Stok Minyak AS Turun 7,2 Juta Barel, Harga WTI Bertahan

Ilustrasi Stok minyak mentah AS turun 7,2 juta barel di tengah permintaan musim panas yang tinggi. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 03 Agustus 2026 | 23:29:14 WIB

JAKARTA – Harga minyak dunia diperkirakan masih berpotensi naik pada Agustus 2026 seiring menyusutnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat di tengah tingginya permintaan musim panas.

Market Analyst Forex.com, Razan Hilal, menilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih mempertahankan tren bullish dengan bertahan di atas US dolar 80 per barel. “Fokus utama pasar saat ini adalah apakah ketegangan geopolitik dapat benar-benar mereda sehingga jalur pelayaran kembali aman, atau justru gangguan yang ada terus menopang harga minyak di level tinggi,” ujar Hilal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Hilal, persediaan minyak mentah AS turun sekitar 7,2 juta barel, mendekati level terendah tahun ini. Penurunan terjadi pada periode puncak konsumsi bahan bakar musim panas. Risiko keamanan di Selat Hormuz serta Bab el-Mandeb/Laut Merah juga masih membayangi pasokan energi global.

Secara teknikal, harga WTI bertahan di area support US dolar 77 per barel (Fibonacci retracement 61,8 persen dari kenaikan Juli). Selama harga di atas US dolar 81 per barel, tren kenaikan dinilai kuat. Jika menembus US dolar 86 per barel, peluang penguatan semakin besar dengan target US dolar 87,40 lalu US dolar 93,70 per barel. Jika level itu ditembus, harga berpotensi menuju US dolar 104 per barel.

Sebaliknya, tekanan jual muncul jika harga turun di bawah US dolar 80 per barel. Jika support US dolar 77 ditembus, harga berpotensi melemah ke kisaran US dolar 72–66,50 per barel. Penutupan mingguan di bawah US dolar 66,50 membuka peluang penurunan ke US dolar 55 per barel.

Selain geopolitik, pasar juga menunggu data ekonomi AS pekan ini, terutama Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat (7/8/2026). Jika pasar tenaga kerja tetap kuat, peluang suku bunga bertahan tinggi meningkat dan bisa menekan permintaan minyak. Sebaliknya, data lebih lemah dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan menjadi sentimen positif bagi komoditas energi.

Reporter: Ibtihal