Harga CPO Melemah Terseret Kejatuhan Minyak Nabati Pesaing dan Minyak Mentah

Ilustrasi minyak sawit (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 21 Juli 2026 | 00:26:26 WIB

JAKARTA – Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia mengalami penurunan pada hari Selasa akibat terseret melemahnya harga minyak nabati pesaing di Dalian serta tertekan kejatuhan harga minyak mentah dunia.

Kontrak acuan CPO pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange terkoreksi 40 ringgit atau 0,86 persen menjadi 4.603 ringgit (USD1.126,81) per ton metrik pada jeda siang sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Seorang pedagang di Kuala Lumpur menyebutkan bahwa pelemahan harga sawit sudah berlangsung sejak awal sesi mengikuti penurunan minyak nabati pesaing di Asia. Walau demikian, harga kontrak acuan masih mampu bertahan di atas level psikologis 4.600 ringgit per ton setelah bergerak dalam rentang yang sempit.

Tekanan terhadap harga sawit turut bersumber dari pasar China, tempat kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian melemah 0,45 persen dan minyak sawitnya turun 0,79 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade, Amerika Serikat, terkoreksi tipis sebesar 0,07 persen.

Arah pergerakan harga sawit umumnya selaras dengan minyak pesaing lain karena saling berebut pangsa di pasar minyak nabati (vegetable oil) dunia.

Di saat bersamaan, harga minyak mentah ikut merosot seiring langkah pasar memantau upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran di tengah konflik yang masih berlangsung. Sentimen pasar juga terpengaruh oleh ancaman kelompok Houthi Yaman yang berniat melakukan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Penurunan harga minyak mentah menjadikan sawit kurang bernilai secara ekonomis untuk digunakan sebagai bahan baku biodiesel.

Mengenai kinerja perdagangan, data pengiriman minyak sawit Malaysia mencatatkan tren yang bervariasi. AmSpec Agri Malaysia mencatat ekspor periode 1-20 Juli turun 0,9 persen dibandingkan bulan lalu, sedangkan Intertek Testing Services melaporkan kenaikan ekspor sebesar 4,1 persen pada rentang waktu yang sama.

Pelaku industri juga terus memantau proyeksi output sawit Malaysia untuk jangka panjang. Departemen Meteorologi Malaysia memprediksi lonjakan suhu tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2027 akibat menguatnya fenomena El Nino, yang berpotensi memangkas produksi akibat cuaca panas ekstrem.

Berdasarkan analisis teknikal, analis Reuters Wang Tao memproyeksikan harga CPO berpeluang melanjutkan penurunan ke kisaran 4.580 hingga 4.600 ringgit per ton. Perkiraan ini muncul setelah harga gagal menembus titik resistance 4.665 ringgit per ton, yang mengindikasikan terbatasnya potensi penguatan jangka pendek.

Reporter: Akbar