JAKARTA – Konflik bersenjata di Ukraina dan Timur Tengah sejauh ini belum mengganggu pasokan makanan global secara masif. Namun, dampaknya terhadap ketahanan pangan dunia dapat memburuk jika berbarengan dengan cuaca ekstrem seperti El Niño.
Fenomena El Niño yang menguat di Samudra Pasifik berisiko memicu kekeringan serta banjir di berbagai kawasan pertanian vital.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) pada awal Juli 2026 memprediksi peluang sebesar 63% bahwa pola cuaca unik ini dapat menjadi "sangat kuat" pada tahun ini.
Lembaga keuangan JP Morgan minggu lalu memberi peringatan bahwa El Niño dan harga minyak sebesar $100 (sekitar Rp1,8 juta) berpotensi mendorong inflasi pangan naik hingga 1,5%.
Ancaman El Niño muncul ketika dua peperangan besar di Ukraina dan Timur Tengah masih berlangsung. Selama masa konflik tersebut, ketersediaan pangan dunia sejauh ini masih tergolong stabil.
Kombinasi ketiga krisis tersebut dikhawatirkan dapat memicu gangguan besar pada keseimbangan pasokan pangan.
Perang Rusia di Ukraina terus membayangi wilayah pengekspor biji-bijian utama, dengan serangan berulang pada pelabuhan serta lahan pertanian.
Konflik di Iran memicu kenaikan harga energi dan pupuk sehingga mendongkrak biaya produksi pangan dunia dan mengganggu pasokan nutrisi tanah.
El Niño yang mengubah pola cuaca dan suhu global diprediksi sangat kuat, bahkan Bank Dunia memperingatkan potensi penurunan produksi beras 20% hingga 50% di kawasan terdampak.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, memperingatkan adanya efek gabungan yang berisiko menciptakan situasi yang sangat rumit pada akhir tahun ini.
"Kami sangat prihatin dengan El Niño dan keterlambatan musim hujan ... di India," kata Torero sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dampak El Niño diperkirakan memperlemah musim hujan di India yang penting bagi masa tanam padi, di mana curah hujan Juni 2026 tercatat turun sekitar 40% dari rata-rata normal.
India menyumbang hampir sepertiga dari total produksi beras dunia yang mayoritas dikonsumsi secara domestik.
Selain Asia Selatan, FAO menilai risiko terberat El Niño berada di Sahel Afrika, Afrika Selatan, Asia Tenggara, serta Koridor Kering Amerika Tengah.
Badan Pangan PBB pada Juli 2026 memperingatkan bahwa beberapa area tersebut menghadapi risiko kekeringan di atas 50% dalam beberapa bulan mendatang.
Indeks harga FAO menunjukkan harga pangan tetap berada hampir 20% di bawah rekor tertinggi tahun 2022 meskipun ada ketegangan geopolitik.
Dunia mencatatkan hasil panen biji-bijian terbesar sepanjang sejarah pada tahun 2025 berkat perluasan lahan tanam, cuaca mendukung, dan peningkatan hasil per hektare.
Hasil panen tahun ini diproyeksikan menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah meskipun sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Peneliti senior SIPRI, Simone Bunse, menyatakan adanya peningkatan produktivitas pertanian dengan mencontohkan India dan Amerika Latin.
"Hal ini telah membantu mempertahankan produksi pangan dan mengurangi kekurangan gizi. Kemudian hal itu menyeimbangkan sebagian dampak lokal dari konflik," kata Bunse sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Peperangan menjadi perintang terbesar dalam upaya pemberantasan kelaparan global. PBB mencatat 266 juta orang mengalami kelaparan akut, dengan mayoritas dipicu oleh konflik.
Kondisi paling parah dialami negara-negara konflik seperti Republik Demokratik Kongo, Sudan, dan Yaman akibat terhambatnya pengiriman bantuan.
"Kami memiliki cukup kalori yang diproduksi di dunia untuk memberi makan semua orang," kata Torero sebagaimana dilansir dari berita sumber.
"Kalori-kalori tersebut tidak didistribusikan secara merata di seluruh dunia dan itulah tantangannya," kata Torero sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Konflik sering kali merusak sumber pangan lokal, memaksa warga mengungsi, menghancurkan infrastruktur, serta membatasi akses bantuan kemanusiaan. Kelaparan bahkan sengaja dijadikan senjata di wilayah rawan seperti Sudan dan Gaza.
"Para pihak dengan sengaja menghancurkan lahan pertanian, ternak, sistem air, fasilitas penyimpanan pangan, dan jalur transportasi. Mereka mengancam akses ke pasar dan menghalangi bantuan kemanusiaan," kata Bunse sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pupuk menjadi risiko lain bagi pasokan pangan dunia, di mana sepertiga jalurnya melewati Selat Hormuz yang terganggu pasca-kegagalan gencatan senjata AS-Iran serta serangan di Laut Merah.
Kondisi ini memaksa sejumlah petani membayar pupuk lebih mahal, menunda pembelian, atau beralih ke tanaman yang minim pupuk. Pengurangan penggunaan pupuk berisiko menurunkan hasil panen pada musim berikutnya.
Para ahli meyakini konflik Timur Tengah saja dapat menambah jutaan jiwa mengalami kelaparan pada 2030, belum termasuk perhitungan dampak El Niño.
Suhu Samudra Pasifik diperkirakan naik 3,6 derajat Celcius atau dua kali lipat El Niño 2015/2016, sehingga Berkeley Earth memprediksi pola cuaca 2026 menjadi yang terkuat dalam sejarah.
Lonjakan kelaparan dapat terjadi jika harga minyak melampaui $120 (sekitar Rp2,1 juta) per barel, ekspor biji-bijian Ukraina terhambat, atau dampak El Niño semakin parah.
Jika seluruh faktor tersebut terjadi bersamaan, dampaknya akan sangat merusak. JP Morgan memproyeksikan inflasi pangan melampaui 5% pada 2027 dengan pasar negara berkembang sebagai korban terparah.