Treasury melalui peningkatan surat utang jangka pendek, Daly menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.

Peningkatan penerbitan utang jangka pendek dapat menekan suku bunga pasar dan memunculkan tantangan teknis bagi The Fed dalam mengendalikan kebijakan suku bunga. Sistem pengendalian suku bunga The Fed bergantung pada kemampuannya memengaruhi pasar uang melalui berbagai instrumen dan fasilitas likuiditas.

Namun, Daly menilai persoalan utama bagi The Fed bukan hanya mekanisme teknis dalam menjalankan mandat inflasi dan ketenagakerjaan. Yang terpenting ialah komitmen bank sentral terhadap kedua mandat tersebut serta kemampuan untuk mencapainya.

Reporter: Ibtihal