Harga Batu Bara Kokas Melesat 25 Persen, Margin Produsen Baja India Tergerus

Ilustrasi pasokan batu bara (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 21 Agustus 2026 | 01:17:10 WIB

JAKARTA – Harga batu bara masih mengalami kenaikan di tengah melonjaknya harga minyak dunia serta masalah ketersediaan pasokan.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara ditutup pada level US$ 136,25 per ton pada perdagangan Kamis (20/8/2026) dengan kenaikan 1,11%. Penguatan ini melengkapi tren positif sebesar 1,98% selama empat hari berturut-turut.

Penguatan harga batu bara tersebut dipicu oleh pergerakan harga minyak bumi yang juga merambat naik.

Sebagai komoditas yang saling menggantikan, pergerakan harga batu bara dan minyak bumi saling mempengaruhi satu sama lain.

Harga kontrak pengiriman Oktober untuk minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat hampir 3% ke posisi US$ 86,83 per barel. Di sisi lain, minyak mentah jenis Brent turut merangkak naik lebih dari 2% menuju angka US$ 93,78 per barel.

Di kawasan India, lonjakan harga batu bara kokas (coking coal) sebesar 25% tahun ini mulai mengikis margin keuntungan produsen baja serta menghambat rencana perluasan kapasitas produksi.

Industri dalam negeri India tercatat sangat bergantung pada pasokan luar negeri, dengan porsi impor mencapai 95% dari seluruh kebutuhan batu bara kokas.

Jenis batu bara metalurgi ini memegang peranan penting sebagai bahan baku utama pembuatan baja. Apabila dibandingkan dengan batu bara termal untuk pembangkit listrik, batu bara kokas mempunyai konsentrasi karbon yang jauh lebih tinggi namun kadar abu dan kelembapannya rendah.

Tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri menyebabkan gejolak pasokan dan kenaikan harga di pasar global terus menghimpit para pelaku industri baja di India.

Kenaikan harga premium coking coal asal Australia secara FOB tercatat mencapai 25% sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lonjakan tersebut dipicu oleh lambatnya pertumbuhan kapasitas tambang baru, kenaikan biaya dampak konflik Iran, disrupsi produksi di Australia, hingga kecelakaan fatal di tambang Shanxi, China, yang merenggut lebih dari 80 korban jiwa.

Perusahaan pertambangan raksasa BHP mengonfirmasi bahwa harga batu bara untuk kebutuhan pembuat baja mencatatkan penguatan jika dibandingkan dengan level sepanjang 2025, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kombinasi antara tingginya permintaan impor dari India dan tersendatnya ketersediaan barang membuat persediaan batu bara kokas di jalur laut internasional kian terbatas.

India sendiri gencar menggenjot target kapasitas produksi bajanya hingga menyentuh angka 220 juta ton per tahun (Mtpa) pada tahun fiskal 2026, atau tumbuh 10% secara tahunan. Negara ini menargetkan pencapaian kapasitas sebesar 500 Mtpa pada 2047 yang sebagian besar bertumpu pada teknologi tanur tinggi (blast furnace).

Meskipun demikian, pengamat menilai beban biaya pembelian batu bara kokas bagi pabrikan baja India diproyeksikan bertahan tinggi hingga semester kedua 2026 akibat minimnya pengiriman dari China dan Australia.

Situasi dilematis melanda para produsen baja India karena harus menanggung mahalnya biaya bahan baku, sementara kenaikan harga jual produk terhambat persaingan ketat dengan baja murah asal China. Perkondisian ini berisiko menekan margin profitabilitas industri baja India secara berkelanjutan.

Reporter: Akbar