JAKARTA – Mata uang rupiah berpeluang meneruskan tren penurunan pada sesi perdagangan penutup pekan ini yang dipicu gabungan dorongan sentimen global maupun domestik.
Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (30/7/2026), mata uang rupiah di pasar spot mengakhiri sesi dengan melemah 0,21% ke posisi Rp 18.111 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah justru mencatatkan kenaikan tipis 0,05% ke level Rp 18.078 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan regional bersama rupiah sama-sama tertekan oleh penguatan dolar AS yang didorong kecemasan terkait meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai tekanan negatif di pasar semakin berat akibat dinamika domestik setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Selain itu, arah pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh publikasi data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
"Rupiah pada Jumat (31/7/2026) akan dipengaruhi oleh hasil rilis data inflasi PCE dan PDB AS malam ini, dan tentunya investor masih akan terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah," kata Lukman, Kamis (30/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di saat bersamaan, adanya indikasi pengetatan kebijakan moneter dari bank sentral AS semakin memperkuat posisi dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia.
Guna perdagangan pada Jumat (31/7/2026), Lukman memprediksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 18.050 – Rp 18.150 per dolar AS.