Rupiah Melemah ke Rp 18.027 per Dolar, Defisit Perdagangan Jadi Pemicu
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026). Rupiah ditutup di Rp 18.027 per US dolar, turun 30 poin atau 0,17 persen dari posisi sebelumnya Rp 17.997. Pelemahan ini membuat rupiah kembali menembus level psikologis Rp 18.000.
Faktor domestik menjadi penekan utama. Neraca perdagangan Juni 2026 mencatat defisit 450 juta US dolar, dengan defisit migas mencapai 3,49 miliar US dolar. Penyumbang terbesar berasal dari hasil minyak dan minyak mentah. Sementara itu, cadangan devisa akhir Juli 2026 turun ke 145 miliar US dolar dari posisi tertinggi Desember 2025 sebesar 156,5 miliar US dolar. Penurunan ini digunakan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik AS–Iran menambah tekanan. Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS, membuat pasar tetap waspada. Data ekonomi AS juga memperkuat dolar. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Juli naik dari 53,3 ke 55,6, melampaui perkiraan 54. Pasar kini menunggu rilis data JOLTS malam ini dan Nonfarm Payrolls (NFP) Jumat mendatang.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyoroti: “Sementara dari segi data ekonomi, Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) pada bulan Juli meningkat dari 53,3 menjadi 55,6, melampaui perkiraan 54. Laporan tersebut menunjukkan permintaan yang berkelanjutan, kejelasan tentang tarif, dan hilangnya gangguan pasokan terkait Perang Teluk, yang meningkatkan permintaan di pasar kerja” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kesimpulannya, rupiah melemah ke Rp 18.027 per US dolar, dengan defisit perdagangan dan penurunan cadangan devisa sebagai faktor domestik utama. Tekanan eksternal dari geopolitik AS–Iran dan data ekonomi AS menambah beban, sementara arah rupiah selanjutnya akan ditentukan oleh data ketenagakerjaan AS.