JAKARTA – World Gold Council (WGC) mencatat adanya penambahan cadangan emas bersih sebesar 289 ton oleh bank sentral dan institusi lainnya pada kuartal II – 2026. Capaian tersebut melonjak 62% secara tahunan (yoy) seiring maraknya aksi pembelian di berbagai negara.
Kendati aksi beli menguat di kuartal II – 2026, Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di WGC, Shaokai Fan, mengungkapkan bahwa total permintaan emas sepanjang semester I – 2026 masih berada di bawah tingkat permintaan dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut dipengaruhi oleh lesunya transaksi pada kuartal pertama.
“Survei Cadangan Emas Bank Sentral dari WGC menunjukkan bahwa 45% responden berencana meningkatkan cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan, menegaskan bahwa emas tetap memegang peran penting dalam cadangan institusi resmi,” ujar Shaokai sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping itu, WGC mendata Bank Nasional Polandia (The National Bank of Poland) menjadi pembeli terbesar sepanjang kuartal II – 2026 dengan memboyong 51 ton emas. Penambahan ini mengerek total cadangan emas negara tersebut menjadi 632 ton pada akhir Juni.
Akumulasi transaksi Polandia pada semester pertama kini mencapai 82 ton, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pembeli dominan tahun ini. Pencapaian tersebut kian mendekatkan Polandia ke target cadangan sebesar 700 ton.
Sementara itu, The People’s Bank of China mengamankan tambahan 33 ton emas pada kuartal kedua, menjadi penambahan triwulanan tertinggi sejak kuartal IV – 2023 (44 ton). Dengan penambahan 40 ton sepanjang semester pertama, total kepemilikan PBoC yang dilaporkan mencapai 2.346 ton, yang menegaskan sifat strategis dari program emasnya.
Pembeli signifikan lainnya mencakup Bank Sentral Uzbekistan yang menambah 16 ton, Bank Nasional Kazakhstan 15 ton, serta Bank Sentral Yordania dan Bank Nasional Ceko masing-masing 6 ton. Transaksi dalam skala lebih kecil turut dicatatkan oleh Bank Ghana, Otoritas Moneter Singapura, Bank Sentral UEA, dan Bank Nasional Kirgistan.
Aksi penjualan emas oleh bank sentral justru melambat drastis pada kuartal kedua. Bank Sentral Turki mencatat penjualan moderat sebesar 4 ton, Bank Sentral Rusia menjadi penjual terbesar dengan pengurangan 22 ton, sementara Jerman melaporkan penurunan sebesar 1 ton.
WGC menilai para bank sentral masih berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan tahun yang kuat dalam pembelian emas. Peran emas sebagai alat diversifikasi, pelindung risiko geopolitik dan keuangan, serta penopang kinerja saat krisis terus teruji secara kokoh.
Kendati demikian, total permintaan emas secara tahunan pada 2026 diproyeksikan berakhir di bawah akumulasi tahun 2025 karena pemulihan di kuartal kedua belum sepenuhnya membalikkan penurunan permintaan di kuartal pertama. Meski penjualan taktis terkait kebutuhan likuiditas dapat terjadi, para pengelola cadangan tetap menempatkan emas sebagai instrumen diversifikasi jangka panjang.