Harga Litium Turun ke Level Terendah Lima Bulan Akibat Ancaman Surplus
BEIJING – Kekhawatiran pasar atas surplus pasokan pada 2027 akibat dibukanya kembali beberapa tambang membuat harga berjangka litium di China merosot ke titik terendah dalam lima bulan terakhir pada Selasa (21/7). Penurunan ini terjadi di tengah kuatnya permintaan dari industri penyimpanan energi serta kendaraan listrik.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, kontrak litium karbonat paling aktif di Guangzhou Futures Exchange sempat turun ke 136.800 yuan (US$20.210) per ton, level terendah sejak 10 Februari.
Selanjutnya, kontrak tersebut memangkas sebagian kerugian dan ditutup pada posisi 144.000 yuan per ton, atau melemah 4,95% pada hari itu.
Melemahkannya harga berlanjut pada Rabu dengan penurunan 0,7% ke tingkat 143.000 yuan per ton.
Kondisi tersebut membuat harga litium terkoreksi mendekati 30% dari rekor puncak dua tahun di atas 200.000 yuan per ton pada pertengahan Mei.
Meskipun demikian, nominal tersebut masih dua kali lipat lebih tinggi dari tahun lalu dan naik sekitar 22% sepanjang 2026.
Terkoreksinya harga ini berlangsung saat China tengah mengupayakan Guangzhou Futures Exchange sebagai acuan harga litium secara global.
Bursa tersebut pada bulan ini telah mengizinkan investor luar negeri bertransaksi kontrak litium karbonat dan berencana merilis kontrak berjangka litium hidroksida tahun ini.
Di sisi lain, Amerika Serikat turut mengambil langkah memperkuat cadangan strategis litium milik mereka.
Defense Logistics Agency (DLA) pada awal bulan ini mengajukan permintaan penawaran harga tetap untuk membeli sekitar 16.000 ton litium karbonat kualitas baterai selama lima tahun senilai hingga US$300 juta demi cadangan pertahanan nasional.
Biarpun volumenya terbilang kecil jika dibandingkan dengan konsumsi global, kebijakan ini menjadi momen perdana pemerintah AS bertindak sebagai pembeli langsung litium di era baterai kendaraan listrik.
Sementara itu, pasokan yang kembali mengalir dari sejumlah produsen besar turut menambah tekanan pada harga.
CATL telah mengoperasikan kembali tambang Jianxiawo pada akhir Juni usai mengantongi izin keselamatan baru, yang mengembalikan kapasitas sekitar 46.000 ton per tahun atau setara 3% produksi dunia.
Produsen dari Australia juga mulai mendongkrak volume produksi mereka. Mineral Resources mengaktifkan lagi tambang Bald Hill, Core Lithium memfungsikan kembali proyek Finniss, dan usaha patungan Mt Marion menyetujui ekspansi senilai A$490 juta.
Para analis memprediksi tambahan kapasitas ini bakal melonjakkan pasokan litium sepanjang 2027, setelah pada dua tahun sebelumnya produksi sempat ditahan akibat rendahnya harga.
Di tengah lonjakan pasokan, tingkat permintaan terhadap litium masih tergolong tinggi. Produksi baterai penyimpanan energi dan kendaraan listrik di China menyentuh angka 191,7 gigawatt-jam (GWh) pada Mei, naik lebih dari 55% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, pemerintah China bakal memberlakukan pajak konsumsi sebesar 2% untuk produk baterai, termasuk baterai lithium-ion dan litium primer, terhitung mulai 1 September.
Besaran tarif pajak tersebut direncanakan naik menjadi 4% pada satu tahun berikutnya.
Seiring melorotnya harga litium, pergerakan saham perusahaan tambang turut berada di bawah tekanan.
Selama sebulan terakhir, saham Liontown Resources terkikis 36%, PLS turun 26%, Mineral Resources merosot 21%, Core Lithium melemah 20%, dan Ganfeng Lithium anjlok 36% di Bursa Hong Kong.