Harga Minyak Dunia Turun 4 Persen di Tengah Perang AS dan Iran

Ilustrasi Minyak Dunia (sumber foto : NET)
Penulis: Akbar
Sabtu, 25 Juli 2026 | 22:04:53 WIB

JAKARTA – Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat 24 Juli 2026 menyusul laporan mengenai upaya Pakistan yang mendorong dimulainya kembali negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan laporan CNBC pada Sabtu (25/7/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional merosot hampir 4% hingga menyentuh US$ 96,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami penurunan 3% ke tingkat US$ 89,31 per barel.

Tiga sumber anonim mengungkapkan bahwa inisiatif Pakistan untuk mendamaikan AS dan Iran tersebut memperoleh dukungan dari China.

"China merasa tidak senang karena serangan Iran terhadap negara-negara Teluk lainnya serta penutupan Selat Hormuz telah merugikan kepentingan mereka," kata seorang pejabat pemerintah Pakistan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun merosot pada sesi penutupan perdagangan pekan ini, harga minyak tetap mencatatkan lonjakan yang signifikan secara mingguan. Minyak mentah AS tercatat menguat sekitar 8%, sedangkan jenis Brent melambung hampir 10% akibat meningkatnya eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Di samping itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pelaksanaan serangan malam ke-13 secara berturut-turut yang menyasar sejumlah target di wilayah Iran.

Operasi militer tersebut menargetkan pusat komando, tempat penyimpanan drone, jaringan komunikasi, titik pengawasan pesisir, serta kemampuan pertahanan maritim Iran.

CENTCOM menjelaskan bahwa tindakan ini diambil guna menekan potensi ancaman Iran terhadap navigasi pelayaran internasional di Selat Hormuz.

"Serangan ini bertujuan semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap para pelaut sipil dan kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pihak militer AS turut menegaskan bahwa rute pelayaran internasional tersebut saat ini masih beroperasi secara normal.

"Jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka untuk dilalui meskipun baru-baru ini terjadi serangan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Kapal-kapal niaga masih dapat melintasi selat tersebut dengan aman berkat dukungan militer Amerika Serikat," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

CENTCOM memaparkan bahwa ada lebih dari 50.000 personel militer AS yang disiagakan di kawasan Timur Tengah saat ini.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan penyerangan berskala masif ke Iran seiring meluasnya konflik hingga ke wilayah Laut Merah.

Trump mengindikasikan bahwa rencana operasi militer tersebut akan berskala jauh lebih besar dibandingkan dengan gempuran-gempuran terdahulu.

"Saya sedang mempertimbangkan serangan besar. Lebih besar daripada yang pernah dilakukan sebelumnya. Saya sudah hampir mengambil keputusan. Semuanya sudah siap," kata Trump sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pernyataan tersebut dilontarkan usai kelompok Houthi yang disokong Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah.

Trump turut memberikan peringatan keras bahwa Iran harus bertanggung jawab apabila kelompok Houthi kembali melancarkan aksi penyerangan.

"Jika mereka melakukan ini lagi, Amerika Serikat akan meminta Iran bertanggung jawab karena Houthi merupakan kelompok yang didukung dan menjadi proksi Iran. Hukuman militer yang besar akan dijatuhkan kepada Iran dan tentu saja kepada Houthi sendiri," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, media resmi pemerintah Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Iran telah menggempur fasilitas militer AS yang bertempat di sebuah pangkalan Amerika di Yordania.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengistilahkan pendekatan yang dipakai Trump dalam menghadapi perselisihan dengan Iran sebagai strategi "kepala dibalas kepala" (a head for an eye).

Pada saat yang sama, Analis Senior Pasar Capital.com Daniela Hathorn menilai bahwa tingginya ketidakstabilan pada jalur perairan utama telah memunculkan kembali premi risiko geopolitik yang besar di pasar minyak.

"Sentimen investor melemah akibat gangguan yang terus berlanjut di Laut Merah, di mana serangan terhadap kapal-kapal niaga semakin memperbesar kekhawatiran terhadap perdagangan global dan keamanan pasokan energi," kata Hathorn sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa eskalasi di area Selat Hormuz semakin memperkuat dugaan bahwa ancaman geopolitik sulit untuk mereda dalam waktu dekat.

"Jika dikombinasikan dengan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, perkembangan ini memperkuat pandangan bahwa risiko geopolitik kecil kemungkinan akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pasar energi tetap ketat dan meningkatkan risiko inflasi," ujar Hathorn sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar