Minyak Dunia Melemah, ESDM Evaluasi Harga Pertamax Bulan Depan
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menghitung harga keekonomian BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, seiring fluktuasi harga minyak dunia yang belakangan cenderung menurun.
Harga kontrak berjangka minyak Brent ditutup turun 11,3 persen ke 85,87 US dolar per barel pada penutupan perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun 7 persen ke 82,61 US dolar per barel.
Pada Selasa, 28 Juli 2026, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September berada di kisaran 86,97 US dolar per barel, sedangkan WTI untuk pengiriman Juni di level 82,09 US dolar per barel. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan April 2026 yang sempat menyentuh 112 US dolar per barel.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar. “Jadi nanti akan dihitung BPP Pertamina plus keuntungan. Kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomiannya bagaimana,” kata Yuliot, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia memastikan bahwa jika harga minyak global turun, maka terdapat potensi harga BBM nonsubsidi di dalam negeri ikut turun.
“Termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” tutur Yuliot, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Harga Pertamax pada Juli 2026 berada di level Rp16.250 per liter, sama dengan bulan sebelumnya, namun masih lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang berada di Rp12.300 per liter.