Industri Semen RI Hadapi Oversupply dan Biaya Energi Tinggi pada 2026

Ilustrasi industri semen (sumber foto : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 22 Juli 2026 | 05:40:08 WIB

JAKARTA – Sektor semen nasional masih dibayangi tantangan struktural berupa kelebihan kapasitas produksi, ketatnya persaingan harga, hingga melambungnya biaya energi. Kondisi tersebut memengaruhi kinerja industri pada semester II/2026.

Walaupun penjualan semen mulai tumbuh dua digit pada paruh pertama tahun ini, pelaku industri menilai kenaikan tersebut belum cukup memulihkan fundamental sektor yang terbeban rendahnya tingkat utilisasi pabrik.

Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo menyampaikan, kendala utama industri saat ini masih bersumber dari kapasitas produksi yang jauh melampaui kebutuhan pasar.

Saat ini kapasitas produksi semen nasional menyentuh sekitar 120 juta ton per tahun, sementara utilisasi industri pada 2025 diperkirakan cuma sekitar 54%.

Meski permintaan diproyeksikan meningkat pada 2026, tingkat utilisasi diperkirakan hanya naik menjadi sekitar 56%.

"Artinya, kesenjangan antara kapasitas produksi dan permintaan nasional masih cukup besar," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melihat kondisi tersebut, pertumbuhan penjualan semester I/2026 belum cukup mengubah fundamental industri secara keseluruhan.

Sebab, tingkat utilisasi masih berada jauh di bawah rentang ideal yakni 80%-85%.

Di samping itu, industri masih menanggung tekanan akibat persaingan harga yang ketat serta kenaikan biaya energi dan logistik.

Kapasitas berlebih membuat produsen sulit menaikkan harga, sementara biaya energi, listrik, bahan baku, distribusi, dan logistik terus menekan efisiensi industri.

Dari sisi permintaan, pemulihan sektor properti dan semen kantong masih perlu dicermati karena pertumbuhan volume belum tentu mencerminkan penguatan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Oleh sebab itu, ASPERSSI meminta pemerintah mengendalikan penambahan kapasitas baru, mempercepat realisasi belanja infrastruktur, memastikan pasokan energi dengan harga kompetitif, serta memperluas penggunaan semen rendah karbon pada proyek pemerintah.

Data terbaru Indo Premier Sekuritas menunjukkan volume penjualan semen nasional pada Juni 2026 mencapai 5,68 juta ton, naik 13% secara tahunan (YoY) dan meningkat 4% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM).

Secara akumulatif, penjualan sepanjang semester I/2026 menyentuh 30,71 juta ton atau menguat 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut didorong lonjakan penjualan semen curah sebesar 20% YoY dan 7% MoM, sedangkan penjualan semen kantong tumbuh 11% YoY dan 3% MoM.

Namun, peningkatan permintaan pada Juni juga dipengaruhi rendahnya basis perbandingan pada periode yang sama tahun lalu ketika volume industri turun sekitar 6%, selain karena meningkatnya aktivitas pembangunan di berbagai daerah.

"Namun, kenaikan ini perlu dibaca secara hati-hati karena sebagian dipengaruhi low-base effect dari semester I 2025," sebut Lilik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa jika dibandingkan semester I/2024, pertumbuhan penjualan hanya sekitar 7,8%, sedangkan jika dibandingkan semester I/2022 hanya sekitar 4,2%.

Adapun peningkatan permintaan sejauh ini terutama ditopang percepatan belanja pemerintah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan di daerah, serta pemulihan sektor konstruksi.

Sementara itu, kontribusi sektor properti dan daya beli masyarakat masih perlu terus dicermati.

Memasuki semester II/2026, ASPERSSI memperkirakan industri ini masih memilik peluang tumbuh, meski lajunya diprediksi tidak setinggi semester pertama.

Permintaan diperkirakan akan disokong proyek pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan infrastruktur regional, kawasan industri, sektor pertambangan, serta pembangunan dan renovasi rumah masyarakat.

"Semen curah akan lebih dipengaruhi realisasi proyek infrastruktur dan konstruksi besar, sedangkan semen kantong bergantung pada pembangunan rumah, proyek skala kecil-menengah, serta renovasi masyarakat sepanjang daya beli tetap terjaga," jelas Lilik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyampaikan bahwa aktivitas konstruksi secara musiman memang cenderung meningkat menjelang akhir tahun.

Akan tetapi, momentum tersebut tidak akan otomatis mendorong konsumsi semen apabila proyek-proyek pemerintah mengalami keterlambatan.

"Untuk semester II, prospeknya memang cenderung lebih baik karena secara musiman aktivitas konstruksi biasanya meningkat menjelang akhir tahun. Namun kali ini perbaikannya sangat bergantung pada kecepatan realisasi belanja pemerintah," kata Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, infrastruktur dan proyek fisik bakal menjadi pendorong utama permintaan semen hingga penutupan tahun.

Sebaliknya, sektor properti diperkirakan masih belum sanggup menjadi motor pertumbuhan akibat tingginya biaya pembiayaan dari kenaikan suku bunga.

Yusuf melanjutkan bahwa apabila penyerapan anggaran berjalan sesuai rencana, permintaan semen masih dapat tumbuh.

Namun, jika proyek pemerintah mengalami penundaan, momentum pertumbuhan tersebut juga akan melemah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur permintaan industri semen masih belum seimbang.

Hingga saat ini, konsumsi semen masih sangat bergantung pada proyek pemerintah dan proyek strategis nasional, sedangkan pasar ritel belum cukup kuat menopang pertumbuhan secara berkelanjutan.

Ia menambahkan, permintaan semen sangat sensitif terhadap waktu pelaksanaan proyek.

Besarnya anggaran tidak otomatis meningkatkan konsumsi jika realisasi fisik di lapangan tertunda.

“Sementara itu, sektor properti belum mampu menjadi penyeimbang karena permintaannya masih tertahan oleh suku bunga yang relatif tinggi,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar