Balada FILM, Sempat Rp14.750 Kini Terkoreksi 92 Persen

Ilustrasi Harga saham FILM sempat mencapai Rp14.750 pada Desember 2025 dan kini turun ke Rp1.085.(sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 24 Juli 2026 | 10:48:57 WIB

JAKARTA - Dalam waktu kurang dari tujuh bulan, perjalanan saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) berbalik arah tajam. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di Rp14.750 per saham pada intraday 30 Desember 2025, harga saham kini terkoreksi lebih dari 92 persen.

Berdasarkan data BEI, hingga jeda perdagangan sesi I Jumat (24/7/2026), saham FILM berada di Rp1.085 per unit. Tekanan terjadi seiring meningkatnya perhatian regulator terhadap struktur kepemilikan saham perseroan, selain penurunan pasar secara umum di tengah isu domestik dan makroglobal.

Pada 14 Juli 2026, BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menerbitkan pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) yang menyatakan bahwa per 30 Juni 2026, sebanyak 92,98 persen saham FILM dikuasai oleh sejumlah pemegang saham terbatas secara agregat. Dalam pengumuman ditegaskan bahwa tingginya konsentrasi kepemilikan tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan pasar modal, namun menjadi informasi penting bagi investor karena dapat memengaruhi likuiditas perdagangan saham.

Di sisi fundamental, MD Entertainment menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dalam Paparan Publik Juni 2026, perseroan melaporkan pendapatan tahun buku 2025 naik menjadi Rp496,4 miliar dari Rp455,9 miliar pada 2024. Kenaikan ditopang pertumbuhan bisnis digital dan kontribusi MDTV, meski pendapatan bioskop masih melemah.

Pada kuartal I-2026, pendapatan meningkat 23 persen YoY menjadi Rp150,7 miliar, sementara laba bersih berbalik positif Rp9 miliar dari rugi Rp20,3 miliar tahun sebelumnya. EBITDA melonjak menjadi Rp51,6 miliar dari Rp15 miliar.

Manajemen menilai prospek industri perfilman nasional masih menarik. Dalam paparannya, MD Entertainment mencatat jumlah penonton film Indonesia pada 2025 mencapai 80,3 juta dengan pangsa pasar film nasional 63 persen, serta peluang menuju 100 juta penonton dalam beberapa tahun mendatang.

Perseroan mengandalkan empat strategi utama untuk mendorong pertumbuhan pada 2026: memperkuat produksi konten berkualitas, mempercepat monetisasi digital dan OTT, melakukan turnaround pada MDTV, serta menjaga fleksibilitas neraca guna mendukung investasi konten baru.

Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informasi umum mengenai pergerakan saham dan kinerja emiten, bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Reporter: Ibtihal