Pound Inggris Tetap Kuat di 1,3500 Menjelang Rilis Data Inflasi AS

Ilustrasi Pound Inggris (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:30:41 WIB

JAKARTA – Pound Inggris terpantau bergerak kokoh di kisaran 1,3500 saat berhadapan dengan Dolar AS.

Para pelaku pasar saat ini sedang menantikan rilis data IHK AS periode Juli serta laporan PDB Kuartal II Inggris.

Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan September mendatang kini telah sirna dari perkiraan pasar.

Sepanjang perdagangan sesi Asia pada hari Selasa, Pound Inggris (GBP) sanggup menjaga tren kenaikan tipis dua hari berturut-turut di level 1,3500 versus Dolar AS (USD). Pasangan mata uang GBP/USD bertahan tangguh lantaran performa Pound Inggris lebih unggul, meskipun pasar keuangan sudah menghapus peluang penyesuaian suku bunga oleh Bank of England (BoE) dalam waktu dekat.

Strategis dari Rabobank menggarisbawahi bahwa "untuk Inggris, pasar saat ini memperhitungkan ekspektasi yang lebih rendah terhadap kenaikan suku bunga pada akhir tahun, sebagaimana dilansir dari berita sumber"

Fokus utama bagi mata uang Inggris pada pekan ini tertuju pada rilis angka pendahuluan Produk Domestik Bruto (PDB) bulan Juni dan Kuartal II yang dijadwalkan terbit pada hari Kamis. Ekonomi Inggris diproyeksikan tumbuh moderat sebesar 0,4% pada triwulan April-Juni, melambat dari capaian periode sebelumnya di angka 0,6%. Adapun untuk basis bulanan, PDB diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 0,1%.

Pada saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY) cenderung bergerak menyamping di kisaran 99,80 setelah sempat merangkak naik pada hari Senin. Indeks USD diprediksi terus bergerak datar sembari menunggu pengumuman Indeks Harga Konsumen (IHK) AS bulan Juli pada hari Rabu.

Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman memproyeksikan laporan IHK AS periode Juli bakal mengindikasikan bahwa inflasi "menguat secara moderat tetapi berhenti sebelum memberi sinyal percepatan baru dalam inflasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber"

Elias Haddad turut mengungkapkan bahwa "IHK umum diprakirakan naik +0,1% m/m dibandingkan -0,4% pada bulan Juni dan melandai ke 3,4% y/y dibandingkan 3,5% pada bulan Juni, sebagaimana dilansir dari berita sumber" sedangkan "IHK inti diprakirakan naik +0,2% m/m dibandingkan 0,0% pada bulan Juni dan melandai ke 2,5% y/y dibandingkan 2,6% pada bulan Juni, sebagaimana dilansir dari berita sumber"

Rangkaian data yang akan dirilis pada hari Rabu tersebut diperkirakan oleh Haddad bakal mempertegas adanya penurunan bertahap pada tekanan harga mendasar, bukannya memicu kenaikan kembali.

Hasil data inflasi AS ini bakal memberikan pengaruh besar terhadap ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), mengingat pernyataan kebijakan moneter Juli mencerminkan kekhawatiran para pembuat kebijakan terkait risiko lonjakan inflasi.

Belakangan ini, para pelaku pasar telah menghapus peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed untuk pertemuan September menyusul rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS bulan Juli yang berada di bawah ekspektasi.

Berdasarkan grafik harian, GBP/USD bertengger di posisi 1,3500 dengan mempertahankan kecenderungan naik jangka pendek karena harganya bertahan di atas exponential moving average (EMA) 60 hari pada 1,3403 dan garis tren resistansi yang tertembus kini berfungsi sebagai area penopang di dekat 1,3456. Indikator Relative Strength Index (14) yang berada di level 61,1 menunjukkan dominasi pihak pembeli, sementara momentum pergerakan belum masuk ke area jenuh beli.

Pada sisi bawah, titik penopang terdekat berada pada batas garis tren terdahulu di sekitar 1,3456, disusul oleh EMA 60 hari pada 1,3403 yang diperkirakan mampu memicu dorongan beli baru jika terjadi koreksi lebih dalam. Selama pasangan GBP/USD mampu menjaga area penopang tersebut, pergerakan mata uang ini diproyeksikan tetap berpeluang menguat menuju ke atas level penutupan terakhir di 1,3509 pada sesi-sesi mendatang.

Reporter: Akbar