Euro Menjauh dari Level 184 koma 00 Yen Mesti Inflasi Jerman Panas
JAKARTA – Euro (EUR) memangkas kenaikan sebelumnya terhadap Yen Jepang (JPY) pada hari Rabu, terbebani oleh sentimen pasar risk-off yang ringan seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Para pembeli EUR/JPY gagal mendapatkan penerimaan di atas 184,00, meskipun data inflasi konsumen Jerman yang panas terlihat lebih awal pada hari ini, dan pasangan mata uang tersebut turun ke level terendah 1,8315 sebelum kembali ke area 183,50 pada saat berita ini ditulis.
Data dari Jerman yang dirilis lebih awal pada hari itu mengonfirmasi bahwa Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (Harmonised Index of Consumer Prices/HICP) bulan Juli meningkat ke laju tahun-ke-tahun (Y-o-Y) 2,8%, dari 2,4% pada bulan Juni, karena inflasi energi melonjak ke 7,3% dalam 12 bulan hingga Juli, dari 2,7% pada bulan Juni. Tidak termasuk makanan dan energi, inflasi juga meningkat, meski pada laju yang lebih moderat sebesar 2,6% Y-o-Y, dari angka 2,5% pada bulan Juni.
Angka-angka ini mengukuhkan harapan akan kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) pada bulan September, meskipun dampaknya terhadap Euro hanya terbatas.
Mata uang bersama ini kesulitan terhadap para pesaing utamanya pada hari Rabu karena laporan serangan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb telah menimbulkan keraguan lebih lanjut mengenai nasib proses perdamaian AS-Iran, sehingga menunda harapan pembukaan kembali Selat Hormuz secara cepat.
Yen, di sisi lain, memangkas kerugian secara keseluruhan pada hari Rabu, menyusul rilis Summary of Opinions dari Bank of Japan (BoJ) yang bernada hawkish pada awal pekan ini.
Para analis di DBS Group Research mencatat bahwa ada "alasan yang semakin besar bagi BoJ untuk mempercepat siklus pengetatannya," dengan menunjuk pada reflasi yang didorong oleh upah yang kuat dan CPI yang menguat sebagai dukungan utama bagi tindakan yang lebih awal, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Para ahli DBS menambahkan bahwa "normalisasi kebijakan yang lebih cepat mungkin juga diperlukan untuk mengatasi pelemahan JPY yang persisten," menegaskan bagaimana dinamika mata uang semakin memengaruhi perdebatan kebijakan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.