Inflasi Swiss Lemah, SNB Diperkirakan Tahan Suku Bunga
JAKARTA – Franc Swiss (CHF) melemah pada Jumat (7/8/2026) seiring meningkatnya permintaan terhadap Dolar AS (USD) sebagai aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasangan USD/CHF diperdagangkan di sekitar 0,8130 selama sesi Asia, melanjutkan kenaikan dua hari berturut-turut.
Stabilitas pasar terguncang oleh skeptisisme terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Tekanan geopolitik bertambah setelah laporan bahwa Arab Saudi berencana memperluas operasi militer terhadap Houthi yang bersekutu dengan Iran. Sementara itu, parlemen Iran tengah mengevaluasi proposal pembatasan kapal AS dan Israel, termasuk penalti kargo 20 persen bagi negara bermusuhan.
Kenaikan imbal hasil US Treasury dan pemulihan harga minyak mentah turut memicu kekhawatiran inflasi. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September turun menjadi 54,5 persen dari 63,4 persen pekan lalu. Pasar kini menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS Juli untuk menilai arah kebijakan moneter.
Dari sisi Swiss, inflasi yang mendingin menekan Franc. Brown Brothers Harriman menyoroti bahwa inflasi Swiss Juli hanya 0,4 persen secara tahunan, dengan inflasi inti 0,3 persen untuk bulan keempat berturut-turut. Elias Haddad, ahli strategi, menilai latar belakang inflasi lemah ini membuat Swiss National Bank (SNB) kemungkinan mempertahankan suku bunga di 0,00 persen.
Secara teknikal, USD/CHF bertahan di atas Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari di 0,8111 dan EMA 50 hari di 0,8056, menjaga bias bullish ringan. Resistance terdekat berada di 0,8207, sementara support lebih dalam terlihat di 0,7762. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di level 54 menunjukkan momentum netral hingga positif.